Beranda Sejarah Para Penganut Tauhid di Mekah Sebelum Nabi Muhammad SAW

Para Penganut Tauhid di Mekah Sebelum Nabi Muhammad SAW

Harakah.idZaid bin Amr sudah mengembangkan keyakinan radikal tentang tauhid. Ia menolak bentuk pengagungan berhala yang dipraktikkan orang-orang Quraisy. Ia mencelanya.

Mekah pada abad ketujuh Masehi merupakan tempat yang cukup dikenal oleh bangsa Arab. Mekah menjadi sebuah pusat spiritualitas. Ada beragam spiritualitas yang berkembang. Diyakini, paganisme merupakan model spiritualitas yang populer yang di Mekah. Tetapi, ada sebagian anggota masyarakat Mekah yang mengembangkan spiritualitas berbeda. Mereka menolak keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik paganisme.

Para penolak paganisme ini percaya bahwa suku Quraisy, yang menjadi penguasa Mekah, telah menyimpang dari ajaran leluhur mereka. Mereka yakin bahwa sejatinya, para leluhur mereka yang terhubung dengan Ibrahim dan Isma’il, adalah orang-orang yang menolak praktik penyembahan berhala. Menjelang kedatangan Nabi Muhammad, tidak banyak orang yang mengembangkan keyakinan ini.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan,

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم لقي زيد بن عمرو بن نفيل بأسفل بلدح قبل أن ينزل على النبي صلى الله عليه وسلم الوحي فقدمت إلى النبي صلى الله عليه وسلم سفرة فأبى أن يأكل منها ثم قال زيد إني لست آكل مما تذبحون على أنصابكم ولا آكل إلا ما ذكر اسم الله عليه وأن زيد بن عمرو كان يعيب على قريش ذبائحهم ويقول الشاة خلقها الله وأنزل لها من السماء الماء وأنبت لها من الأرض ثم تذبحونها على غير اسم الله إنكارا لذلك وإعظاما له

Dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi SAW bertemu Zaid bin Amr bin Nufail di lembah Baldah sebelum beliau menerima wahyu. Lalu, disajikan kepada Nabi sebuah nampan berisi daging. Beliau enggan memakannya. Kemudian Zaid berkata, “Sungguh, aku tidak makan dari daging yang yang kalian sembelih di atas Nashab (batu tempat menyembelih tumbal untuk berhala), dan aku tidak akan makan kecuali daging yang disebut nama Allah atasnya.” Zaid bin Amr mencela kaum Quraisy karena praktik tumbal mereka. Dia mengatakan, “Kambing itu diciptakan oleh Allah. Allah menurunkan air dari langit. Menumbuhkan tanaman untuk kambing itu dari tanah. Kemudian kalian menyembelihnya di atas nama selain Allah sebagai bentuk pengingkaran kepada Allah dan pengagungan pada selain Allah (HR. Al-Bukhari).

Kata-kata Zaid bin Amr bin Nufail di atas merupakan rekaman peristiwa yang terjadi sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi seorang nabi. Zaid bin Amr sudah mengembangkan keyakinan radikal tentang tauhid. Ia menolak bentuk pengagungan berhala yang dipraktikkan orang-orang Quraisy. Ia mencelanya.

Di sini, Zaid bin Amr mengembangkan keyakinan yang berbeda dari keyakinan yang dominan pada zamannya. Ia meyakini hanya Allah yang menciptakan alam semesta dan hanya Dia yang berhak disembah dan diagungkan. “Allah menciptakan kambing”, “Allah menurunkan hujan”, “Allah menumbuhkan tanaman” merupakan contoh sebagian ungkapan Zaid yang bernuansa tauhid. Selain memiliki keyakinan tauhid, Zaid bin Amr juga menolak praktik-praktik paganisme orang-orang Quraisy. Zaid bin Amr mengkritik dengan kata-katanya, “Kalian menyembelih kambing di atas nama selain Allah”. Penyembelihan untuk berhala, diyakini oleh Zaid bin Amr sebagai bagian dari perbuatan yang bertentangan dengan keyakinannya. Ia meyakini bahwa apa yang dia pikirkan dan yakini adalah berasal dari tradisi Ibrahim yang telah ditinggalkan oleh orang-orang Quraisy.

Zaid bin Amr bin Nufail merupakan potret penganut tradisi Hanifiyyah yang berasal dari Mekah sebelum diutusnya Nabi Muhammad. Suatu tradisi keberagamaan yang menolak praktik penyembahan berhala. Para penganutnya yakin bahwa penyembahan berhala adalah praktik yang salah dan tidak diajarkan oleh leluhur mereka yang terhubung dengan agama Ibrahim. Beberapa praktik Hanifiyah di Mekah adalah berkhitan dan berhaji ke Ka’bah, meyakini agama Ibrahim, menjauhi berhala, mandi junub, menolak daging yang dipersembahkan kepada berhala, menolak minum khamr dan dan senang merenungi, memikirkan serta merefleksi segala sesuatu. Dalam buku Al-Ahnaf Dirasah Fi Al-Fikri Al-Dini Al-Tauhidi Fi Al-Manthiqah Al-‘Arabiyyah Qabla Al-Islam (1998), Imad Al-Shabbagh menyimpulkan bahwa para penganut Hanifiyyah di Mekah umumnya dari golongan kelas menengah atas (hlm. 31).

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar perjalanan Zaid bin Amr yang berusaha mematangkan keyakinan Hanifiyyahnya dengan melakukan perjalanan ke Syam di Arab Utara untuk mempelajari agama Hanifiyyah dari pemuka agama Yahudi dan Nasrani. Dalam riwayat Al-Bukhari, dikisahkan bahwa kedua pemuka agama yang didatanginya tidak menyarankan Zaid bin Amr memeluk Yahudi dan Nasrani. Keduanya justru menyarankan Zaid agar berpegang kepada agama Hanifiyyah, yaitu agama Ibrahim. Tidak ada detail lain yang ditampilkan riwayat Al-Bukhari tentang perjalanan hidup belajar Zaid bin Amr. Tetapi, ia merupakan pengikut Hanifiyyah yang cukup banyak direkam perjalanan hidup dan sikapnya dalam kitab-kitab hadis. Sikap dan keyakinannya mendapat pujian dari Nabi Muhammad SAW. Sekalipun tidak bertemu dengan Nabi Muhammad SAW saat menjadi nabi, ia sangat mendambakan kedatangan nabi dari bangsa Arab keturunan Isma’il. Ia berpesan kepada puteranya, Said bin Zaid agar jika nabi itu datang, sang anak harus menjadi bagian dari pengikutnya. Dan benar saja, Said bin Zaid adalah orang yang pertama masuk Islam dan golongan dari sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...