Beranda Gerakan Para Ulama dan Habaib yang Berseberangan dengan Habib Rizieq

Para Ulama dan Habaib yang Berseberangan dengan Habib Rizieq

Harakah.id Gerakan Habib Rizieq dan FPI-nya mendapat sorotan sejak lama. Para pemimpin Muslim di Indonesia tercatat pernah berseberangan dengannya. Inilah para ulama dan habaib yang berseberangan dengan Habib Rizieq.

Habib Rizieq Syihab harus diakui sebagai pemain besar dalam dinamika sosial-politik-keagamaan Indonesia kontemporer. Pengaruhnya bisa disebut lintas gerakan Islam. Basis awal pendukung Habib Rizieq dan FPI-nya adalah kelompok tradisionalis ultra-konservatif. Tetapi, semenjak isu penistaan oleh Gubernur Jakarta pada 2016, Habib Rizieq dan FPI berhasil menarik dukungan kelompok modernis Muslim. Puncaknya adalah terbentuknya Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U) dan PA 212 yang memainkan peran penting dalam momentum Pemilihan Presiden 2019.

Para Pengkritik Non-Hadrami

Posisi strategis Habib Rizieq ini dalam dinamika gerakan Islam tidak selalu mendapat dukungan. Meskipun Habib Rizieq memiliki dukungan yang cukup besar di tingkat sebagian akar rumput, terdapat banyak penentangan terhadap dirinya dan organisasinya dari berbagai segmen masyarakat Indonesia yang lebih luas.

Dalam penelitian Chaider S. Bamualim berjudul Islamic Militancy and Resentment Against Hadhramis in Post-Suharto Indonesia: A Case Study of Habib Rizieq Syihab and His Islamic Defenders Front (Milintansi Islam dan Kebencian terhadap Kaum Hadrami di Indonesia Pasca Soeharto: Studi Kasus Habib Rizieq Syihab dan Front Pembela Islamnya) yang diterbitkan dalam jurnal Comparative Studies of South Asia, Africa and the Middle Easti, 2011, Duke University Press, disebutkan tentang kritik dan penolakan terhadap Habib Rizieq dan FPI-nya serta kekhawatiran munculnya aksi anti-Arab dari kalangan masyarakat Indonesia sebagai dampak aksi Habib Rizieq dan FPI.  Munculnya kritik terhadap FPI, terutama setelah FPI melakukan aksi kekerasan di Monas terhadap kelompok pendukung kebebasan beragama yang dipimpin oleh Gus Dur. Pasca kejadian penyerangan tersebut, berbagai kelompok mulai secara tegas mengkritik Habib Rizieq dan FPI.

nucare-qurban

Bamuallim mencatat bahwa para pengkritik itu berasal dari kalangan, termasuk aparat kepolisian, politisi, moderat Muslim, dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM). Mereka berada dalam satu barisan mencela Habib Rizieq dan FPI. Habib Rizieq dan FPI-nya yang militan serta tak segan menggunakan kekerasan terhadap lawan-lawannya.

Dalam penelitian yang ditujukan untuk memotret fenomena kebencian terhadap Arab di Indonesia ini, Bamuallim mencatat sejumlah tokoh yang mengkritik secara terbuka Habib Rizieq dengan FPI-nya di antaranya: Syafi’i Maarif, mantan ketua umum Muhammadiyah, Goenawan Muhammad, pemikir liberal yang juga pendiri Majalah Tempo, dan KH. Sahal Mahfudz, Rais Am PBNU.

Syafi’i Maarif mengkritik Habib Rizieq dengan menyebutnya sebagai preman berjubah. Maarif juga menyebut “Keturunan Arab”, “Warga Negara Arab”, “Kelompok pemarah yang cenderung mengadopsi ideologi radikal untuk mencapai tujuan mereka.” Kritik Maarif ini mendapat dukungan dari Din Syamsuddin, Amin Rais, Hidayat Nurwahid dan Hasyim Muzadi. Saat itu, Habib Zen bin Smith dari Rabithah Alawiyah mencoba menurunkan tensi dengan menghubungi Syafi’i Maarif mengajak agar tidak membawa persoalan ini ke arah kebencian terhadap ras tertentu. Narasi ini tentu tidak menguntungkan bagi warga keturunan. Padahal, sikap Habib Rizieq tidak mencerminkan budaya kaum keturunan Arab pada umumnya. Akan sangat disayangkan jika kritik terhadap Habib Rizieq beralih kepada spektrum yang lebih luas menyasar kebencian terhadap keturunan Arab di Indonesia.

Goenawan Muhammad menulis kritik terhadap Habib Rizieq dan FPI dalam kolom Catatan Pinggir Majalah Tempo. Pesan utamanya adalah tentang pentingnya kebebasan dan keadilan, keterbatasan manusia dalam iman, keberkahan keragaman Indonesia dan perlunya menghormati keragaman tersebut. GM tidak menyinggung isu ras seperti Maarif, tetapi hanya menggunakan retorika yang menyinggung simbol Arab dengan menyebut “para pemimpin Arab”, untuk “Saudara Syihab” dan “Saudara Ba’asyir.”

Dalam wawancara dengan Majalah Tempo, KH. Sahal Mahfudz, pemimpin tertinggi NU, menyebut Habib Rizieq sebagai Wahabi. Ia mengatakan, “Front Pembela Islam (FPI) bukanlah Nahdlatul Ulama (NU). FPI didirikan oleh Habaib. Karena itu, FPI bukanlah NU, dan praktik keagamaannya juga tidak serupa. FPI itu Wahabi, sedangkan NU Ahlussunnah Waljamaah.”

Menurut Bamuallim, respon Mahfudz ini menarik karena ia menolak untuk mengakui adanya hubungan antara NU dan Habaib. Dia bahkan menghindari pertanyaan tentang pengakuan ulama NU terhadap Habaib dan justru menyoroti hubungan FPI dengan Wahabi. Mahfudz menekankan ketidakcocokan yang terakhir dengan tradisi agama dan budaya Indonesia yang beragam. Sementara sentimen anti-Arab yang eksplisit disembunyikan, ada kesan bahwa metode mereka dalam banyak hal asing bagi Islam dan budaya Indonesia dan bahwa perbedaan ini pada akhirnya memicu ketidakpuasan di antara Muslim pribumi. Ketidakpuasan ini memang suara mayoritas Muslim, karena Syafi’i, Mahfudz, dan Goenawan mewakili sejumlah besar Muslim Indonesia.

Para Pengkritik Hadrami-Habaib

Meskipun sebagian keturunan Arab-Hadhrami tampak semakin banyak yang terlibat sebagai pemimpin dalam gerakan militan FPI, nyatanya muncul juga sentimen kalangan Hadhrami terhadap terhadap kelompok ini. Bamuallim mencatat, menarik untuk diketahui bahwa pada dasarnya tidak ada bukti bahwa elit Ba’alawi mendukung Habib Rizieq.

Habib Ali al-Habsyi, pemimpin komunitas Ba’alawi yang paling terkemuka di Jakarta, misalnya, tidak menunjukkan dukungan apa pun terhadap militansi Habib Rizieq, meskipun ia juga tidak mengkritiknya secara terbuka. Namun, beberapa tokoh penting Ba’alawi lainnya, termasuk Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Ba’alawi dari Pekalongan, mengutuk Habib Rizieq karena kepemimpinannya yang militan dan menasihatinya untuk meninggalkan kekerasan.

Beberapa hari setelah penyerangan di Monas tahun 2008 yang melibatkan FPI, Habib Rizieq kehilangan dukungan dari tokoh-tokoh keturunan Habaib. FPI cabang Jember, Jawa Timur, yang diketuai oleh Habib Abu Bakar Al-Habsyi, berinisiatif membekukan diri. Secara terbuka, Habib Abu Bakar menyuarakan kritik atas apa yang terjadi di Monas.

Reaksi tegas atas penyerangan di Monas, juga datang dari Habib Segaf bin Syech Abubakar dari Parung, Jawa Barat. Segaf adalah pemimpin Pesantren al-Ashriyyah Nurul Iman yang dikenal moderat dan berkomitmen terhadap pluralisme dan nasionalisme Indonesia. Pesantren ini memiliki beberapa ribu santri berasal dari berbagai bagian negara. Segaf menunjukkan ketidaksenangannya atas kekerasan yang berulang di Jakarta. Segaf menyatakan kemarahannya atas serangan terhadap aksi damai di Monas, dan dia mengerahkan ribuan pengikutnya santri untuk menantang milisi FPI.

Dalam pidato di hadapan para santrinya, Habib Segaf mengatakan, “Hari ini saya telah meminta Anda untuk datang dan bertemu karena negara dalam bahaya. Perlu diketahui bahwa Anda dilarang keras bertindak seperti Front Pembela Islam (FPI) yang diketuai oleh provokator Habib Rizieq Shihab yang telah menyebabkan anak-anak bangsa saling bertikai. FPI lah yang menjadi penyebab bentrok di kalangan anak bangsa. Kedamaian dan toleransi sedang terancam, terbukti dari meningkatnya permusuhan dan pertumpahan darah di masyarakat. Tindakan FPI tersebut merupakan kejahatan yang telah merusak citra Islam dan menghancurkan kebhinekaan Indonesia. Tidak pernah ada satupun habib yang berperilaku seperti dia, yang tidak mengikuti teladan Nabi.”

Bagi sesepuh Ba’alawi, Rizieq telah gagal menyesuaikan diri dengan cara bertingkah laku “arus utama” kaum Ba’alwi yang berdakwah dengan cara damai dan toleran. Para sesepuh Ba’alwi sudah berusaha menasihati Habib Rizieq. Namun agaknya Habib Rizieq enggan menerima nasihat tersebut. Keengganan Rizieq untuk menerima nasehat, bagaimanapun, menunjukkan bahwa kepemimpinan lama Ba’alawi sedang mendapat tantangan. Ini tidak mengherankan, karena hubungan Rizieq dengan arus utama Ba’alawi rupanya tidak sekuat itu sejak awal. Sekembalinya dari studi di Arab Saudi, Habib Rizieq mulai menjadi pemimpin kelompok militan yang kontroversial. Memang, dalam konferensi Rabithah Alawiyah pada tahun 2006, Habib Rizieq pernah diangkat sebagai fungsionaris organisasi meskipun dia enggan untuk menjadi bagian aktif di dalamnya.

Terlepas dari klaim kemerdekaan Rizieq, kepemimpinan militan dan identitasnya memicu minat publik terhadap posisi komunitas Ba’alawi terkait dengan vigilantisme Habib Rizieq. Tampak jelas dalam dalam ekspresi Habib Zen bin Smith, ketua Rabithah Alawiyah saat itu, keresahan akibat kecenderungan radikal FPI dan ketidakmampuan Rabithah untuk menghentikan Rizieq dari menjalankan agenda radikalnya.

Habib Zen menyadari bahwa kekerasan kemungkinan besar akan merusak citra Islam dan Ba’alawi-Hadhrami di Indonesia. Ia mengkritik Rizieq dan FPI karena terlalu menekankan nahi munkar dan pengabaian amar ma’ruf. Habib Zen juga menolak setiap pernyataan yang mengaitkan kecenderungan kekerasan Rizieq dengan komunitas Ba’alawi. Habib Zen menyatakan bahwa “tidak benar mengaitkan kekerasan Habib Rizieq dengan Habaib. . . Kebanyakan Habaib telah memilih metode dakwah Islam yang berbeda, yang bersifat persuasif. Rabithah Alawiyah sendiri telah menggunakan pendekatan persuasif di dalamnya dakwah dan misi sosial, yang tidak bersifat konfrontatif, baik secara fisik maupun intelektual.” 

Laporan Bamu’allim di atas penting untuk menggambarkan sikap umat Islam terhadap gerakan Habib Rizieq dan FPI. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa pada umumnya, ulama dan habaib di Indonesia berseberangan dengan Habib Rizieq. Dakwah Habib Rizieq sendiri bahkan tidak diakui sebagai bagian dari dakwah kaum habaib.

Ringkasan

Untuk memudahkan uraian di atas, dapat diringkas bahwa para ulama dan habaib yang berseberangan dengan Habib Rizieq, khususnya pasca kasus penyerangan FPI terhadap kelompok kebebasan beragama di Monas tahun 2008 adalah sebagai berikut:

Non-Hadrami

Syafi’i Maarif, Muhammadiyah

KH. Sahal Mahfudz, NU

Din Syamsuddin, Muhammadiyah

Hidayat Nurwahid, PKS

Goenawan Muhammad, Majalah Tempo

Hasyim Muzadi, NU

Amin Rais, PAN

Kaum Arab-Hadrami

Habib Luthfi bin Yahya, Pekalongan

Habib Abu Bakar Al-Habsyi, Jember

Habib Segaf bin Syech Abu Bakar, Parung

Habib Zen bin Smith, Jakarta

Demikian ulasan singkat tentang para ulama dan habaib yang berseberangan dengan Habib Rizieq. Semoga dapat menambah wawasan.

REKOMENDASI

Mengenal Gagasan Ibn Haitsam: Ilmuwan dan Filosof Muslim yang Terlupakan

Harakah.id - Ibn Haitsam mungkin adalah salah seorang ilmuan dan filosof Muslim yang jarang sekali dibicarakan. Popularitasnya kalah dengan ilmuan dan...

Kisah Perempuan dalam Jaringan Pendukung ISIS di Indonesia

Harakah.id - Perempuan memiliki peran jauh lebih penting dalam proses pembentukan klaster kelompok radikal. Kisah para perempuan berikut akan menunjukkan hal...

Dalam Pertempuran Melawan Virus, Dunia dan Kemanusiaan Tak Lagi [Hanya] Membutuhkan Kepemimpinan

Harakah.id - Virus, yang kemudian dikenal dengan nama Corona, sudah menyebar setahun dan menjangkiti jutaan manusia. Sebuah artikel dari Yuval Noah...

Peran Habib Rizieq dalam Lahirnya Sentimen Anti-Arab di Indonesia

Harakah.id - Habib Rizieq berikut Front Pembela Islam harus dilihat bukan hanya sebagai organisasi yang soliter, tapi juga percikan dari...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Para Ulama dan Habaib yang Berseberangan dengan Habib Rizieq

Harakah.id - Gerakan Habib Rizieq dan FPI-nya mendapat sorotan sejak lama. Para pemimpin Muslim di Indonesia tercatat pernah berseberangan dengannya. Inilah...