Beranda Editorial Paradoks Islam Jaman 4.0; Ketika Prototipe Aplikasi Keislaman Siap Sedia, Mahalnya Biaya...

Paradoks Islam Jaman 4.0; Ketika Prototipe Aplikasi Keislaman Siap Sedia, Mahalnya Biaya Operasional Gak Ketulungan! Ruwet…

Harakah.id Paradoks Islam Jaman 4.0 memang jadi tantangan tersendiri. Ketika Islam dituntut beriringan dengan jaman dan menyediakan aset digital untuk pasar, eh ruwetnya gak ketulunga. Dalam konteks pembuatan aplikasi misalnya, secara prototipe, asetnya sangat banyak dan idenya juga cukup menarik. Tapi biaya operasional bikin aplikasi mahalnya juga gak ketulungan. Jadi ya angel… ruwet!

Tepat Agustus tahun lalu, saya mewakili PTIQ menjadi dewan hakim bidang Desain Aplikasi Al-Qur’an dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional (MTQMN) XVII yang di selenggarakan Kemendikti RI bertempat di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Saya tidak tahu alasan penyelenggara menempatkan di bidang desain aplikasi, mengingat dewan hakim lain pakar-pakar IT keren, ada profesor IT dari Unsri, Doktor IT dari Unesa, dan praktisi IT dari Gunadarma, sementara saya, jangankan IT, tahu caranya posting FB aja baru kemarin. Barangkali, ini husnudzdzan ya, saya sedikit tahu konteks kealqur’anan dan keislamannya.

Ada 42 aplikasi, baik web apps maupun mobile apps yang ikut kompetisi, mereka berasal dari kafilah kampus-kampus bonafid; ITB, ITS, UI, UGM, dan lain-lain. Yang menarik, meski judulnya MTQ, tidak semua aplikasi relevan dengan kealqur’anan, tapi minimal bisa disambung-sambungkan dengan konteks keislaman, seperti aplikasi deteksi bencana, anti-gadget addict, bahkan ta’aruf to nikah. Namun secara umum aplikasi seputar mobile learning Al-Qur’an, game dan kuis menghafal Al-Qu’an, Al-Qur’an untuk difabel, menejemen masjid, daily muslim, dan sebagainya.

Selain inovasi, teknis bahasa pemrograman, interface, dan kesesuaian tema, salah satu indikator penilaian yang paling utama adalah potensi keberlanjutan. Hal ini sangat beralasan, karena setelah satu tahun berlalu, terbukti dari 42 aplikasi yang dilombakan, hanya aplikasi QALIFA dari UM selaku juara pertama yang hingga hari ini masih majang di play store dan terus dikembang-kolaborasikan dengan pihak ketiga. Alikasi yang lain bagaimana? Gak perlu ditanya! Modar kabeh…

Tentu, sangat eman-eman, prototipe aplikasi yang keren-keren itu mati sebelum berkembang, karena tidak adanya dukungan dari kampus atau pihak ketiga, baik dalam pembiayaan maupun pengembangan model bisnisnya. Memang sih, bikin aplikasi itu gampang, yang angel dan bikin kepala pening, ya, pengembangannya, itu! Saya dan tim punya pengalaman bikin dua ekor aplikasi, crowdfunding dan menejemen masjid, semuanya langsung “hidup segan mati tak mau” alias modar. Bahkan sebelum jadi prototipe karena kehabisan modal. Inilah paradoks Islam jaman 4.0 yang tengah kita hadapi kini.

Wes… ruwet! Angel… angel… angel!

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...