Beranda Keislaman Ibadah Pas Sahur, Masih Bolehkah Kita Makan dan Minum Ketika Imsak Sudah Diumumkan?...

Pas Sahur, Masih Bolehkah Kita Makan dan Minum Ketika Imsak Sudah Diumumkan? Ini Penjelasan Lengkapnya…

Harakah.idKetika Imsak sudah diumumkan, mungkin sebagian dari kita masih bertanya; masih bolehkah kita menelan makanan dan menyeruput minuman? Apa bedanya imsak dan azan? Ini penjelasan lengkapnya…

Walau terdapat perbedaan terkait awal waktu sahur, ulama empat mazhab sepakat terkait akhir waktu sahur adalah ketika terbit fajar. Meski begitu, para ulama juga masih memiliki perbedaan persepsi dalam memaknai istilah “terang benang putih dari benang hitam” dan “fajar” pada ayat 187 surat al-Baqarah.

Namun, secara umum ulama empat mazhab menyimpulkan bahwa waktu berpuasa adalah dari mulai terbit fajar sadik (fajar kedua) hingga terbenam matahari. Terbitnya fajar sadik merupakan awal waktu Subuh dan terbenamnya matahari merupakan awal waktu Magrib. Jadi, dapat disimpulkan bahwa waktu puasa adalah dimulai dari Subuh hingga Magrib. Artinya, ketika azan Subuh berkumandang, maka haram bagi orang yang diwajibkan berpuasa untuk makan, minum, dan jimak. Ketika azan Magrib berkumandang, baru diperbolehkan untuk makan, minum, dan jimak.

Terlepas dari hal itu, bukankah ada hadis yang mengatakan bahwa, seseorang hendaknya menyelesaikan hajatnya ketika terdengar azan sementara di tangannya masih terdapat makanan? Benar. Hadis tersebut dinilai sahih, berasal dari Abu Hurairah, serta diriwayatkan di dalam Musnad Imam Ahmad nomor 9474, Sunan Imam Abu Daud nomor 2350, Sunan Imam Daruqutni nomor 2156, al-Mustadrak Imam Hakim nomor 1552, dan Sunan al-Kubrā Imam Baihaqi nomor 8019. Berikut teks hadisnya:

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم <<إذا سمع أحدكم النداء والإناء على يده ولا يضعه حتّى يقضي حاجته منه

Dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda, “Apabila salah satu di antara kalian mendengar azan sementara bejana berada di tangannya, maka jangan menyimpannya sehingga menyelesaikan keperluan dari bejana tersebut.”

Secara sepintas, hadis tersebut memang seolah membenarkan perbuatan seseorang dalam menuntaskan suapan terakhir saat terdengar azan. Namun, dalam memahami satu hadis, tidak bisa hanya mengandalkan teks dan redaksi secara harfiah, apalagi mengabaikan hadis-hadis lain yang “seolah-olah” bertentangan. Untuk itu, Imam Ibnu Uyainah mengatakan bahwa hadis itu menyesatkan kecuali bagi fukaha. Artinya, sebagus dan sesahih apa pun derajat suatu hadis, bila dipahami dan ditafsiri oleh orang awam, maka akan menjadi daif bahkan dalal. Maka tidak boleh sembarang diamalkan. Demikian pula, sedaif apa pun suatu hadis bila dipahami dan ditafsiri oleh ahli ilmu (termasuk fukaha), maka masih bisa dijadikan pertimbangan untuk diamalkan.

Baca Juga: Orang Mulia Meninggal Di Bulan Mulia, Ini Daftar Ulama-Ulama Nusantara yang Wafat di Bulan Ramadan

Terkait hadis tersebut, kita bisa melihat penjelasan dari Imam Khattabi di dalam Ma`ālim al-Sunan. Disebutkan bahwa hadis tersebut berkaitan dengan hadis lain yang menerangkan dua azan Subuh. Imam Khattabi mengutip sebuah hadis bahwa Bilal bin Rabah melantunkan azan di malam hari, sehingga orang-orang yang sedang makan dan minum diseru untuk tetap melanjutkannya. Namun, seruan tersebut dibatasi hingga tiba saatnya Ibnu Umi Maktum azan. Pendapat tersebut juga dikutip dan dikuatkan oleh Syekh Sindi ketika memberikan catatan hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, juga dikutip oleh Syekh Arnaut dalam syarah Musnad Imam Ahmad.

Imam Khattabi juga menghidangkan opsi lain terkait penjelasan hadis tersebut. Ia mengungkapkan bahwa, boleh jadi makna hadis tersebut adalah bila seseorang sedang sahur kemudian mendengar suara azan, akan tetapi ia ragu apakah sudah masuk waktu Subuh atau belum. Dari dua penafsiran tersebut, dapat dipahami bahwa seseorang masih diperbolehkan sahur apabila yakin atau ragu apakah waktu Subuh belum tiba.

Adapun penjelasan pertama dari Imam Khattabi terkait hadis tersebut yang menyinggung dua azan, informasi itu bertebaran di sejumlah bab dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Ibnu Umi Maktum sendiri merupakan seorang tunanetra, sehingga beliau tidak akan melantunkan azan sebelum ada yang memberitahunya bahwa fajar benar-benar telah terbit. Dalam Sahih Bukhari misalnya, hadis tersebut masuk ke dalam bab azan, sahur, dan persaksian sekaligus. Karena sedang membahas soal sahur, maka teks hadis yang dikutip adalah yang tercantum dalam bab sahur. Berikut teks hadisnya:

عن ابن عمر, والقاسم بن محمد عن عائشة رضي الله عنها: أن بلال يؤذّن بليل, فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم <<كلوا واشربوا حتى يؤذَن ابن أمّ مكتوم, فإنه لا يؤذّن حتى يطلع الفجر قال القاسم: ولم يكن بين أذانهما إلا أن يرقى ذا وينزل ذا

Dari Ibnu Umar dan Qasim bin Muhammad, dari Aisyah r.a.,  bahwasannya Bilal melakukan azan di malam hari, maka Rasul saw. bersabda, “Makanlah dan minumlah kalian hingga Ibnu Umi Maktum melantunkan azan. Sungguh dia tidak akan azan, hingga fajar telah terbit.” Qasim berkata, “Tidak ada jeda antara kedua azan itu, kecuali yang satu naik dan yang lain turun.”

Imam Malik dalam al-Muwaṭṭa` juga meriwayatkan hadis serupa. Beliau bahkan menambahkan ucapan Ibnu Syihab——salah seorang perawi——bahwa Ibnu Umi Maktum tidak melantunkan azan, sampai ada yang mengatakan, “Telah masuk waktu Subuh, telah masuk waktu Subuh.”

Untuk menjelaskan kedua azan tersebut, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani mengutip pendapat Imam Ibnu Syaibah, bahwa fajar itu ada dua: fajar kazib dan fajar sadik. Bilal melakukan azan ketika muncul fajar kazib, artinya masih dikatakan malam. Maka, dihalalkan bagi orang-orang untuk makan, minum, dan jimak, serta diharamkan untuk salat Subuh. Sementara Ibnu Umi Maktum melakukan azan ketika muncul fajar sadik, artinya sudah masuk waktu Subuh. Maka, dihalalkan bagi orang-orang untuk salat Subuh, serta diharamkan untuk makan, minum, dan jimak.

Baca Juga: Begini Status Orang yang Mengingkari Kewajiban Puasa Ramadan…

Menurut Imam Nawawi, hadis tersebut juga mengindikasikan kebolehan melakukan azan Subuh sebelum terbit fajar sadik, serta kebolehan melakukan makan, minum, jimak, dan hal-hal yang membatalkan puasa, hingga fajar sadik terbit. Penggunaan kata “malam” terhadap azan Bilal, juga menunjukkan belumnya masuk waktu Subuh atau fajar sadik. Hal itu karena waktu setelah fajar tidak disebut “malam”, melainkan “pagi” atau “awal hari”.

Jadi, azan yang dikumandangkan Bilal memang bukan azan Subuh, tetapi azan awal sebelum terbit fajar. Maka tidak heran bahwa di Arab Saudi (khususnya Mekah dan Madinah) dan Damaskus, azan Subuh dilakukan dua kali. Sekali sebelum terbit fajar, sekali setelah terbit fajar. Seseorang yang sedang melaksanakan sahur, kemudian terdengar azan pertama, maka tetap diperbolehkan untuk melanjutkan makan atau minum. Namun, ketika azan kedua yang menandakan masuknya waktu Subuh berkumandang, seseorang yang berkewajiban melaksanakan puasa tidak diperkenankan lagi menyantap hidangan sahur secara mutlak.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia yang biasanya azan Subuh hanya dilakukan sekali? Maka haram melakukan makan, minum, dan jimak ketika terdengar azan. Hal tersebut karena gema azan tidak akan dikumandangkan, kecuali telah benar-benar masuk waktu Subuh. Baik menurut perhitungan ahli hisab (melihat waktu salat), mau pun menurut penglihatan zahir (melihat ufuk timur). Bahkan untuk saat ini, seyogianya penglihatan zahir terhadap fajar tidak dapat lagi dilakukan karena pandangan telah dikaburkan oleh sinar lampu, sehingga satu-satunya penentuan waktu Subuh yang lebih akurat adalah dengan mengandalkan penghitungan ahli hisab.

Dari segi fikih, fukaha dari keempat mazhab juga telah sepakat bahwa ketika fajar telah menyingsing, sementara di mulutnya terdapat makanan atau minuman, lalu dimuntahkan maka puasanya sah. Tetapi bila ditelan maka puasanya batal. Itu sudah berada di mulut, apalagi yang baru ada di tangannya dan bejana? Hal itu sama ketika makan dan minum dalam keadaan lupa, lalu memuntahkannya ketika ingat. Maka puasanya sah. Bila tertelan tanpa sengaja, puasanya tidak batal bagi kalangan mazhab Hambali dan dibenarkan oleh mazhab Syafei. Sementara bagi mazhab Maliki, sekali pun tidak sengaja, bila ada makanan dan minuman yang tertelan, tetap batal puasanya.

Menurut Imam Syafei, pelaksanaan sahur dengan santai dan tidak berdekatan dengan waktu terbit fajar lebih disukainya. Beliau juga mengatakan bahwa apabila fajar telah menyingsing, dan di mulutnya terdapat sesuatu yang sudah masuk, maka harus dimuntahkan. Bahkan, beliau menegaskan, apabila menggampangkan hal tersebut hingga akhirnya terbit fajar, maka batal puasanya dan wajib mengqadanya. Namun apabila memuntahkannya, seperti dimuat oleh Imam Haramain al-Juwaini, maka sah puasanya apabila sebelumnya telah berniat. Pendapat tersebut yang menjadi landasan dalam mazhab Syafei. Imam Nawawi menambahkan, hal tersebut tidak terdapat perbedaan pendapat.

Adalah benar apabila mengakhirkan makan sahur adalah sunah. Tetapi bukan berarti terdesak pada waktu terbit fajar. Frasa “mengakhirkan sahur” juga harus dilihat dari sudut budaya. Bahwa Nabi dan para sahabat makan sahur dengan makanan yang tidak terlalu kompleks: kurma dan roti, paling mewah daging. Sementara masyarakat modern makan sahur dengan menu yang beragam dan rumit. Nasi, sayur, daging, lalapan, sambal, kerupuk, hingga diakhiri kopi dan rokok (eh). Bayangkan, betapa tidak akan terkendalinya semua menu itu bila harus memaksakan “mengakhirkan sahur”. Sehingga pendapat Imam Syafei terkait pelaksaan sahur yang tidak terlalu berdekatan dengan waktu Subuh menjadi masuk akal. Apabila tetap mau mencari keutamaan “mengakhirkan sahur”, bisa diakali dengan minum segelas air sebelum tiba watu terbit fajar, bukan dengan makan sahur beserta menunya yang sempurna.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa sudah terjadi kesepakatan ulama empat mazhab, terkait batalnya puasa bagi orang yang menelan makanan saat terdengar azan, didasarkan pada keyakinan pada sudah terbitnya fajar. Artinya, bila orang tersebut yakin sudah masuk waktu Subuh, atau yakin bahwa muazin Subuh adalah orang adil (tidak akan azan kecuali sudah masuk waktu Subuh), atau orang awam yang bertaklid pada muazin dan Imam, maka puasanya batal dan wajib atasnya mengqada. Tentu saja, walau puasanya batal tetap diwajibkan untuk berpuasa di sisa hari itu (karena menghormati bulan Ramadan). Sudah puasanya batal, wajib mengqada, tetap tidak boleh makan, minum, dan jimak lagi. Sial, bukan?

Adapun penjelasan kedua dari Imam Khattabi terkait hadis sebelumnya yang menyinggung soal ragu-ragu datangnya waktu Subuh, maka para ulama memerincinya. Kalangan mazhab Syafei, Hambali, dan Imam Muhammad bin Hasan al-Syaibani berpendapat, tidak makruh melakukan makan dan minum di waktu syak terbit fajar kedua (fajar sadik). Imam Ahmad dalam riwayat Imam Abu Daud mengatakan, bahwa bila ragu-ragu terkait terbitnya fajar, maka boleh lanjut sahur hingga yakin bahwa fajar telah terbit. Hal itu karena asal hukumnya adalah masih malam.

Baca Juga: Tahukah Kamu, Berapa Kali Nabi Berpuasa Ramadan Sepanjang Hidupnya?

Sementara itu, kalangan mazhab Hanafi berpendapat, apabila ragu-ragu terhadap terbitnya fajar, maka yang lebih disukai adalah tidak makan. Hal itu karena menganggap bahwa fajar telah terbit. Dan bila tetap meneruskan makan, akan merusak puasanya. Bagi Imam Abu Hanifah, Imam Abu Yusuf, dan sebagian ulama mazhab Maliki, hal itu dihukumi makruh.

Adapun mayoritas ulama mazhab Maliki berpendapat, barang siapa yang makan pada waktu syak terbit fajar kedua, maka baginya wajib mengqada karena menghormati pendapat mayoritas ulama. Sekali pun pada kenyataannya masih malam dan fajar belum terbit. Kecuali bila benar-benar yakin (tidak lagi syak atau ragu-ragu) bahwa dia makan sebelum masuk waktu terbit fajar. Hal ini berlaku pada semua puasa fardu, tidak pada puasa sunah menurut kesepakatan.

Namun, melihat realitasnya pada masa kini, hampir tidak mungkin ditemukan keraguan atas waktu-waktu salat, termasuk terbit fajar sadik. Tidak juga pada waktu berbuka puasa. Orang bisa langsung mengetahui waktu Subuh telah tiba dari televisi (karena disiarkan di seluruh penjuru Indonesia). Orang-orang juga bisa mengetahui waktu Subuh dengan mengacu pada azan dan beduk masjid setempat. Bila tetap ragu-ragu, mereka bisa langsung mengecek jadwal salat dan mencocokannya dengan jam.

Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana dengan waktu Imsak?

Imsak adalah skema waktu yang biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia. Masjid-masjid biasanya mengumumkan imsak 5 sampai 10 menit sebelum azan berkumandang. Apakah masih boleh kita makan dan minum ketika imsak?

Imsak adalah pedoman waktu yang lahir dari kecanggihan ulama nusantara. Inilah salah satu fungsi dibuatnya waktu imsak, sepuluh menit atau lima menit sebelum waktu Subuh. Sebenarnya, orang masih boleh makan dan minum setelah waktu imsak. Namun, karena kebiasaan orang Indonesia yang “tanggung sebatang lagi”, “tanggung seteguk lagi”, atau “tanggung sesuap lagi”, dibuatlah waktu ini bagi masyarakat umum. Hal ini untuk menghindari perbedaan pendapat di kalangan ulama, serta menghindari makan dan minum di waktu syak dan berdekatan dengan waktu Subuh. Waktu imsak ini juga dikiaskan pada azan awal seperti yang dilakukan Bilal.

Jadi, bila Anda sedang mengunyah makanan, lalu terdengar pengumuman waktu imsak datang, boleh tetap menelannya. Kemudian percepat makan tersebut! Namun, bila Anda sedang mengunyah makanan, lalu terdengar beduk atau azan Subuh, harus segera memuntahkannya. Hal itu bila waktu Subuh diyakini benar-benar telah tiba. Bila Anda tetap menelannya, maka batal puasa Anda, harus mengqadanya, serta tetap berpuasa di sisa hari tersebut. Untuk catatan, keyakinan atas waktu Subuh telah tiba, harus jujur dan adil dari hati. Tidak boleh sekadar, “Ah, pokoknya aku menganggap waktu Subuh belum tiba. Makanya lanjut makan.” Karena puasa disyariatkan untuk melatih ketakwaan dan kejujuran diri sendiri. Tidak ada satu pun makhluk yang tahu apakah Anda benar-benar berpuasa, kecuali diri Anda sendiri. Dan malaikat atas izin-Nya barangkali.

Jadi itulah penjelasan mengenai aturan makan sahur terkait waktu imsak dan azan subuh. Semoga bermanfaat…

REKOMENDASI

Surah Yang Dianjurkan dan Disunnahkan Dibaca Dalam Pelaksanaan Salat Idul Fitri

Harakah.id - Dalam pelaksanaan salat idul fitri, ada surah-surah yang sunnah dan dianjurkan untuk dibaca. Surah apa saja? Simak artikel di...

Mendamaikan [Kembali] Hisab dan Rukyat, Dua Metode Penentuan Awal-Akhir Bulan Dalam Penanggalan Hijriyah

Harakah.id - Hisab dan Rukyat adalah dua metode yang masyhur digunakan untuk menentukan awal dan akhir dalam penanggalan Hijriyah. Termasuk dalam...

Secercah Kisah Imam al-Bukhari dan Bapaknya; Catatan Singkat Sorogan Buku “Commentary of Forty Hadiths...

Harakah.id - Imam al-Bukhari adalah salah satu ulama yang kontribusinya tidak lagi bisa kita pertanyakan. Kitabnya, Sahih al-Bukhari, adalah kitab sahih...

Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Harakah.id - Apakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...