fbpx
Beranda Gerakan Pasukan Djojobojo dan Pemberontakan PKI di Cirebon Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia

Pasukan Djojobojo dan Pemberontakan PKI di Cirebon Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia

Harakah.idPasukan Djojobojo dan pemberontakan PKI di Cirebon adalah salah satu tragedi dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Selain menyasar daerah-daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah, PKI ternyata juga pernah hendak menggulingkan kekuasaan lokal di Cirebon.

- Advertisement -

Masih dalam suasa peringatan G30S. Peristiwa kelam yang meninggalkan catatan hitam bagi kedaulatan bangsa dan negara. Bahkan hingga saat ini masih menjadi perdebatan publik terkait isu bangkitnya Partai Komunis Indonesia. Bagi sebagian masyarakat, PKI memiliki track record tersendiri dalam sejarah pergerakan nasional. Akan tetapi, sejak meletusnya G30S pada tahun 1965, PKI meredup hingga pembunuhan massalpun terjadi bagi para tokoh dan simpatisan PKI yang dianggap terlibat dalam peristiwa itu. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemberontakan itu sangat erat kaitannya dengan perebutan kekuasaan. Bahkan sebelum itu, pemberontakan PKI sudah terjadi ketika Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945. Sebut saja peristiwa tiga daerah (Tegal, Brebes, Pemalang) yang didalangi PKI, kemudian pemberontakan PKI Madiun pada 18 September 1948  yang dipimpin Musso.

Namun, sebelum itu ternyata Cirebon pun menjadi target sasaran pemberontakan untuk merebut kekuasaan lokal. Gerakan itu menamakan dirinya dengan sebutan “Gerakan Djojobojo”.  Menurut Hendri F. Isnaeni dikutip dari historia.id dalam Djojobojo Menentang jepang, Nama tersebut diambil dari ramalan Jayabaya yang menyebutkan “bangsa kulit kuning (Jepang) akan memerintah tanah Jawa hanya selama seumur jagung”. Penggalan petisi ini yang menjadi harapan bagi seluruh rakyat Indonesia saat itu. Dengan menggunakan nama ramalan itu kelompok komunis bawah tanah yang dipimpin Mr. Mohammad Joesoeph dan Mr. Soeprapto melancarkan gerakannya dalam perlawanan terhadap Jepang. Pasukan Djojobojo dan pemberontakan PKI ini berpusat di Bandung hingga meluas ke wilayah Indramayu dan Cirebon. 

Menurut Soeranto Soetanto dalam Pemberontakan PKI Mr. Mohammad Joesoeph tahun 1946 di Cirebon (1981), Joesoeph lahir di Balongan, Indramayu, Jawa Barat, pada 17 Mei 1910. Kemudian ia tinggal di Cirebon. Di samping profesinya sebagai advokat (pengacara), ia adalah bekas pimpinan Gerindo di Bandung pada tahun 1942, ia juga menjadi ketua Gabungan Perdagangan Indonesia (GAPINDO) pada tahun 1943. Demi melancarkan gerakan djojobojonya, ia juga mengorganisir sopir-sopir di wilayah Cirebon-Bandung-Tasikmalaya yang tergabung dalam Persatuan Sopir Indonesia (Persi).

Sejak maklumat 3 November 1945 setelah proklamasi kemerdekaan, Bung Hatta memberi kesempatan kepada rakyat untuk mendirikan partai politik yang dulu ketika zaman penjajahan Jepang dianggap ilegal dan terlarang. Dengan keluarnya maklumat tersebut maka para tokoh nasionalis segera mendeklarasikan beberapa partai politik seperti Masyumi, Parkindo, PNI hingga PKI.  

Maka pada tanggal 7 November 1945, Pasukan Djojobojo dan pemberontakan PKI yang dipimpin Mr. Mohammad Joesoeph muncul kepermukaan secara terang-terangan. Saat itu situasi politik Indonesia tidak stabil, karena terjadi pertentangan antara golongan moderat dengan golongan revolusioner mengenai cara untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan. “Dari situlah muncul gerakan PKI untuk memanfaatkan situasi dengan menguasai kondisi sosial-politik”, tulis Saleh As’ad Djamhari yang diterbitkan oleh Pusjarah TNI dalam Komunisme di Indonesia: Perkembangan Gerakan dan Penghianatan Komunisme di Indonesia 1931-1948 (2009).

Lebih lanjut ia mengungkapkan, pada kesempatan tersebut orang-orang komunis dibawah pimpinan Joesoeph menyusun rencana pengambilan kekuasaan daerah. Mereka memilih Cirebon sebagai daerah sasarannya, dengan alasan bahwa ketika itu Joesoeph pernah tinggal di Cirebon dan bekerja sebagai pengacara. Dalam pekerjaanya itu ia memberikan janji-janji mengenai pembagian tanah kepada rakyat sehingga menimbulkan kesan membela rakyat. Dengan cara itu ia berharap dapat menarik dukungan massa guna melancarkan rencananya.

Selain alasan itu, Ahmad Mansyur Suryanegara dalam Api Sejarah 2 (2010), mengatakan upaya itu bertujuan untuk menggagalkan proklamasi 17 Agustus Agustus 1945 dan perundingan Linggajati pada November 1946. Sebab pada hakikatnya PKI saat itu menjadi kelompok oposisi. Menurut Tan Malaka Indonesia terlalu lemah mengahadapi Belanda lewat politik perundingan. Tan ingin agar Indonesia merdeka 100% lewat perjuangan bersenjata, sementara saat itu, pemerintah Republik menghindari pertumpuhan darah.

Meskipun begitu, untuk melaksanakan suatu pemberontakan, mereka menyadari bahwa PKI di Cirebon belum merasa kuat. Maka didatangkanlah Laskar Merah dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan dalih menghadiri konferensi agar tidak menimbulkan kecurigaan masyarakat. Saat itu para anggota Laskar Merah yang dipusatkan di Hotel Ribberink (kini bernama Grand Hotel Cirebon berlokasi di Jl. Siliwangi No. 98 Kota Cirebon), mereka mulai membuat kegaduhan seperti, memancing keributan, dan mengadakan pawai keliling kota.

Ðalam pawai itu mereka mengenakan topi putih yang diikat pita merah serta masing-masing membawa berbagai senjata sambil meneriakaan yel-yel Soviet. Mereka juga membawa bendera merah berlambang palu arit. Pawai tersebut tidak lain bertujuan untuk pamer kekuatan.” Dalam Konferensi yang dihadiri sekitar 3.000 orang, Joesoeph memberikan sambutannya dengan memberikan pujian terhadap Uni Soviet (Rusia) yang telah mendukung revolusi sosial di Indonesia di forum Dewan Keamanan PBB. Ini yang menimbulkan insiden dengan kelompok lain. Tulis Djamhari dalam Komunisme di Indonesia (2009).

Dengan rencana yang amat matang, sehingga insiden pun pecah. Pada 12 Februari 1946, berawal dari isu yang dilakukan PKI djojobojo bahwa Polisi dan tentara Indonesia telah melucuti anggota Laskar Merah yang datang dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur di Stasiun Cirebon. Sehingga Perwira Polisi Tentara Cirebon Letda. D. Sudarsono datang ke stasiun menemui seorang bintara jaga untuk memastikan kebenaran isu tersebut. Namun, sesampainya di stasiun. “Ia disambut dengan peluru, dikepung, dan beberapa anggota polisi Tentara ditawan hingga Letda. D. Sudarsono disandera”, tulis Soeranto Soetanto dalam Pemberontakan PKI Mr. Mohammad Joesoeph tahun 1946 di Cirebon (1981).

Inilah langkah awal Pasukan Djojobojo dan pemberontakan PKI dalam upaya menguasai jajaran pemerintahan setempat. Hingga seluruh kota dikuasai, tindakannya semakin merajalela, perampasan, merampok dan menguasai gedung-gedung vital seperti radio, dan Pelabuhan.

Untuk mengatasi aksi PKI yang semakin brutal, maka Panglima Divisi II Sunan Gunung Djati, Kolonel Zainal Asikin Yudadibrata mengirim utusan untuk membawa Residen dr. Moerjani dan kepala Karesidenan Sulaiman Jayusman ke Markas Divisi yang berkedudukan di Linggajati dengan tujuan melakukan perundingan dengan Mr. Mohammad Joesoeph di Hotel Reebrinck.

Dalam perundingan tersebut pihak PKI berjanji akan menyerahkan senjata-senjata yang dirampasnya kepada tentara pada esok harinya. Akan tetapi perjanjian itu tidak ditepati. Bahkan utusan yang datang di Hotel itu, keesokan harinya disambut dengan serentetan tembakan. “Dikarenakan perundingan mengalami kegagalan, maka Panglima Divisi II meminta bala bantuan pasukan dari Komandan Resimen Cikampek dan dikirim 600 prajurit dibawah pimpinan Mayor Banumahdi”, tulis Djamhari dalam Komunisme di Indonesia (2009).

Pada 13 Februari 1946, penumpasan terhadap PKI diawali dengan penyerbuan pos-pos pertahanan yang telah dikuasai dan kemudian bergerak menuju Hotel Ribberink. Pasukan gabungan dari TRI bergerak dari berbagai jurusan untuk mengepung kedudukan pemberontak di markasnya. Hujan peluru berhamburan dan berhasil melumpuhkan PKI hingga menyerah. Pada akhirnya pada 14 Februari 1946, pimpinan PKI djojobojo Mr. Mohammad Joesoeph dan Mr. Soeprapto ditangkap dan kemudian diajukan ke Pengadilan Tentara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tulis Djamhari dalam Komunisme di indonesia (2009).

Dalam hal ini menurut Ahmad Mansyur Sruyanegara dalam Api Sejarah 2 (2010), mengatakan bahwa kudeta yang dilakukan PKI di Cirebon dalam penulisan Sejarah Indonesia tidak dinilai sebagai kudeta PKI, dengan memperhatikan yel-yel Laskar Merah yang menyebutkan “Hidoep Soviet” maka kudeta ini dikendalikan oleh PKI penentang Proklamasi. Tentu pelakunya PKI Serikat Indonesia Baru (SIBAR) bikinan Van Der Plass di Australia yang dipimpinan oleh Sardjono dan J. poedjosoebroto. 

Dalam Buku terbitan Pusjarah TNI yang ditulis oleh Saleh As’ad Djamhari dkk, dalam Komunisme di Indonesia Jilid I: Perkembangan Gerakan dan Pengkhianatan Komunisme di Indonesia (2009) yang mengatakan bahwa pemberontakan PKI yang terjadi di Cirebon murni bukan tanggungjawab Sardjono dan Mauto Darusman. Mereka menyatakan tidak bertanggungjawab. Tindakan Joesoeph diaangap lancang, menyimpang dari strategi PKI hingga akhirnya Sardjono beserta kawan-kawannya kemudian membentuk panitia pembersihan PKI versi Joesoph dan dihadapkan ke mahkamah partai yang dihadiri oleh 60 orang tokoh komunis dan semua pembelaan dari Joesoph ditolak dan dinyatakan bersalah.

Dari peristiwa Cirebon ini kita melihat dua hal yang menonjol. Pertama adalah upaya PKI dalam membentuk pemerintahan daerah. Kedua adalah sikap pimpinan PKI yang menolak dan menyangkal setiap aksi yang dilakukan oleh anggotannya apabila mengalami kegagalan. Meski begitu, perjalanan pemberontakan PKI di Indonesia kemudian merambat ke wilayah lokal hingga skala nasional. Tentu tidak lepas dari berbagai konflik yang terjadi di negeri ini.

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...