Beranda Gerakan Pasukan Taliban, Hadis "Pasukan Panji Hitam" Dan Isu yang Tak Pernah Lekang...

Pasukan Taliban, Hadis “Pasukan Panji Hitam” Dan Isu yang Tak Pernah Lekang Oleh Zaman [1]

Harakah.idHadis pasukan panji hitam tampaknya menjadi salah satu isu dan pembicaraan yang selalu muncul dan tak pernah lekang oleh zaman.

Munculnya kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) melahirkan perdebatan di kalangan akademik. Bagi para pengkaji hadis, wacana yang mereka hadirkan banyak bersumber dari hadis-hadis Nabi. Hal ini menjadi isu menarik bagi para pengkaji hadis Nabi saw. Salah satu yang biasa dijadikan dasar adalah hadis “pasukan panji hitam”.

Penggunaan hadis untuk mendukung agenda politik kekuasaan merupakan fenomena yang jamak terjadi dalam dunia Islam. Berdirinya Daulah Bani Abbas pada abad kedua hijriah misalnya banyak didukung dengan kampanye politik yang menggunakan hadis-hadis Nabi tentang akhir zaman. Baik hadis-hadis sahih maupun yang lemah dan palsu. Para ulama hadis sudah berusaha menjernihkan persoalan dengan meneliti hadis-hadis tersebut berikut kepalsuannya.

Bahkan, setelah berdirinya Daulah Bani Abbas para sarjana yang pro terhadap pemerintah saat itu mengembangkan hadis palsu dan lemah. Para ulama hadis berupaya menjernihkan situasi dengan melakukan kritik hadis. Namun, situasi saat itu sungguh unik. Pemerintah berhasil menarik simpati hampir seluruh elemen masyarakat Muslim. Terbukti berbondong para sarjana dan cerdik cendekia datang menuju pusat kota Baghdad. Kedatangan mereka merupakan bentuk dukungan dan restu terhadap pemerintahan ini. Baghdad merupakan saksi sejarah bahwa hadis Nabi pernah digunakan mendongkrak popularitasnya.

Banyak umat Islam yang beranggapan bahwa ketika suatu peristiwa memiliki rujukan dalam kitab sucinya, maka berarti itu adalah perwujudan janji Tuhan. Demikian pula ketika terjadi peristiwa kemudian memiliki aspek kemiripan sumber yang diidentifikasi sebagai pernyataan Nabi, adalah bentuk perwujudan dari kebenaran pernyataan beliau. Sebagian orang menyebutnya mukjizat. Yang menunjukkan kehebatan Nabi saw. karena dia mampu membicarakan kejadian masa depan secara tepat. Namun, seringkali isyarat futuristik Nabi saw. dalam sejarah Islam, merupakan penafsiran sepihak oleh kelompok tertentu. Mereka mencoba melakukan semacam ‘kontekstualisasi’ kandungan hadis. Para ulama pun bangkit melawan tafsir keagamaan spekulatif-imajinatif semacam itu.

Akhir-akhir ini, ada sekelompok Muslim yang menggunakan hadis-hadis Nabi untuk menarik perhatian seluruh kaum Muslimin. Mereka berusaha membujuk agar kaum Muslimin bergabung dengan mereka, karena mereka merasa sebagai kelompok yang dijanjikan oleh Nabi sebagai pahlawan akhir zaman. Memenangkan pertempuran dan membawa kejayaan kaum Muslim. Fenomena semacam ini bukan perkara baru dalam sejarah umat Islam. Selama berabad-abad sejak era Daulah Bani Umayyah dan Daulah Bani Abbas di Timur Tengah hingga Pangeran Diponegoro di Jawa, aktor-aktor politik sudah menggunakan hadis akhir zaman sebagai alat mobilisasi massa.

Tulisan ini akan mendedah hadis-hadis tersebut dan menunjukkan tafsir-tafsir (baca: kontektualisasi)-nya pada setiap masa. Pertama, kami akan mengulas eksistensi hadis pahlawan akhir zaman dalam perspektif ilmu hadis. Kedua, penggunaan hadis-hadis tersebut dalam peristiwa politik. Ketiga, kontekstualisasi terhadap hadis-hadis tersebut oleh aktor-aktor sejarah. Keempat, penggunaan hadis dalam aktifitas politik. Dan kelima, penutup.

Sedangkan pokok kajian akan dibatasi pada hadis-hadis yang bertemakan pasukan bendera hitam (ashab rayah al-sud). Data diperoleh dari kitab-kitab hadis dan buku-buku sejarah yang dinilai otoritatif dalam tradisi Islam. Yaitu buku sejarah yang ditulis ulama klasik yang menggunakan pendekatan kritik hadis dalam menyeleksi informasi sejarah.

Data hadis kemudian dianalisis dalam kaitannya dengan peristiwa politik dalam suatu babakan sejarah tertentu. Hadirnya hadis dalam peristiwa politik diasumsikan melibatkan motif politik para aktor yang menggunakan hadis tersebut. Pada masa di mana agama mendominasi cara berfikir massa, tentu justifikasi teks-teks agama sangat berpengaruh kuat dalam imajinasi mereka.

Dalam model analisis wacana kritis, sebuah informasi selalu mengalami proses inklusi dan ekslusi (penyaringan untuk suatu kepentingan), pembingkaian (framming), yang disertai penafsiran tertentu, kemudian digunakan untuk mendukung suatu gagasan kunci yang disebut ideologi. Kritik ideologi di sini menjadi penting dilakukan untuk membongkar struktur wacana, inti, dan fungsinya dalam suatu diskursus politik. Karenanya, analisis wacana kritis meniscayakan sejumlah penilaian kritis terhadap; teks, konteks, produsen teks, dan motif-ideologi. Rukun analisis wacana kritis ini haram ditinggalkan untuk mengetahui penafsiran teks.

Hadis-hadis yang membicarakan akan datangnya pasukan panji hitam umumnya disebutkan, atau menjadi bagian dari topik besar kitab-kitab hadis, yaitu dalam topik al-fitan (kekacauan). Topik ini merupakan salah satu tema utama kitab-kitab hadis. Umumnya digunakan istilah kitab al-fitan dan/atauseringkali diberi tambahan judul tertentu seperti al-fitan wa al-malahim. Kitab-kitab induk hadis hampir seluruhnya membuat topik khusus ini. Dari keenam kitab induk hadis (kutub al-sittah) hanya Sunan al-Nasa’i yang tidak membuat topik khusus ini. Sekalipun demikian, ada satu sub bab yang mengulas tema al-firar bi al-din min al-fitan (menjauhkan agama dari konflik).

Selain menjadi topik pokok kitab-kitab hadis babon, tema ini juga membuat sebagian ulama ahli hadis menyusun karya tersendiri. Karangan independen pertama yang muncul dalam catatan sejarah intelektual berjudul Kitab al-Fitan karya Abu Abdillah Nu’aim bin Hammad al-Marwazi (229 H./844 M.). Edisi cetaknya tidak kurang dari 400 halaman. Karya ini dianggap paling awal karena dikarang pada paruh pertama abad ketiga hijriah. Era paling dinamis dalam sejarah pengkajian hadis Nabi saw.

Mulai paruh kedua abad ketiga hijriah sampai beberapa abad kemudian, tidak ada karangan khusus mengenai topik al-Fitan. Topik al-fitan pada era ini hanya menjadi bagian dari topik besar kitab-kitab hadis karya al-Bukhari (256 H.), Muslim (261 H.), Abu Dawud (275 H.), al-Tirmidzi (279 H.), Ibnu Majah (273 H.), dan al-Nasa’i (303 H).

Baru pada abad kelima, melompat dua abad, seorang bernama Abu ‘Amr Uthman bin al-Muqri’ al-Dani (444 H.) menyusun kitab berjudul al-Sunan al-Waridah fi al-Fitan wa Ghawa’iluha wa al-Sa’ah wa Ashratuha (Sunnah-sunnah yang berbicara tentang kekacauan akhir zaman, tipu dayanya, kiamat dan tanda-tandanya). Edisi cetakannya terdiri dari enam juz dalam satu jilid. Kitab ini memiliki 1374 halaman. Kitab yang sangat tebal.

Tiga abad berikut, abad kedelapan, Ibnu Kathir (774 H.) menyusun kitab al-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim (Ensiklopedi Hadis Lengkap tentang Kekacauan dan Perang Akhir Zaman). Dicetak dalam dua jilid besar sekitar 300-400 halaman. Judul kecil kitab ini sepertinya mengikuti Abu Dawud dalam kitab al-Fitan wa al-Malahim.

Sarjana Timur Tengah yang mengarang topik fitan ini, di antaranya Muhammad Ahmad al-Mubayyadh dalam sebuah ensiklopedi berjudul al-Mausu’ah Fi al-Fitan wa al-Malahim wa Ashrat al-Sa’ah (2006). Buku memiliki ketebalan kurang lebih delapan ratus halaman.

Kemudian Abu Ubaidah Mashhur bin Hasan Alu Sulaiman menyusun buku berjudul al-Tahdzib al-Hasan li kitab al-‘Iraq fi Ahadith wa Athar al-Fitan (2007). Terdiri dari sekitar 400 halaman.

Karangan-karangan jenis ini juga berkembang di Indonesia. Dan karena itu, istilah seperti imam mahdi, akhir zaman, dajjal, ya’juj wa ma’juj, pasukan panji hitam, dan lainnya cukup populer. Buku-buku yang mengulas topik semacam itu cukup laris di pasaran buku Indonesia. Baik di kalangan pengkaji agama maupun masyarakat awamnya. Di dunia pesantren, kitab-kitab yang mengulas tentang sejarah dunia, dari awal penciptaan hingga akhir zaman banyak diajarkan. Dalam dunia populer Indonesia, buku-buku yang merupakan adopsi ataupun terjemahan ide-ide yang terdapat dalam hadis-hadis Nabi saw.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...