Beranda Keislaman Muamalah Pemanfaatan Media Internet Untuk Menuntut Ilmu Bagi Muslim

Pemanfaatan Media Internet Untuk Menuntut Ilmu Bagi Muslim

Harakah.id Dulu seorang murid mengunjungi daerah gurunya untuk memperoleh ilmu, namun saat ini beragam pengetahuan dapat ditelusuri dengan internet.

Pemanfaatan Media Internet. Bumi merupakan planet yang sudah lama diciptakan selama berjuta-juta tahun berdasarkan penemuan para arkeolog dengan bukti prasasti, kehidupan masa kuno, bakteri yang hidup, dan lain sebagainya. Itu semua terbukti dengan adanya alat yang membantu memperkirakan kehidupan yang ada terlepas informasi tekstual al-Quran.

Kehidupan dunia yang sudah berlangsung selama 21 abad ini tak terlepas dari peran orang-orang terdahulu yang bersungguh-sungguh dalam menggapai pengetahuan berdasarkan keinginan dan fitrah akal itu sendiri yang dianugrahi Tuhan. Pada perhitungan ini juga diawali saat kelahiran Messiah yang kemudian dijadikan tolak ukur untuk menentukan 1 tahun sama dengan 12 bulan, ilmu perhitungan.

Dilihat dari berbagai literatur bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dimulai dari masa sebelum masehi tepatnya (5-3 SM) yaitu pra socrates munculnya filsafat, kemudian muncul beberapa cabang keilmuan dari keingintahuan ilmuan. Masa yunani mengalami kemajuan peradaban hingga abad pertengahan (3-5 Masehi).

Keilmuan tidak pandang dari segi apapun termasuk agam karena itu merupakan esensi ilmu yang dicapai untuk menemukan kebenaran, maka dalam hal ini seluruh manusia diwajibkan mengembangkan ilmu pengetahuan karena dianugrahkan oleh akal berbeda dengan makhluk ciptaan lain-Nya. Namun dalam islam diwajibkan, tertera dalam al-Quran dan as-Sunnah keutamaan menuntut ilmu. Rasulullah Saw bersabda:

طَلَبُ اْلعِلْمْ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

 “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim.”

أُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ

“Tuntutlah ilmu dari buaian (bayi) hingga liang lahat.”

Kedua hadist di atas merupakan uraian bahwa seorang muslim wajib menuntut ilmu tidak hanya ilmu ushuli (agama), tetapi juga ilmu furu’i (masyarakat). Karena jika seluruh muslim menguasai ilmu ushuli saja maka yang terjadi akan hancur tidak mengalami perkembangan dalam artian dikuasai oleh pemikiran-pemikiran kafir hingga tersesat. Selain itu juga bagi seluruh kalangan dari dalam kandungan hingga wafat.

Seorang bayi menuntut ilmu dari kedua orang tuanya seperti diajarkan berjalan, melihat dan mengengar hal sekitar, dicontohkan hal-hal apa yang dilakukan mereka. Orang tua merupakan subjek terpenting bagi perkembangan ilmu anak hingga menginjak masa remaja. Kemudian dewasa hingga tua pun diwajibkan karena akal masih berfungsi untuk menyerap pengetahuan tanpa batas, tercatat otak dapat menyimpan memori hingga berjuta terrabyte. Sungguh ilmu tidak ada batas dan ujungnya.

مَنْ خَرَجَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَتّٰى يَرْجِعَ. (رواه الترمذى(

“Barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia pulang kembali.” (HR. Tirmidzi).

Tahun 2022 ini sangat monumenal, banyak kejadian luar biasa terlebih menghadapi situasi di 2 tahun sebelumnya suatu virus yang melanda dunia dengan cepat seluruh dunia tahu akan info itu dari internet.

Sejak ditemukan internet kegiatan bertranformasi sangat pesat, termasuk mencari ilmu. Dulu seorang murid mengunjungi daerah gurunya untuk memperoleh ilmu, namun saat ini beragam pengetahuan dapat ditelusuri dengan internet yang memudahkan pelajar mengakses sumber keilmuan yang diinginkan tersebut.

Nah, hadis diatas menjadikan api semangat bagi muslim untuk menggali sumber ilmu dengan janji Allah sebagai jihad dalam rangka niat yang baik untuk mengangkat agama Allah. Tidak didasarkan pada ilmu dhoruri yang hanya mengharap upah dan pujian dari manusia lain, upah hanyalah bonus dari usaha yang kita kerjakan.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Demikian ulasan singkat tentang Pemanfaatan Media Internet untuk menuntuk ilmu dalam pandangan Islam. Semoga bermanfaat.

Artikel kiriman dari Muhammad Umar Al-Faruq, Mahasiswa IAT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...