Pembaharuan Pemikiran Islam Nurcholis Madjid, Dari Gagasan Sekularisme Sampai Neo-Sufisme

0
97
Pembaharuan Pemikiran Islam Nurcholis Madjid, Dari Gagasan Sekularisme Sampai Neo-Sufisme

Harakah.idPembaharuan pemikiran Islam Nurcholis Madjid adalah salah satu yang mewarnai hingga kini. Gagasannya tentang sekularisme sampai neo-sufisme sedikit banyak menggambarkan posisi penting Cak Nur dalam geliat intelektualitas di Indonesia.

Nurcholish Madjid yang biasa disapa Cak Nur merupakan salah satu Cendekiawan Indonesia yang dikenal dengan gagasan-gagasan pembaharuannya dalam hal keislaman dan juga keindonesiaan. Sehingga dari sinilah ia digelari banyak orang sebagai tokoh pembaharuan pemikiran Islam Indonesia. 

Cak Nur lahir pada 17 maret 1939, ia merupakan putra dari Abdul madjid yang merupakan santri kesayangan dari Kiyai Hasyim Asyari sekaligus tokoh masyumi. 

Pendidikannya di mulai di Pesantren Darul Ulum kemudian pindah ke Gontor. Di sinilah ia mulai bercengkrama dengan suasana modernitas pesantren dengan latar belakang santri dari NU, Masyumi dan Muhammadiyah. (nurcholish madjid, islam kemoderenan dan keindonesiaan). Di tempat-tempat inilah fase pertama pembaharuan pemikiran Islam Nurcholis Madjid dimulai.

Perkenalannya dengan pemikiran modernis semakin mendalam manakala ia melanjutkan studi nya di IAIN dan aktif sebagai anggota HMI yang pada akhirnya ia dipercaya menjadi ketua umum PB HMI dua periode. Selama menjabat ketua umum ia banyak berkenalan dengan tokoh – tokoh nasional terutama dari Masyumi dan saling bertukar pikiran. 

Pengembaraan keilmuannya pun berlanjut di Amerika di University Of Chicago, disinilah ia banyak belajar dari pemikir islam seperti Fazlur Rahman, dan berhasil lulus kuliah dengan predikat cum laude dengan judul disertasi “Ibnu taymiah dalam ilmu kalam dan filsafat: masalah akal dan wahyu dalam islam”.

Pembaharuan Pemikiran islam ia mulai dengan gagasan sekularisasi nya. yang dimana gagasan ini langsung menuai kritikan pedas dari teman-temannya sendiri.  Karena dikhawatirkan gagasan Cak Nur ini dapat membatasi Islam dalam kontek bernegara. 

Namun konsep sekularisasi yang dimaksud Cak Nur tidaklah demikian, ia menegaskan bahwa konsep sekularisasi bukanlah sekuralisme dan mengubah kaum muslim jadi sekuralis.  Namun ia hanya ingin umat islam menduniawikan hal yang bersifat dunia dan melepaskan kecenderungan untuk mengukhrowikannya.

Konsepsi sekuralisasi Cak Nur menurut menurut Fahri Ali dan juga Bahtiar Efendi dimaksudkan sebagai lembaga bagi umat Islam untuk “membedakan”  bukan memisahkan duniawi dan akhirat. Karena pemikiran Cak Nur terlahir dari dua prinsip Islam yaitu tauhid dan juga khilafah fil ard.

Ide sekuralisasi Cak Nur kalau kita lihat dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ide itu ditujukan untuk merespon kondisi umat islam yang tengah dihadapkan dengan persoalan politik 70-an.  Bahwa banyak sekali partai berlebel islam dan Masyarakat yang menjadikan memilih partai itu seolah – olah memiliki makna ukhrowi, sehingga dari sana Cak Nur mengeluarkan jargon barunya “islam yes, partai islam no“. 

Yang menarik gagasan modernisasi dan pembaharuan pemikiran Islam Nurcholis Madjid adalah ia berbeda dengan yang lain. Dia memandang modernisasi sebagai rasionalisasi bukan westrenisasi. Bila modernisme cenderung meninggalkan sesuatu yang lama dan mengambil sesuatu yang baru, justru Cak Nur berpandangan harus menjaga sesuatu yang lama yang dinilai baik dan mengambil yang baru dan jelas baik pula. 

Methode seperti ini tidak hanya ia terapkan dalam filsafat dan pemikiran namun ia terapkan dalam tasawufnya. Tidak banyak orang yang tau mengenai Tasawuf nya kebanyakan penelitian hanya mengupas wilayah modernisasi, sekuralisasi dan juga pluralisme nya saja. 

Pemahaman tasawuf caknur bukanlah seperti yang dikenal oleh orang-orang dan juga yang diamalkan sufistik populer yang cenderung mengutamakan aspek batin dibandingkan lahiriahnya dan penarikan diri dari aspek sosial. Melainkan lebih mengambil jalan tengah dan mempertemukan keduanya. Hal ini juga yang membedakan tasawuf caknur dan juga Hamka. 

Tokoh tasawuf baik dari suni maupun falsafi dicap oleh sebagian kalangan modernis sebagai penyebab kemunduran umat dan kejayaan islam. Karena pada dasarnya dengan konsep zuhud dan yang lainnya ia seringkali meninggalkan aspek sosial. 

Namun Cak Nur justru menyangkal pendapat yang memojokan para sufi, meskipun dalam sejarah Sufi pernah melakukan penyimpangan tetapi tidaklah elok manakala tasawuf dikambing hitamkan. Sebagai contoh ketika umat Islam mengalami kemunduran intelektual abad 12 dan 13, gerakan sufilah yang menyebar luaskan Islam ke luar Timur tengah terutama asia tenggara.

Pemikiran Neo Sufisme Cak Nur sebetulnya merupakan pengembangan dari Ibnu Taymiah dan juga penggabungan antara tasawuf klasik, Neo Sufisme Fazrul rahman dan juga Tasawuf modern Hamka. 

Cak Nur mencoba menjembatani atau menengahi perselihan yang sering terjadi sehingga ia berusaha memberikan satu alternatif dengan konsep Neo Sufisme nya. Dalam Neo Sufisme Cak Nur mencoba mengajak masyarakat Indonesia untuk mengaplikasikan tasawuf karena tasawuf memiliki akar yang kokoh dalam islam dan memiliki sinergitas dengan syariah. Neo Sufisme merupakan iktiar mengembalikan dan mengaplikasikan tasawuf serta aktif bermasyarakat dan menjadi solusi permasalahan modern. 

Ajaran zuhud, konaah dan tawakal menurutnya merupakan ajaran yang pasif, ajaran ini merupakan ajaran untuk senantiasa berusaha dan bekerja secara maksimal serta tetap dilandasi sikap batin yang mengakui ke Maha hadiran dan Ke Maha Kuasaan Tuhan.

Dari sini kita dapat memahami bahwa Cak Nur merupakan orang yang senantiasa memiliki keluhuran Ilmu dan juga kepedulian terhadap permasalahan keislaman dan juga keindonesiaan. Terlepas dari gagasannya yang sering menuai kritikan tapi pemikiran nya tetap hidup dan relevan dengan kondisi hari ini.