Beranda Keislaman Muamalah Pembaharuan (Tajdid) Dan Modernisasi Fiqh Islam Di Era Milenial

Pembaharuan (Tajdid) Dan Modernisasi Fiqh Islam Di Era Milenial

Harakah.idPengertian fiqh adalah panduan normatif dalam kehidupan umat Islam. Dasar-dasar Islam yang sempurna diaplikasikan dalam kehidupan melalui fiqh. Fiqh bersifat dinamis. Fiqh menerima pembaharuan (tajdid) dan modernisasi fiqh Islam di era milenial.

Agama Islam telah menyempurnakan syariatnya dengan tanpa menanggalkan atau bahkan meninggalkan hal yang musykil setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW sebagaimana telah difirmankan oleh tuhan pada beberapa kutipan ayat dalam Al-Quran: “hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah ku-cukupkan kepadamu nukmat-ku, dan telah ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…”

Dalam menafsiri ayat ini ulama berbeda pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan telah disempurnakannya agama. Namun menurut Imam Qoffal dan ini adalah pendapat yang yang dipilih oleh Ar-Rozi dalam tafsirnya bahwa makna yang dimaksud adalah tentang agama yang sama sekali tidak memiliki sedikitpun kekurangan sampai akhir zaman. Artinya syariat dari Allah swt telah sempurna dan cukup untuk semua zaman.

Memang kata ”hari ini” dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa yang telah disempurnakan oleh tuhan adalah agama dalam arti syariat berupa halal-haram pada hari itu dan yang akan terjadi hari esok belumlah terjawab oleh syariat, namun pasti akan diketahui hukum-hukum kasus yang belum jelas statusnya. Dengan demikian Tuhan telah memiliki ketetapan final bagi semua hukum dalam setiap kasus yang dialami oleh hambanya.

Perbincangan mengenai agama dan hamba memang tidak akan pernah selesai, seiring dengan perkembangan zaman. Siapa yang berani menyangkal bahwa manusia memang sangat membutuhkan agama dalam setiap lini kehidupan. Disadari atau tidak, masyarakat yang agamis lebih menampakkan sisi kemanusiaannya dari pada yang tidak bersandar kepada norma-norma samawi sebagaimana negara-negara komunis yang identik dengan atheis ataupun cukup jauh dan menjauhkan diri dari agama.

Seorang cendekiawan muslim yang juga sejarawan, Syaikh Muhyiddin al-Khayyat mengatakan, “Agama adalah kebutuhan hidup manusia.” Dimanapun agama berada, ia diharapkan dapat memberi panduan nilai bagi seluruh diskursus tindak-tanduk kehidupan manusia, baik yang bersifat sosial-budaya, ekonomi maupun politik. Sementara itu, secara sosiologis tak jarang agama menjadi faktor penentu dalam proses transformasi dan modernisasi. Permasalan yang muncul kemudian adalah bagaimana menjadikan agama benar-benar menyajikan hidangan solutif terhadap setiap kasus yang lahir ditengah-tengah masyarakat dimana secara lahiriyah kasus tersebut tidak ditemukan dalam aturan normatif Islam (Al-Qur’an dan al-hadits).

Pengertian Fiqh

Fikih sebagai undang-undang normatif dari agama Islam diharapkan mampu memberikan jalan  keluar terhadap hiruk-pikuk kehidupan manusia yang tiada hentinya selalu melahirkan kasus-kasus baru terlebih diera milenial saat ini agar menjadi pedoman hidup masyarakat Islam sendiri. Artinya tidak hanya menentukan status hukum apakah boleh atau tidaknya untuk dilakukan, melainkan juga menyajikan hikmah at-tasyri’iyah (hikmah pensyariatan hukum Islam) kepada masyarakat sehingga fikih tidak hanya mampu menghakimi melainkan juga mengayomi masyarakatnya. Sebenarnya tidak diragukan lagi bahwa setiap hukum Islam mengandung hikmah di dalamnya, akan tetapi yang sangat penting adalah bagaimana kemudian hikmah itu terangkat kepermukaan agar masyarakat memiliki pandangan hidup terhadap keputusan syariat serta menjadi pertimbangan bagi para hakim-hakim agama saat ini untuk memutuskan sebuah hukum.

Sebelum beranjak kepada kasus yang belum ditemukan status hukumnya, ketentuan-ketentuan fiqh yang sudah paten ternyata tidak sedikit yang mempertanyakan alasan mengapa syariat memerintahkan atau melarangnya seperti mengapa zakat menjadi salah satu rukun Islam, kenapa minum minuman beralkohol termasuk dosa besar, apa manfaat fisik dan spiritual dari berpuasa di bulan ramadhan dan lain sebagainya. Perkembangan pola pikir manusia meminta agar fiqh tidak hanya sebuah aturan yang lahir semata-mata dari wahyu melainkan juga sebuah pedoman hidup yang rasional sehingga tampak nyata bahwa ia adalah lentera yang menerangi jalan menuju lembah maslahat

Maqasid syariah adalah prinsip-prinsip yang menyediakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas dan sejenisnya tentang hukum Islam. Maqasid mencakup hikmah-hikmah yang dibalik hukum, misalnya meningkatkan kesejahteraan sosial, sebagai salah satu hikmah dari diwajibkannya zakat, meningkatkan kesadaran akan kehadiran allah swt sebagai salah satu hikmah dibalik puasa. Maqasid juga menjadi tujuan-tujuan baik yang ingin dicapai oleh hukum-hukum Islam, dengan membuka sarana menuju kebaikan (fath al-dzara’i’) atau menutup sarana menuju keburukan (sadd al-dzara’i’). Dengan demikian menjaga akal dan jiwa manusia menjelaskan larangan tegas Islam terhadap minuman beralkohol dan minuman penghilang akal lainnya (intoxicont).

Begitulah sebuah tawaran konsep maqasid syariah oleh para ulama kepada ummat muslim didalam menjalani kehidupan beragama dengan remote control berupa fiqh. Namun tidak hanya itu, sebenarnya para ulama telah berhasil menampakkan hukum-hukum yang tidak disinggung keberadaannya secara langsung oleh nash syar’i melalu ijtihad-ijtihad mereka. Berbagai putusan hukum yang tersebar dikitab-kitab yang dahulu hanya berupa fiqh iftiradhiyah (fiqh pengandaian), kini benar-benar terjadi. Begitulah kehebatan para ulama terdahulu, mereka membuat berbagai keputusan dengan imajinasi dan pengandaian sebuah kasus serta kaitannya dengan hukum Islam akan tetapi kemudian saat ini telah ber-transformasi menjadi fiqh waqi’iyah (fiqh aktual).

Menyadari hal tersebut, kaum tradisionalis (orang-orang pesantren) memiliki sebuah tradisi yang dikenal dengan Bahtsul Masa’il. Kegiatan ini adalah forum diskusi untuk menetapkan status hukum dari pelbagai kasus aktual yang terjadi di masyarakat. Pijakan utama dalam forum ini adalah turast (teks-teks kitab kuning) sehingga seandainya audien menyampaikan argumentasi berdasarkan nalar atau serupa tanpa menampilkan sebuah referensi kitab kuning maka argumentasinya akan ditolak mentah-mentah. Forum ini telah melahirkan banyak sekali hukum-hukum kasus aktual, mulai dari ubudiyah, sosial kemasyarakatan, hingga politik kenegaraan. Sumbangsih pondok pesantren melalui hasil rumusan bahtsul masail menjadi pertimbangan yang sangat diperhatikan dalam tindak-tanduk kehidupan sebagaimana telah banyak dari rumusan-rumusan tersebut yang menjadi pertimbangan pemerintah dalam membuat kebijakan tertentu.

Akan tetapi tidak selamanya metode ini tepat untuk dijadikan sandaran hukum, sumber-sumber yang menjadi rujukan hanya stagnan pada sejumlah fatwa ulama yang tersebar dalam berbagai literasi salaf dimana ia ditulis pada masa yang jaraknya cukup jauh dari waktu terjadinya sebuah kasus tertentu yang dibahas. Tidak hanya bermasalah dari tinjauan waktu, situasi dan kondisi mushonnif (pengarang kitab) tidak mungkin sepenuhnya sama dengan apa yang terjadi saat ini. Disisi lain, tradisi masyarakat juga mendapat perhatian khusus dari syariat. Keputusan para cendekiawan hukum Islam tersebut tidak mungkin lepas dari konsep ijtihad baik dalam ranah praktik maupun produk hukum yang dihasilkan, semantara ijtihad sendiri terkadang mengantarkan kepada hukum untuk menyesuaikan diri dengan waktu, situasi dan kondisi tertentu. Sebenarnya bukan hukumnya yang berubah namun hukum tersebut sudah tidak lagi bisa diterapkan, sehingga yang berubah adalah penetapan hukum berdasarkan konsep tersebut tidak lagi tepat.

Kelemahan turast pada sisi ini sering kali dilupakan oleh para aktivis bahtsul masail sehingga kemudian forum ilmiyah ini terkadang melahirkan produk hukum yang kaku lantaran menyesuaikan diri dengan teks-teks kitab kuning, tanpa diberi ruang untuk beradaptasi dalam rangka menyesuaikan diri dengan zaman dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan tujuan syariat yang sudah ada. Padahal termasuk diantara konsep di dalam bahtsul masail sendiri adalah ilhaqul masa’il (menyamakan kasus tertentu kepada kasus yang jelas status hukumnya dalam turast ulama salaf ketika memiliki prinsip hukum yang sama), maka kemudian bagaimana mungkin tawaran hukum berdasarkan metode istinbath al-ahkam yang berlandaskan pada maqasid dan hikmah-hikmah dibuatnya sebuah hukum ditolak mentah-mentah.

Lahirnya berbagai diskursus kehidupan bermasyarakat baik politik, sosial maupun ekonomi meminta fiqh untuk selalu di-upgread agar menyesuaikan diri dengan perkembangan kasus-kasus tersebut. Ditemukannya kasus yang sama sekali tidak pernah terdeteksi keberadaannya oleh para praktisi hukum Islam terdahulu (para ulama klasik) seperti membuka ruang kepada para pakar hukum di zaman ini untuk melakukan pembaharuan, dalam arti melakukan kajian ulang terhadap manath at-tasyri’ (pijakan-pijakan pensyariatan hukum Islam) sehingga menjadi pertimbangan utama untuk menentukan status hukum yang lebih solutif dan relevan dengan ruang dan waktunya dari pada produk-produk yang sudah ada yang tidak lagi tepat untuk diterapkan, dalam hal ini ushul fiqh membahasakannya dengan istilah tahqiq al-manath.

Hal ini juga didukung oleh pernyataan Rois Syuriah PBNU, KH. Afifuddin Muhajir dalam salah satu bukunya; Fiqh Tata Negara, beliau mengatakan bahwa maksud sempurna dan final dalam agama sebagaimana dalam ayat yang telah disinggung di atas bukan berarti tidak ada aktivitas lagi bagi kaum muslimin terkait persoalan syariat agamanya. Justru, dibalik kesempurnaan dan finalnya agama Islam tersembunyi vitalitas yang tidak ada habisnya dan aktivitas yang tidak ada akhirnya. Hal ini yang membuat perkembangan hukum Islam menjadi sangat semarak. Dengan perpaduan antara sifat tegar dan lentur, syariat Islam menjadi ajaran yang unik, bukan sesuatu yang cair dan mudah hanyut serta bukan pula sesuatu yang beku dan selalu menentang arus, ia merupakan sesuatu yang tegak dengan penuh keseimbangan antara dua sifat tersebut.

Kesimpulan umumnya adalah bahwa saat ini umat Islam sangat membutuhkan ulama-ulama seperti Asy-Syafi’i, al-Ghazali, al-Nawawi dan yang lainnya untuk memberikan pengertian fiqh sebagai fatwa hukum sesuai cita-cita syari’(pembuat syariat) dengan tetap memperhatikan situasi dan kondisi umat, sehingga melahirkan hukum-hukum yang memadukan sebuah kelenturan dan ketegaran dimana hal ini pernah dilakukan oleh mereka pada masanya.

Dengan demikian anak-anak pesantren baik dengan didikan klasik maupun modern adalah satu-satunya sumber daya manusia yang akan lahir menjadi al-Ghazali modern untuk memenuhi kebutuhan masyarakat milenial dengan sajian-sajiannya yang renyah dengan tetap berada pada garis nash syar’iy serta ajaran dan prinsip salaf.

*Artikel kiriman dari Solihen Mahasantri Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...