Beranda Tokoh Pemikiran Fiqh Sosial yang Kontekstual Menurut Kiai Sahal Mahfudz

Pemikiran Fiqh Sosial yang Kontekstual Menurut Kiai Sahal Mahfudz

Harakah.id Maka pada dasarnya, semua perangkat penalaran yang dimiliki fiqih ini dapat rnemungkinkan fiqh untuk dikembangkan secara kontekstual, sehingga tidak akan ketinggalan perkembangan sosial yang ada.

Akidah dan syari’ah adalah dua pokok ajaran terpenting dalam Islam. Akidah berupa kepercayaan atau keimanan, sedangkan syari’ah berkaitan dengan aturan-aturan yang mengatur  kehidupan muslim sehari-hari baik ibadah, muamalah, ataupun jinayah.

Dan kedua pokok ajaran islam ini, yaitu akidah dan syari’ah adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama laiannya. Dalam artian, seberapa kuat atau jauhnya ibadah seseorang adalah bentuk representasi dari bentuk  keimanannya yang juga kuat.

Sebelum membahas mengenai fiqh secara mendalam, kita perlu mengetahui terlebih dahulu beberapa jenis ibadah yang diatur oleh Fiqh yang merupakan bagian dari syari’at Islam. Ibadah terbagi menjadi dua macam yaitu, pertama, ibadah individual atau qasirah, dimana kebermanfaatan ibadah tersebut hanya dirasakan oleh individu yang bersangkutan atau pelaku ibadah.

Kedua, ibadah sosial atau muta’addiyah, dimana kebermanfaatan ibadah tersebut dirasakan oleh individu yang bersangkutan serta orang lain. Dan hendaknya, bagi seorang  muslim yang ingin meningkatkan kualitas ibadahnya, ia harus meningkatkan terlebih dahulu keimanannya kepada Allah serta semua aturan dari Allah, begitu juga ia harus iman terhadap faedah yang akan ia dapatkan atas amal ibadah yang ia lakukan.

Akan tetapi, dalam kondisi sosial saat ini, tidak jarang pandangan yang melihat bahwa fiqh yang merupakan bagian dari syariat Islam tidak searah dengan kehidupan sehari-hari yang dijalani manusia karena fiqh terlihat sangat formal. Padahal, hakikat fiqh itu sendiri tidaklah bersifat formalitas seperti pandangan mereka.

Paradigma berpikir bahwa fiqh bersifat tetap atau formal ini menjadi sebuah permsalahan karena fiqh dianggap baku dan tidak bisa diubah ataupun diganggu gugat meski sudah tidak relevan dengan zamannya.

Bahkan fiqh yang terdapat di dalam  kutub-al turats dianggap sebagai kitab suci kedua setelah al-Qur’an. Maka sebaiknya, pemikiran semacam ini dikurangi dengan cara memberi masukan kepada mereka agar tidak terlalu tekstual atau mengurangi sifat tekstualisnya yang berlebihan dalam memahami kitab-kitab fiqh tersebut dengan tujuan agar fiqh tidak dianggap sebagai sebuah ilmu yang bersifat kaku.

Di samping itu, masukan ini juga bertujuan agar kitab-kitab fiqh tersebut tidak hanya dipahami atau digemari oleh ahli fiqh saja, akan tetapi kitab-kitab fiqh juga berhak digemari bahkan dipahami oleh siapapun yang ingin mengkaji persoalan salah satu pokok ajaran agama Islam, yakni syari’at.

Dilihat dari sisi terminologisnya, fiqh adalah yurisprudensi hukum Islam yang memiliki sistematika tersendiri dan berlaku sepanjang masa. Meskipun begitu, fiqih tidak berdiri sendiri, akan tetapi, ia dibantu oleh ilmu teoritik lainnya dalam menghasilkan sebuah keputusan, kaidah fiqh dan ushul fiqh misalnya yang membahas kategori hal yang dapat digunakan dalam mengambil keputusan.

Ataupun ilmu mengenai al-Qur’an dan Hadis sebagai dua sumber hukum penting dalam syari’at Islam, ataupun komponen ilmu bahasa arab lainnya yang menjadi penunjang dalam ilmu fiqh ini.

Maka pada dasarnya, semua perangkat penalaran yang dimiliki fiqih ini dapat rnemungkinkan fiqh untuk dikembangkan secara kontekstual, sehingga tidak akan ketinggalan perkembangan sosial yang ada. Nabi pernah menganjurkan agar kaum rnuslimin memperbanyak keturunannya. Dalam era over populasi seperti sekarang ini, anjuran tersebut tidak bisa dipahami secara dangkal, yakni bahwa Nabi memerintahkan untuk memperbanyak anak secara kuantitatif. Akan tetapi sebaliknya, anjuran tersebut adalah bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup keturunan muslimin.

Dan menurut Kiai Sahal, posisi fiqih dalam tatanan sosial yang ada dan dibarengi dengan keinginan untuk meningkatkan ibadah sosial yang lebih utama dari pada ibadah individual maka tentu keinginan tersebut akan mudah tercapai secara proporsional untuk kemudian ditindaklanjuti pada masa-masa yang akan datang. Sehingga fiqih atau komponen ajaran Islam lainnya tidak harus selalu disesuaikan dengan keadaan zaman yang ada, akan tetapi bagaimana mengaplikasikan fiqih secara baik dan benar serta mudah diterima oleh khalayak umum tanpa keresahan.

Artikel kiriman dari Nurul Afifah, Mahasantri Putri International Institute for Hadith Sciences Darus Sunnah Jakarta

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...