Pemikiran Kiai Tholchah Hasan Yang Bikin Saya Kaget

1
454
Pemikiran Kiai Tolchah Hasan

Ada pemikiran Kiai Tolchah Hasan yang bikin saya kaget. Beliau adalah salah satu alumni Tebuireng, murid Kiai Idris Kamali. Beliau salah satu idola saya. Pemikirannya luas.

Saat masih nyantri di Lirboyo, saya pernah dapat tugas mewawancarai beliau. Kalau gak salah saat itu beliau habis ngisi kegiatan yang diadakan M3HM, semacam OSIS di madrasah kami. Beliau ceramah tentang dinamika Aswaja.

Di depan ndalem barat Yai Idris Marzuki, saya duduk di bawah, beliau di atas kursi. Sambil pegang recorder, tangan agak gemetar. Wawancara pertama, dengan tokoh nasional lagi. “Ketua umum” Badan Wakaf Indonesia (BWI), mantan menteri agama.

Wahhabi dan Abduhis Itu Aswaja

Kami membicarakan tentang dinamika Aswaja. Pemikirannya yang bikin saya kaget saat itu, konsep Aswaja beliau ternyata lebih luas daripada yang saya pelajari dalam kitab kuning yg jadi diktat pesantren. Biasanya, Aswaja diartikan sebatas para pengikut mazhab dalam masalah fiqih, kalam dan tasawuf. Ini paten sejak era ulama mutaakhirin hingga Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Berdasarkan pandangan yang paten ini, tentu saja akan ada banyak kelompok yang akan diekseklusi dari komunitas Aswaja. Kaum Wahhabi dan pendukung modernisme Abduh yang menolak bermazhab contohnya. Nah, menurut beliau, kaum Wahhabi dan Abduhis itu Aswaja dalam arti yang luas.

Tentu saja sebagai santri, yang saat itu macak “wartawan” pondok, bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Sekalipun dibuka kesempatan berdebat, belum tentu juga saya bisa mendebat, karena memang beda maqam dan kapasitas. Akhirnya, rasa gatel lagi penasaran itu menumpuk dalam pikiran. Saya terus kepikiran. Ya, mungkin karena beliau berada dalam tingkat pengetahuan yang jauh di atas. Tapi hal itu belakangan membuat saya merenung, mengapa kader NU militan seperti beliau justru mendekonstruksi konsepsi Aswaja yang telah mapan ratusan tahun. Menjadi lebih inklusif. Saya berfikir, mungkin karena wawasan yang luas, beliau berpendapat seperti itu. Sebagai santri tingkat tsanawiyah, yang bacaannya serba terbatas, tentu keluasan wawasan itu membuat pandangan lebih luwes dan akomodatif. Bagi saya itu menarik dan menginspirasi. Pokoknya, saya saya tergila-gila dengan cara berfikir yang berwawasan luas itu.

Masalah Wakaf Uang

Belum lagi bicara wakaf. Beliau adalah salah satu ulama yang membolehkan wakaf dengan uang. Padahal, dalam standar mazhab Syafi’i mestinya tidak boleh. Ini jadi terkaget-kaget lagi. Waw lagi pokoknya saat itu.

Di kemudian hari, dengan semakin banyak mengenal pemikiran tokoh NU lain, ternyata pandangan yang mendobrak tradisi pemikiran yang paten itu, bukan fenomena Kiai Tolchah saja. Tetapi ada Kiai Said Aqil Siraj dan Kiai Ali Mustafa Yaqub, allahuyarham. Kiai Ali Mustafa memasukkan Wahhabi sebagai Aswaja dengan argumen mereka itu sebenarnya Hanbali, satu mazhab muktabar dalam Aswaja. Kiai Said lebih inklusif lagi, memasukkan Muktazilah dan Syiah dalam Aswaja dengan catatan tertentu, setidaknya sejauh yang saya pahami dari interaksi dengan (tulisan) beliau.

Senang sekali bertemu orang-orang besar serta dapat mengambil faedah dari mereka. Dua tokoh itu telah berpulang ke rahmatullah. Allah mencabut ilmu melalui wafatnya seorang ulama. Semoga NU tidak kehabisan stok ulama, dan insyaallah sepertinya tidak akan habis dalam waktu dekat ini. Untuk Prof Dr KH Tolchah Hasan, alfatihah..

Sumber: FB M Khoirul Huda