Pemikiran Najib Al-Kilani Soal Pertentangan Islam dan Pluralisme Agama

0
303

Harakah.idBelakangan bangsa Indonesia disuguhi wacana pertentangan antara Islam dan pluralisme agama. Pluralisme agama disamakan dengan penyamaan agama-agama. Najib Al-Kilani punya pandangan berbeda. Pluralisme agama buka menyamakan agama-agama, karenanya tak perlu dipertentangkan. Lalu apa itu pluralisme agama menurut Al-Kilani?

Islam secara teologis dan historis tidak dapat dipisahkan dari agama-agama lain. Namun, bentuk dan corak hubungannya berlangsung menurut konteks tertentu dalam lintasan sejarah yang spesifik. Pengakuan terhadap pluralisme agama dalam suatu komunitas umat beragama menjanjikan dikedepankannya prinsip inklusifitas—suatu prinsip yang mengutamakan akomodasi dan bukan konflik – di antara berbagai klaim kebenaran agama dalam masyarakat yang heterogen secara kultural dan religius. 

Mengenai pluralisme dalam tradisi Islam, Najib Al-Kilani berpendapat bahwa Islamisme adalah metode pemikiran dan perilaku yang menggabungkan teori dan praktiknya. Pendekatan yang dipakai dalam hal ini adalah pendekatan Ilahi, di mana tidak ada manusia yang lebih baik daripada Tuhan. Tuhan adalah satu-satunya yang berkuasa menjadikan dasar kehidupan seimbang untuk makhluknya (al-Kilani, 1997, hal. 7).

Najib Al-Kilani berpendapat bahwa dalam masalah hukum, hubungan internasional, friksi militer, inovasi sastra dan seni, konsep komprehensif ini bukanlah tiruan dari ide-ide filsuf kuno atau upaya artifisial untuk menyoroti agama Islam dalam bentuk yang asing. Tetapi, islamisme merupakan filsafat ketuhanan yang komprehensif, sehingga mampu menutupi wajah kehidupan dengan segala aspek dan citranya, baik dalam kehidupan manusia, aspek politik, ekonomi, sosial, dan pengetahuan (al-Kilani, 1997, hal. 8).

Untuk itu, Islam memandang pluralisme sebagai sikap saling menghargai dan toleransi terhadap agama lain. Namun, bukan berarti semua agama adalah sama. Artinya, setiap pemeluk agama tidak menganggap bahwa Tuhan yang disembah adalah satu. Tetapi, meskipun demikian, Islam tetap mengakui adanya pluralisme agama, yaitu dengan mengakui perbedaan dan identitas agama masing-masing. 

Pluralisme pada dasarnya merupakan kelanjutan dari sikap toleransi moral dan koeksistensi. Sikap toleransi ini adalah kebiasaan saling menghargai perbedaan sekadarnya di permukaan. Sedangkan, koeksistensi adalah menerima eksistensi pihak lain. Tetapi tidak mengekang sehingga memunculkan konflik (Wibisono, 2016, hal. 13). Menurut Najib Al-Kilani, pluralisme agama dapat dijadikan salah satu alternatif untuk menyadari bahwa dunia sedang dalam tahap krisis yang mengorbankan banyak warga negaranya. Banyak di antara elit politik yang tidak paham tentang bagaimana rakyatnya menderita, diambang kebingungan, khususnya pada dunia Islam (al-Kilani, tt, p. 19). 

Perselisihan, kemarahan, ketegangan, tekanan, dan banyak ketidakadilan yang diterima rakyat membuat Najib Al-Kilani kian geram. Dia berpendapat bahwa untuk mengalahkan kekuasaan rezim tersebut, perlulah adanya kesatuan baik dari segi entitas politik, ekonomi, ideologis sehingga tercipta hubungan yang saling terkait dan kompleks, namun tetap terorganisir (al-Kilani, tt, p. 20).

Para pendahulu telah memberikan pembelajaran yang sangat berarti untuk dipahami. Ketika negara Islam adalah negara intelektual, maka setiap pembawa panji tauhid adalah warga negara itu sendiri, yang telah membawa ke arah modernitas dan progresifitas. Lalu, bagaimana dengan adanya agama selain Islam? Ini adalah pertanyaan yang lucu dan mengandung tipuan. Diketahui bahwa kehadiran Muslim sebagai minoritas di Amerika, Eropa, China, India, atau negara lainnya, tidak menjadikan seorang Muslim dipaksakan untuk mengadopsi cara hidup dan pandang non-muslim, begitu pun sebaliknya; orang-orang Muslim tidak pernah memaksakan kehendaknya untuk menjadikan hokum Islam sebagai pandangan hidup di negara yang mayoritasnya adalah orang-orang non-muslim. (al-Kilani, tt, p. 21).

Tujuan pluralisme agama yang diusung oleh Najib Al-Kilani tentunya untuk menyatukan kekuatan rakyat yang meyakini dan memenuhi hukum Tuhan untuk berbaris dalam satu langkah, satu bendera, satu rasa, yaitu panji tauhid. Karena menurutnya, setiap kita adalah orang-orang yang tidak berasal dari regionalisme sempit atau kecenderungan intelektual. Perbedaan terkait kepercayaan ini, bukan untuk dijadikan alasan untuk saling memerangi satu sama lain, melainkan untuk membebaskan manusia dari ketakutan, perbudakan, kesusahan, ketidakadilan, menyebarkan kebajikan, perdamaian, dan cinta di antara semua manusia. Memerangi korupsi, dekadensi, penindasan di mana saja, agar semua orang dapat menikmati kebahagiaan, keamanan, dan kemakmuran (al-Kilani, tt, p. 22).

Walaupun Najib Al-Kilani setuju dengan adanya pluralisme agama. Tetapi, keyakinannya terhadap Islam sungguh besar. Menurutnya, siapa pun yang mempertajam keyakinan, memperjelas tujuan, dan berpegang teguh pada prinsip yang kuat, maka menjadi Muslim telah membuat manusia itu sendiri berkomitmen pada Islam dalam hal metode dan perilakunya (al-Kilani, tt, p. 23).

Mereka yang setuju akan pluralisme agama, bukan hanya memegang prinsipnya kepada Tuhan. Tetapi, menjadikan itu sebuah panggilan untuk keselamatan dari kesulitan sejarah yang mencekik, panggilan untuk hidup, seruan untuk kebebesan—membebaskan jiwa dari ketakutan, kebohongan dan ilusi. Membebaskan pikiran dari filosofi yang sakit, ide-ide etnis, fanatisme buta, peniruan, membebaskan diri dari perilaku yang tidak baik, membatasi diri dari pelanggaran pembebasan dari penghinaan kebutuhan, sifat kemunafikan, ketenaran, dan keserakahan. Seorang pemeluk pluralisme memiliki misi untuk dapat mengubah generasi-generasi muda untuk tidak terjerumus ke dalam lubang yang sama, mengarahkan mereka untuk dapat mencapai apa yang belum tercapai, memahamkan makna tanah air; khususnya untuk seorang Muslim yang harus meyakini prinsip-prinsip Islam. Sehingga, dapat meleburkan diri dengan orang-orang non-muslim baik dari ras yang berbeda, warna kulit yang berbeda, bahasa, bahkan kewarganegaraan yang berbeda. Semua harus dipahami dengan seksama, agar terjalin toleransi di antara sesama pemeluk agama (al-Kilani, tt, pp. 24-25)

*Artikel ini ditulis oleh Anna Zakiyyah Derajat, penulis buku “Lelaki dan Seribu Puisi di Tubuhnya dan mahasiswa Pascasarjana Konsentrasi Kajian Timur Tengah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Instagram: @annazakiyyahderajat.