Pendapat Ulama Tentang Bolehnya Merayakan Maulid Nabi

0
2063

Harakah.id – Inilah pendapat ulama tentang bolehnya merayakan Maulid Nabi. Kebanyakan ulama membolehkan dan menilai sebagai perkara yang baik (hasanah) dan terpuji. Sementara sebagian lainnya melarang dan menilai bid’ah makruhah.

Merayakan kelahiran Nabi Muhammad saw telah menjadi tradisi di kalangan umat Muslim, terutama di kalangan masyarakat Muslim Nusantara. Setiap bulan Rabiul Awal mereka memeriahkan bulan dan hari kelahiran Nabi dengan cara berkumpul membaca kisah Nabi Muhammad saw, tabligh akbar, dan lain sebagainya. Kebanyakan ulama membolehkan merayakan maulid Nabi Muhammad saw, dan sebagian kecil ulama melarang.

Baca Juga: Doa di Antara Sujud yang Benar dalam Islam Ini Dituduh Bid’ah

Di antara ulama yang menyatakan pendapat tentang bolehnya merayakan Maulid Nabi adalah Imam Al-Suyuthi (w. 911 H). Beliau berkata dalam kitabnya Al-Hawi lil Fatawa;

عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ  أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات، ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار  الفرح  والاستبشار بمولده الشريف

“Menurut saya, hukum pelaksanaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam (saw), yang mana pada hari itu masyarakat berkumpul, membaca Al-Qur’an, dan membaca kisah Nabi Saw pada  permulaan perintah Nabi Saw serta peristiwa yang terjadi pada saat beliau dilahirkan, kemudian mereka menikmati hidangan yang disajikan dan kembali pulang ke rumah masing-masing tanpa ada tambahan lainnya, adalah bid’ah hasanah. Diberi pahala orang yang memperingatinya karena bertujuan untuk mengangungkan Nabi Saw serta menunjukkan kebahagiaan atas kelahirannya.”

Baca Juga: Hujjah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Kitab yang Ditulis Ulama Jogja Untuk Membantah Tuduhan Bid’ah

Pendapat lain tentang bolehnya merayakan maulid Nabi Muhammad saw, sebagaimana dinyatakan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 973 H). Beliau juga membolehkan merayakan maulid, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Halbi dalam kitabnya Al-Sirah Al-Halbiyah berikut;

والحاصل ان البدعة الحسنة متفق على ندبها وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك اي بدعة حسنة

“Kesimpulannya bahwa bid’ah hasanah telah disepakati kesunnahannya. Melakukan maulid dan berkumpulnya manusia untuk maulid juga termasuk bid’ah hasanah.”

Imam Ibnu Abidin Al-Hanafi (w. 1252 H) mengatakan;

اعلم ان من البدع المحمودة عمل المولد الشريف من الشهر الذي ولد فيه صلى الله عليه وسلم

Termasuk bid’ah terpuji adalah melakukan maulid di bulan Nabi Saw dilahirkan.”

Baca Juga: Inilah Bacaan Dzikir Ibnu Taimiyah Yang Berasal dari Kaum Sufi, Bid’ah Tapi Ampuh

Adapun di antara ulama yang melarang adalah Ibnu Taimiyah (w. 728 H). Belaiu berkata dalam kitabnya Iqtidhaus Shirathil Mustaqim berikut;

وكذلك ما يحدثه بعض الناس إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام وإما محبة للنبي صلى الله عليه و سلم وتعظيما له والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد لا على البدع من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه و سلم عيدا مع اختلاف الناس في مولده

“Begitu pula halnya dengan kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian orang, adakalanya perbuatan mereka menyerupai tingkah laku Nasrani dalam memperingati kelahiran Nabi Isa. Adakalanya juga maksud mereka adalah mencintai dan mengagungkan Nabi Saw. Allah memberi ganjaran kepada mereka dikarenakan kecintaan dan kesungguhan mereka, dan bukan karena bid’ah dengan menjadikan maulid Nabi Saw sebagai hari raya padahal para ulama telah berselisih pendapat mengenai tanggal kelahiran beliau.”

Demikian sebagian pendapat ulama tentang merayakan maulid Nabi Saw. Kebanyakan ulama membolehkan dan menilai bid’ah yang baik (hasanah) dan terpuji. Sementara sebagian lainnya melarang dan menilai bid’ah makruhah.

Baca Juga: Salah Kalau Ada yang Bilang Bid’ah, Hukum Ziarah Makam Wali Itu Sunnah Kok!
Baca Juga: Maulid Nabi Pada Era Dinasti Abbasiyah, Peran Permaisuri Khaizuran