Beranda Headline Pengajian Gus Baha dan Panggung Kebudayaan yang Berlangsung di Pantat-Pantat Truk

Pengajian Gus Baha dan Panggung Kebudayaan yang Berlangsung di Pantat-Pantat Truk

Harakah.id Pengajian Gus Baha di pantat-pantat truk menggambarkan bagaimana kebudayaan bekerja sekaligus alat uji bagi orientasi dakwah yang selama ini mengisi visi pengajian-pengajian Gus Baha.

Kebudayaan bisa terselenggara di mana saja. Mulai dari hotel megah, panggung teater sampai warung kopi di gang-gang kumuh dan pantat-pantat truk yang memuat pakcoy. Kebudayaan juga bisa diselenggarakan siapa saja. Mulai dari para politisi, negarawan, budayawan, seniman sampai para pemikul tong-tong oli bekas dan sopir yang mengunyah aspal tujuh kali dalam seminggu.

Seperti kehidupan, kebudayaan selalu soal pertarungan. Di satu kesempatan ia menyuguhkan muncratan darah, bulir keringat dan rembesan air liur, namun di kesempatan yang lain ia justru menumbuhkan bunga dan menciptakan hujan. Perbedaan yang muncul dalam konteks pengalaman manusia bersentuhan dengan kehidupan, membuat simpang jalannya kebudayaan selalu bercabang. Bahkan tak jarang kebudayaan membentuk satu pola labirin yang membuat banyak orang susah mengidentifikasi antara yang sebab dan yang akibat, antara yang asal dan yang tujuan, antara yang asli dan yang tiruan ataupun antara yang dari dan yang ke. Di hadapan persimpangan-persimpangan tersebut, setiap cabang jalan punya angka kemungkinan yang setara untuk ditelusuri.

Penolakan kebudayaan pada setiap upaya pengukuran, pengidentifikasian, penstandaran, pembatasan dan perincian membuktikan karakter asal kebudayaan itu sendiri. Ia adalah ekspresi yang muncul dari ruang-ruang intuisi, yang secara spontan keluar dan membentuk produk-produk kebudayaan. Karena sifatnya yang intuitif, maka secara umum, kebudayaan akan selalu lahir sebagai sebuah keniscayaan konsensus.

Meskipun pada akhirnya akan lahir kebudayaan dominan – dan karena itulah kebudayaan akan selalu tumbuh dan berdialektika -, ia muncul bukan untuk diperbandingkan dengan kebudayaan minor dan kecil. Sebuah dominasi kebudayaan lahir karena ada satu kecenderungan dominan dalam proses panjang ekspresi manusia dan cara mereka memahami serta memaknai pengalamannya – di samping juga karena faktor-faktor pendukung lainnya seperti kepentingan dan media. Tapi dalam tindihan inilah proses kebudayaan bertemu dalam sifatnya yang bertarung dan berkontestasi.

Dalam konteks semacam ini, kebudayaan pantat truk berkontestasi dengan kebudayaan instagram, facebook, youtube, twitter dan televisi. Meskipun tampak minor, ia toh terbukti sudah berjalan dan menjadi karakter serta media permanen bagi satu ungkapan ekspresi kebudayaan dari para aktor yang menitipkan nyawanya di sela-sela aspal jalanan.

Nah menariknya, Gus Baha, yang seringkali muncul dalam platform kebudayaan mayor kok pada akhirnya juga muncul dalam ruang-ruang pengajian di pantat-pantat bak truk itu? Weleh weleh…

Sejauh amatan saya, hari ini manusia punya dua cara untuk mencapai universalitas. Pertama dengan cara melompat langsung dan melangkahi lokalitas. Sedangkan yang kedua berangkat dan meniti dengan tekun unsur-unsur yang ada dalam ruang-ruang lokalitas. Yang pertama selalu mengasumsikan kalau nilai-nilai lokal tidak akan diterima di ruang-ruang universal. Alih-alih bertemu, keduanya justru tampak kontradiksi.

Gus Baha, sebagaimana yang juga ditunjukkan Didi Kempot, hadir untuk mengubah paradigma tersebut dan secara ampuh menelusuri jalan kedua. Gus Baha berangkat dari dirinya sendiri; sebagai orang pesantren, kiai dan masyarakat desa pada umumnya. Tampilan Gus Baha juga begitu-begitu saja. Suasana pengajiannya juga repetisi dari suasana pengajian di pesantren pada umumnya. Logika berpikir Gus Baha yang sangat bayani-manthiqi juga khas sebagai karakter berpikir orang pesantren. Namun dari seluruh aspek lokalitas ini, pengajian Gus Baha nyatanya berhasil masuk ke dalam universalitas dakwah di abad milenial, menyentuh banyak kalangan dan mempertipis bias ideologi, sektarianisme dan perbedaan kelas.

Dan untuk kesekian kalinya, munculnya pengajian Gus Baha di panggung kebudayaan pantat truk menunjukkan kalau Gus Baha tidaklah elitis. Obyek pengajian Gus Baha adalah masyarakat kecil. Beragama dengan mudah, berislam dengan santai dan bertuhan dengan bahagia adalah tema-tema umum yang sejak awal diproyeksikan untuk mereka yang sudah sibuk bertarung dengan kehidupannya sendiri.

Potongan-potongan pengajian Gus Baha yang tampil dalam parodi kebudayaan olahan para sopir truk pun menggambarkan satu kondisi spesifik, yang timbul dari pengalaman yang juga spesifik.

“Sorban Wali: sanajan kuli, solat nomer siji” adalah level kesadaran yang meletakkan keimanan dan keyakinan pada Allah di atas profesi, pekerjaan maupun stigma yang melekat pada keduanya. Dengan bertuhan, seseorang punya sandaran dan tempat untuk berkeluh kesah. Tuhan dan agama juga hadir sebagai motivasi dan unsur transenden dalam kehidupan manusia-manusia yang dibekuk oleh logika zaman.

Di pantat-pantat truk itu juga kita melihat bagaimana Gus Baha ditampilkan sebagai perwakilan sebuah sikap optimis dan pasrah. Bahwa semuanya adalah milik Allah. Bekerja hanyalah usaha duniawi untuk menghidupi diri dan keluarga. Ia hanyalah titipan, yang bisa Allah beri dan suatu saat juga bisa Allah cabut.

Dari pantat-pantat truk yang terus berseliweran di jalan-jalan antar kota dan antar provinsi tersebut dawuh Gus Baha juga ditebar dan mampu memiliki tempat di ruang-ruang kehidupan manusia yang paling “kumuh” dan “kasar” sekalipun. Dialog antar pantat truk yang saling melempar dawuh Gus Baha tidak hanya menjadi tambatan peluh bagi para sopir truk, tapi juga mereka yang bertarung di bawah sengit matahari dan amisnya aspal jalanan yang mulai berlubang.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...