Beranda Khazanah Pengaruh Ajaran Nabi Idris Terhadap Kepercayaan Bangsa Mesir Kuno

Pengaruh Ajaran Nabi Idris Terhadap Kepercayaan Bangsa Mesir Kuno

Harakah.idAl-Alusi menyebutkan bahwa Allah Swt. menurunkan 30 lembar suhuf kepada Nabi Idris As. Ia menyeru kepada kaumnya agar bertauhid dan mengesakan Allah Swt., beramal saleh, zuhud di dunia, mendirikan salat, puasa beberapa hari dalam sebulan, dan bersedekah. Inilah pengaruh ajaran Nabi Idris terhadap kepercayaan bangsa Mesir kuno.

Al-Qur’an dan hadis tidak banyak menyebutkan nama Nabi Idris As. sehingga menyebabkan buku-buku kisah para nabi cenderung tidak memiliki banyak informasi terkait kisah hidup sang nabi. Namun para ulama Islam tidak berhenti untuk mencoba mengungkap sosok lebih dalam terkait Idris As. Para ulama mengambil keterangan tambahan dari Taurat dan mengkaji buku-buku sejarah hasil penelitian para ahli. Taurat menyebut Nabi Idris As. dengan nama Henokh yang merupakan generasi keenam dari Nabi Adam As. 

Ia bernama Henokh bin Yared bin Mahalaleel bin Kenan bin Enos bin Syits bin Adam. Prof. Rauf Abu Su’dah dalam Min I’jaz al-Qur’an juz 1 hal. 224 memberikan keterangan perihal penerjemahan nama Ibrani ke dalam bahasa Arab. Menurutnya, nama Henokh dalam bahasa Ibrani bermakna kebudayaan dan perencanaan yang bagus. Sementara dalam bahasa Arab, kata yang mengandung makna senada dengan ini adalah dars (pelajaran). Nama Idris terbentuk dari kata dasar darasa yang mengandung arti pembelajar yang cerdas.

Sepeninggal Nabi Adam As. dan Nabi Syits As., banyak dari kalangan orang-orang Mesir yang melenceng dari ajaran nabi mereka. Keturunan Nabi Syits ini hidup menetap di Mesir setelah sebelumnya berpindah dari Jazirah Arab ke tempat lain untuk mencari air dan rerumputan. Kesuburan tanah di sekitar Sungai Nil membuat mereka menetap secara permanen dan tidak perlu lagi hidup nomaden. Orang-orang ini hidup secara berkelompok dan diketuai oleh sosok yang dituakan dan dihormati bagi masing-masing kelompok.

Ketika sosok yang dituakan ini meninggal maka orang-orang mulai membuat patung sebagai bentuk penghormatan. Lambat laun mereka masuk ke jurang kesesatan sehingga menyucikan roh-roh leluhur dan menyembah patung-patung mereka. Kepercayaan adanya roh suci yang mengisi patung ini terus berkembang hingga mereka menyucikan hewan dan benda-benda tertentu. Hanya ada satu kelompok masyarakat yang tidak tersesat yaitu keluarga Yared, ayah Idris As.

Al-Alusi menyebutkan bahwa Allah Swt. menurunkan 30 lembar suhuf kepada Nabi Idris As. Ia menyeru kepada kaumnya agar bertauhid dan mengesakan Allah Swt., beramal saleh, zuhud di dunia, mendirikan salat, puasa beberapa hari dalam sebulan, dan bersedekah. Nabi Idris As. mengharamkan minuman keras dan menjadikan banyak hari raya yang berkaitan dengan bintang-bintang seperti rukyatul hilal dan waktu masuknya sinar matahari ke dalam puncak menara.  

Melihat dekatnya zaman Nabi Idris As. dengan Nabi Adam As., jelas menunjukkan bahwa kondisi Mesir kala itu belum menjadi sebuah negara besar yang dipimpin oleh fir’aun. Kondisi masyarakat masih terpisah-pisah dengan membentuk komunitas masyarakat kecil yang masing-masing kelompok diketuai oleh sosok yang dituakan. Di samping membekali kaumnya dengan ilmu-ilmu agama, Nabi Idris As. juga mengajarkan banyak hal yang memudahkan kehidupan mereka di dunia. Dia adalah guru bagi cikal bakal peradaban Mesir.

Tokoh bernama Idris As. atau Henokh yang dalam cerita rakyat juga disangkut-pautkan dengan Hermes Trismegistus ini merupakan sosok yang memberikan kontribusi yang sangat besar bagi bangsa Mesir Kuno. Prof. Ali Gomaa dalam program TV Mishr Ardh al-Anbiya episode 2 mengutip pendapat Syekh Mahmud Abu al-Faidh al-Minufi dalam bukunya al-Ilm wa al-Din yang menyebutkan bahwa wajah Sfinks Agung Giza merupakan wajah Nabi Idris As. Pendapat ini bisa jadi benar jika Sfinks dibangun terlebih dahulu sebelum piramida-piramida fir’aun di sekitarnya dibangun.

Sepeninggal Nabi Idris As., orang-orang Mesir lambat laun mulai melenceng dari ajaran tauhid yang dibawakan oleh sang nabi. Hanya saja ajaran-ajaran Idris As. telah banyak mempengaruhi kepercayaan bangsa Mesir Kuno. Bangsa Mesir Kuno meyakini bahwa penciptaan alam semesta ini tercipta dari perairan tak bernyawa yang merupakan kekuatan yang ada pada Dewa Nu yang disebut sebagai Dewa yang Maha Esa dan yang Maha Dahulu. Setidaknya kepercayaan ini menunjukkan keyakinan mereka bahwa dunia diciptakan Tuhan.

Dalam Qashash al-Anbiya wa al-Tarikh juz 1 hal. 69-81 karya Prof. Rusydi al-Badrawi disebutkan bahwa bangsa Mesir Kuno meyakini adanya takdir baik dan buruk yang berada di tangan Dewa Shu sejak manusia dilahirkan. Mereka juga percaya bahwa manusia diciptakan dari tanah. Sepertinya mereka pernah mendengar ajaran Nabi Idris As. mengenai hal namun di masa kemudian mereka mewujudkannya dalam bentuk Dewa Khnum yang menciptakan manusia dari tanah lalu Dewi Hekate meniupkan ruh ke dalam jasad manusia. Al-Qur’an menyebutkan:

خَلَقَ الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ (14)

Dia telah menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. (al-Rahman: 14)

Bangsa Mesir Kuno dalam kepercayaan mereka mengenal adanya roh, qarin, kematian, dan kebangkitan. Setelah diciptakan, manusia akan bertemu dengan qarin yang dinamakan ka atas perintah Dewa Ra. Ka ini memiliki bentuk yang sama persis dengan manusia, hanya saja ia tidak terlihat. Mereka juga mengenal roh dengan istilah ba yang digambarkan dengan burung berkepala manusia. Mereka percaya bahwa ketika manusia mati maka ba akan terlepas dari jasad manusia, sementara ka turut menemani manusia di alam kuburnya. Kelak manusia akan dibangkitkan setelah berada di dalam kubur. 

Orang-orang Mesir Kuno percaya dengan hari perhitungan dan penimbangan amal ketika manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya di depan pengadilan. Mereka menggambarkan bahwa para hakim Dewa Osiris menetapkan timbangan amal bagi manusia dengan dibantu oleh Dewa Horus dan Dewa Anubis. Timbangan amal ini hanya ada pada kepercayaan Mesir Kuno yang boleh jadi mereka mengambilnya dari ajaran Nabi Idris As. Al-Qur’an menyebutkan:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ

Kami akan meletakkan timbangan (amal) yang tepat pada hari Kiamat…. (al-Anbiya: 47)

Tampak jelas bahwa kepercayaan-kepercayaan di atas memiliki kaitan erat dengan ajaran Islam meskipun sejatinya mereka pun telah tersesat dari ajaran tauhid Nabi Idris As. Kepercayaan tersebut muncul jauh sebelum piramida-piramida dibangun dan dinasti-dinasti Mesir Kuno terbentuk. Nampaknya sulit diterima jika kepercayaan tersebut muncul sepenuhnya dari akal orang-orang Mesir Kuno tanpa adanya pengaruh dari wahyu yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada salah seorang nabi-Nya.  

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...