Beranda Muslimah Penjelasan Al-Quran Tentang Tamsil Perumpaan Wanita Sebagai Perhiasan

Penjelasan Al-Quran Tentang Tamsil Perumpaan Wanita Sebagai Perhiasan

Harakah.idWanita sebagai perhiasan adalah tamsil yang mungkin sering sekali kita dengar. Ternyata Al-Quran juga menjelaskan perkara ini. Begini uraiannya…

Berbicara tentang permisalan wanita sebagai perhiasan sebagian kita akan teringat hadis riwayat Muslim dari Abdullah bin Amr:   

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا المَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

Dunia itu hiasan. Hiasan terbaiknya adalah wanita salehah. 

Sejatinya terjemahan tersebut kurang tepat, meskipun terjemahan ini sudang terlanjur populer bagi komunitas Muslim. Apalagi terjemahan salah kaprah itu diabadikan oleh musisi senior, Raja Dangdut, Rhoma Irama dalam salah satu lagunya yang berjudul Salehah.

Mengapa terjemah di atas kurang tepat? Sebab kata matâ’ oleh para pakar kosa kata Arab seperti Raghib al-Ashfihani (w. 502 H) melalui bukunya al-Mufradât fî Gharîb Al-Qur’ân dimaknai dengan sesuatu yang bisa bermanfaat dan bisa dinikmati. Memang kata matâ’ dalam Al-Quran ada yang disandarkan ke kata ad-dunyâ seperti Q.S. an-Nisâ’ [4]: 77 dan Q.S. at-Taubah [9]: 38, tapi maknanya bukan hiasan makanya dalam ayat tersebut matâ’ ad-Dunyâ dinilai sangatlah sedikit.    

Sebenarnya ada kata yang digunakan oleh Al-Quran untuk menyebut perhiasaan yaitu dua term; hilyah dan huliyy. Kedua term tersebut berasal dari makna asal yang sama yakni menambah keindahan. Hanya saja term huliyy -menurut Ibnu Faris (w. 395 H) dalam Maqâyîs al-Lugah-nya- menunjukkan barangnya (perhiasan) seperti dalam Q.S. al-A’raf [7]: 148 saat Allah menceritakan kaum Nabi Musa yang membuat patung anak sapi dari perhiasan mereka. 

وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَـٰى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَـٰلِمِينَ

Dan kaum Musa, setelah kepergian (Musa ke Gunung Sinai) mereka membuat patung anak sapi yang bertubuh dan dapat melenguh (bersuara) dari perhiasan (emas). Apakah mereka tidak menge-tahui bahwa (patung) anak sapi itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan). Mereka adalah orang-orang yang zalim. Q.S. al-A’raf [7]: 148

Sementara kata hilyah untuk sifatnya (hiasan). Alhasil Al-Quran menyebut kata hilyah sebanyak empat kali. Pertama, berkenaan dengan ciri wanita yang terbiasa berhias sebagaimana tersurat dalam Q.S. Az-Zukhruf [43]: 18. 

أَوَمَنْ يُنَشَّؤُا فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينِ

Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan sebagai perhiasan sedang dia tidak mampu memberi alasan yang tegas dan jelas dalam pertengkaran. Q.S. Az-Zukhruf [43]: 18

Oleh karenanya -sebagaimana yang dilansir oleh ath-Thabari dalam tafsirnya- hanya wanita yang diperkenankan menghias diri dengan emas dan kain sutera.

Kedua dan ketiga, kata hilyah dipakai Al-Quran untuk menunjukkan perhiasan yang berasal dari lautan sebagaimana termaktub dalam Q.S. an-Nahl [16]: 14 dan Q.S. Fathir [35]: 12. 

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. Q.S. an-Nahl [16]: 14

وَمَا يَسْتَوِي الْبَحْرَانِ هَـٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ سَائِغٌ شَرَابُهُ وَهَـٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَمِنْ كُلٍّ تَأْكُلُونَ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُونَ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ فِيهِ مَوَاخِرَ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan tidak sama (antara) dua lautan; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari (masing-masing lautan) itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai, dan di sana kamu melihat kapal-kapal berlayar membelah laut agar kamu dapat mencari karunia-Nya dan agar kamu bersyukur. Q.S. Fathir [35]: 12

Para mufasir semisal Fakhruddin ar-Râzî (w. 606 H) melalui tafsirnya, Mafâtîh al-Ghaib, menafsirkan kata hilyah tersebut dengan Q.S. ar-Rahman [55]: 22 yakni mutiara (lu’lu’) dan batu/koral marjan (marjân).

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ

Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Q.S. ar-Rahman [55]: 22

Keempat, term hilyah disebutkan Q.S. ar-Ra’d [13]: 17 untuk membahasakan perhiasan yang perlu disepuh dengan bara api. 

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَـٰعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَ ٰلِكَ يَضْرِبُ اللهُ الْحَقَّ وَالْبَـٰطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَ ٰلِكَ يَضْرِبُ اللهُ الْأَمْثَالَ

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan. Q.S. ar-Ra’d [13]: 17

Kata hilyah dalam ayat tersebut ditafsirkan oleh al-Qurthubi (w. 671 H) dalam tafsirnya, al-Jâmi’ li Ahkâm Al-Qur’ân, dengan emas perak.

Jika tamsil wanita sebagai perhiasan sudah selayaknya anda menjaga, merawat dan memperlakukan dengan baik (wa ‘âsyirûhunna bi al-ma’rûf). Perhiasan itu fungsinya bukan untuk dipamerkan namun untuk menambah keindahan. Wallâhu A’lam []

REKOMENDASI

Mendamaikan [Kembali] Hisab dan Rukyat, Dua Metode Penentuan Awal-Akhir Bulan Dalam Penanggalan Hijriyah

Harakah.id - Hisab dan Rukyat adalah dua metode yang masyhur digunakan untuk menentukan awal dan akhir dalam penanggalan Hijriyah. Termasuk dalam...

Secercah Kisah Imam al-Bukhari dan Bapaknya; Catatan Singkat Sorogan Buku “Commentary of Forty Hadiths...

Harakah.id - Imam al-Bukhari adalah salah satu ulama yang kontribusinya tidak lagi bisa kita pertanyakan. Kitabnya, Sahih al-Bukhari, adalah kitab sahih...

Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Harakah.id - Apakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang...

Teologi Pembebasan dan Konsep Kebertuhanan dalam Pemikiran Hassan Hanafi

Harakah.id - Teologi pembebasan memang merupakan gagasan yang sudah cukup lama bergulir. Tapi demikian, gagasan lontaran Hassan Hanafi ini terbukti memang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...