Beranda Keislaman Akhlak Dakwah Sejuk Ala Gus Mus, Begini Seharusnya Para Pendakwah Menyebarkan Islam

Dakwah Sejuk Ala Gus Mus, Begini Seharusnya Para Pendakwah Menyebarkan Islam

Harakah.id Dakwah sejuk ala Gus Mus. Sekarang ini tidak sedikit orang yang beranggapan bahwasanya “dakwah” itu sama dengan “amar makruf – nahi munkar”. Padahal apabila ditinjau dari segi bahasa saja, antara makna dakwah, amar, dan nahi sungguh sudah berbeda jauh. “Amar” yang berarti perintah dan “nahi” yang berarti larangan, tentu tidak bisa serta merta disamakan dengan “dakwah” yang berarti ajakan.

Gus Mus merupakan salah seorang kiai yang tergolong jarang mengutip dalil berbahasa Arab dan melontarkannya ke hadapan para pendengar secara langsung. Dalam berbagai kesempatan model dakwah sejuk ala Gus Mus lebih sering membahasakan ulang dalil-dalil, baik dari Al-Qur’an, hadis maupun kitab-kitab ulama, dengan bahasa daerah atau bahasa nasional. Menurut hemat kami, hal itu beliau pilih dengan tujuan supaya lebih mudah diterima dan dipahami oleh para pendengar.

Ketika diundang dalam pengajian Satu Abad Qudsiyyah, beliau menyampaikan ceramah dengan begitu menawan. Beliau mengajak seluruh hadirin untuk memetik pelajaran dari sosok pendiri Madrasah Qudsiyyah, yaitu K.H. Raden Asnawi Kudus. Tidak hanya terkenal sebagai keturunan ke-14 dari Sunan Kudus, Raden Asnawi juga terkenal sebagai pejuang kemerdekaan, pejuang Islam, juga salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama.

Di samping mengajak untuk meniru sosok Raden Asnawi dalam hal kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, ayah mertua Gus Ulil Abshar Abdalla ini juga mengajak untuk meniru semangat Raden Asnawi dalam berdakwah. Gus Mus mengulas semangat dakwah Raden Asnawi begitu dalam, bahkan mengaitkannya dengan konteks dakwah di zaman sekarang.

Dakwah Tak Sama dengan Amar Makruf-Nahi Munkar

Kiai kharismatik asal Rembang ini menuturkan bahwa, sekarang ini tidak sedikit orang yang beranggapan bahwasanya “dakwah” itu sama dengan “amar makruf – nahi munkar”. Padahal apabila ditinjau dari segi bahasa saja, antara makna dakwah, amar, dan nahi sungguh sudah berbeda jauh. “Amar” yang berarti perintah dan “nahi” yang berarti larangan, tentu tidak bisa serta merta disamakan dengan “dakwah” yang berarti ajakan.

Untuk memudahkan audiens dalam memahami perbedaan ketiga istilah tersebut, Dakwah sejuk ala Gus Mus menyontohkannya dengan perilaku seorang calo bus kota, yang mencari calon penumpang dengan ajakan yang menggiurkan. Misalnya, seorang calo bus mengiming-imingi berbagai fasilitas yang orang peroleh apabila berkenan menggunakan jasa perjalanan dari bus yang ditawarkannya.

Cara tersebut mungkin saja lebih bisa menarik minat calon penumpang untuk menggunakan jasa yang ditawarkan. Berbeda halnya apabila ia secara tiba-tiba menyuruh seseorang yang belum tentu ia kenal supaya menaiki bus yang ditawarkan, atau dengan melarang seseorang untuk menaiki bus yang lain. Dengan perintah atau larangan, seoseorang yang tak dikenal bisa jadi berutah takut dan atau tidak suka. Akibatnya, ia justru semakin menjauh.

Dasarnya Adalah Al-Quran

Dakwah Sejuk Ala Gus Mus tentu bukan sekadar konsep yang beliau dasarkan pada pemikiran pribadi semata. Beliau mendasarkannya pada Al-Qur’an surah An-Nahl (16) ayat 125,

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِیلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَـٰدِلۡهُم بِٱلَّتِی هِیَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِیلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِینَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” [Q.S. An-Nahl (16): 125]

Berdasarkan ayat di atas, dapat dimengerti serangkaian metode yang bisa digunakan untuk mengajak orang lain. Yaitu dengan metode hikmah dan mauizah hasanah, kemudian apabila diperlukan, baru menggunakan cara perdebatan, itu pun apabila dirasa bisa menyampaikannya dengan baik dan lawan bicara dapat menjadi lebih baik.

Terkait siapa yang didakwahi, jika merujuk ayat di atas, orang yang diajak tentunya ialah orang yang belum berada di jalan Allah Swt. Apabila sudah mengikuti ajakan, barulah kemudian orang tersebut bisa diberi perintah dan larangan.

Sebagaimana pengibaratan penumpang bus tadi. Bahwasanya orang yang diajak menjadi penumpang bus ialah orang yang belum naik bus. Kemudian apabila seseorang tadi telah resmi menjadi punumpang, barulah ia menerima perintah untuk membayar ongkos perjalanan maupun dijatuhi larangan untuk merokok dan gaduh di dalam bus.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...