Beranda Keislaman Akhlak Penjelasan Ulama Tasawuf Mengapa Renungan Kematian Penting Dilakukan Tiap Pagi

Penjelasan Ulama Tasawuf Mengapa Renungan Kematian Penting Dilakukan Tiap Pagi

Harakah.id Setelah shalat dhuha, hendaknya kita melakukan renungan kematian. Ibadah yang tidak disertai renungan kematian, tidak akan memberi bekas pada diri seseorang. Shalat akan terasa sia-siap dan tidak memberikan efek kepada perilaku kita. Shalat tapi belum membuat kita menjadi lebih baik.

Dalam menjalani kehidupan, terkadang ada orang yang cenderung merasa dia berkuasa atas sesuatu di sekitarnya. Perasaan ini timbul karena seseorang merasa memiliki sesuatu tersebut. Rasa kepemilikan ini kemudian melahirkan perasaan lain, seperti perasaan terikat dengan objek tersebut. Perasaan terikat ini menimbulkan kecintaan berlebihan, terkadang kesombongan dalam tingkat tertentu. Tidak rela jika seseorang berpisah atau kehilangan dengan sesuatu yang dicintai.

Orang yang memiliki kekuasaan melalui sebuah jabatan terkadang lupa bahwa jabatan itu sementara. Terkadang ia terlalu asik, nyaman, dan cinta terhadap jabatan. Orang yang punya harta terkadang terikat kuat dengan kekayaannya. Merasa sedih ketika kehilangan. Orang yang punya kekasih yang sangat dicintai, akan merasa sangat sedih ketika kehilangan sanga terkasih. Orang akan memperjuangkan apa yang dia inginkan, dia cintai, dan dia miliki dengan berbagai cara. Perasaan memiliki secara berlebihan, atau keinginan menguasai sesuatu, mencintai sesuatu secara berlebihan dapat menghantarkan seseorang berperilaku tidak semestinya.

Perasaan terikat semacam ini menurut ajaran para ulama tasawuf sejatinya perlu dikikis. Karena, menurut mereka, perasaan terikat dengan perkara-perkara yang bersifat duniawi, dapat menjadi batu sandungan bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Orang yang terlalu cinta pada hartanya, dia akan bersikap pelit. Ketika ada orang yang membutuhkan, terkadang bahwa sikap pelitnya sulit diajak berkompromi. Ketika seseorang sudah berkewajiban melaksanakan shalat, haji, dan zakat, karena dia sedang terikat dengan harta, dia tidak rela kehilangan hartanya walau hanya sedikit. Dia tidak ingin merelakan waktunya untuk beribadah, walau hanya lima menit. Dia merasa, lebih baik digunakan mencari keuntungan dibanding beribadah.

Karena alasan-alasan semacam itulah, para ulama tasawuf mengembangkan ajaran zuhud untuk menjauhi keterikatan dengan hal-hal duniawi. Ada banyak sekali ajaran Rasulullah SAW yang menjadi dasar bagi anjuran bersikap zuhud ini. Salah satu cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, dan sangat diperhatikan oleh para ulama ahli tasawuf adalah mengingat mati. Kelompok ulama lain, misalnya ahli fikih, ahli hadis, ahli kalam, dan ahli bahasa, tidak ada yang memiliki perhatian terhadap masalah semacam ini sebesar perhatian para ulama ahli tasawuf.

Karena saking perhatiannya ulama ahli tasawuf terhadap masalah hati seperti zuhud ini, mereka meneliti metode-metode yang dapat membantu kita mengingat kematian sebagai sarana mendatangkan hati yang zuhud.

Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani (1897 M.), seorang ulama besar asal Banten, menjelaskan dalam kitab Salalim al-Fudhala’ Syarah Manzhumah Hidayah al-Adzkiya’. Untuk mengingat kematian, ada tiga metode. Syekh Nawawi al-Bantani menulis,

Wa la tatruk al-fikra fi sur’at dukhul al-maut fi waqtin lam tahtasibhu bi qalbin farighin. Wa man yadzkurhu bi qalbin masyghulin bi syahwatid dunya, fala yanja’ dzikrul maut fi qalbihi.

Fa al-thariq fihi an yufrigha al-‘abdu qalbahu ‘an kulli syai’in illa ‘an dzikri al-mauti alladzi huwa baina yadaihi kalladzi yuridu an yusafira ila mafazah mukhaththirah au yarkab al-bahra fa innahu la yatafakkaru illa fihi fa idza basyara dzikrul mauti qalbahu, fa yusyaku an yu’atstsira fihi wa ‘inda dzalika yaqillu farahuhu bi al-dunya wa yankasiru qalbuhu.  

Jangan engkau meninggalkan merenungkan cepatnya datangnya kematian pada waktu yang tidak engkau sangka-sangka. Renungkan dengan hati yang fokus. Orang yang mencoba renungan kematian dengan hati yang disibukkan dengan keinginan duniawi, maka renungan kematian itu tidak akan membekas dalam hatinya.

Maka, cara merenungi kematian yang efektif adalah seseorang harus mengosongkan dulu hatinya dari segala sesuatu kecuali pikiran tentang kematian itu sendiri. Yaitu sesuatu yang sejatinya sudah ada di depan matanya. Hendaknya dia seperti orang yang akan bepergian ke tempat yang berbahaya atau akan menaiki kapal laut. Ia hanya akan memikirkan tempat itu atau kapal itu. Ketika renungan kematian bersentuhan langsung dengan hati seseorang, ia akan memberi bekas pada hati. Ketika sudah membekas, renungan kematian itu akan membuat sedikit perasaan senangnya pada dunia. Hatinya juga akan merasa hancur.

Wa anja’u thariqin fi dzalika an yuktsira dzikru aqranihi alladzina dzahabu qablahu wa la tatruk al-tafakkur fi hushul al-hazan fi al-akhirah bi thuli al-thuma’ninah bi ma fi yadika min al-mal wa rukun al-nafs ilaihi bi an la tatadzakkar zawalahu wa bi thuli al-isytighali bi ma yulhi ‘an allah ta’ala wa ‘an al-tafakkur fi al-akhirah fa innahu yad’u ila al-inhimak fi syahwati al-dunya

Metode paling efektif mendapatkan manfaat renungan kematian adalah menyebut-nyebut dan mengingat-ingat teman-teman yang telah wafat sebelumnya. Hendaknya seseorang tidak meninggalkan merenungi timbulnya rasa sedih di akhirat, disebabkan terus-menerusnya merasa nyaman dengan kekayaan dan kebiasaan mengandalkan harta kekayaan itu. Rasa nyaman itu timbul karena seseorang tidak pernah merenungi bahwa kekayaan itu akan sirna. Juga dikarenakan dia lebih sering melakukan perbuatan yang dapat melalaikan dari Allah ta’ala. Dan disebabkan pula oleh tidak pernah merenungi alam akhirat. Semua itu menyebabkan orang semakin jauh tenggelam dalam keinginan duniawi.

Wa la tatruk al-tafakkur fi al-bila fi al-qabri fa mulazamatu nahwi hadzihi al-afkar tustbitu dzikra al-mauti  fi al-qalbi hatta yashira nashba ‘ainaihi fa ‘inda dzalika yusyaku an yasta’idda lahu wa yatajafa ‘an dar al-ghururi.

Jangan tinggalkan memikirkan kehancuran yang akan dialami nanti di alam kubur. Konsisten melakukan renungan kematian dapat memantapkan ingat mati dalam hati sehingga seakan-akan kematian itu sudah di depan mata kita. Dalam situasi seperti itu, seseorang akan lebih kuat dalam mempersiapkan diri menghadapi kematian dan dia akan berusaha mengurangi urusan duniawi yang penuh tipu daya.

Syekh Nawawi al-Batani menjelaskan tentang pentingnya renungan kematian ini ketika beliau menjelaskan amalan yang bisa dilakukan pada pagi hari setelah kita melakukan shalat dhuha.

Tsumma al-dhuha shalli wa la tada’ al-fikra # bi hujumi mautin wa al-tahassur wa al-bila

‘amalun bi la dzikri al-maniyyati la atsar # wa bi dzikriha haqqan ka dharbi ma’awila

Kemudian lakukan shalat dhuha, dan jangan tinggalkan merenungkan # datangnya kematian, dan penyelasan dan kehancuran jasad

Amal ibadah yang tak dibarengi ingat mati tidak akan berbekas # dengan ingat mati, sejatinya, ia seperti sebuah pukulan dengan kapak

Dari teks di atas, setelah shalat dhuha, hendaknya kita melakukan renungan kematian. Ibadah yang tidak disertai renungan kematian, tidak akan memberi bekas pada diri seseorang. Shalat akan terasa sia-siap dan tidak memberikan efek kepada perilaku kita. Shalat tapi belum membuat kita menjadi lebih baik.

Demikian pentingnya renungan kematian menurut ulama tasawuf.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...