Beranda Gerakan Pentingnya Maqashid Syariah Li An-Nisa Di Tengah Merebaknya Konservatisme Sempit yang Membuat...

Pentingnya Maqashid Syariah Li An-Nisa Di Tengah Merebaknya Konservatisme Sempit yang Membuat Agama Tampak Usang

Harakah.idKonservatisme sempit diakui atau tidak, akan melahirkan dampak yang cukup serius. Semaksimal mungkin ia harus diantisipasi, salah satunya dengan rumusan maqashid syariah li an-nisa.

Maqashid Syariah li An-Nisa yang dirumuskan oleh para ahli, nyai dan kyai di komunitas diskusi dan kajian Rumah Kita Bersama, diproduksi dan dikonstruksi dari ragam pengetahuan yang telah tersedia dalam peradaban ushul fikih klasik, hingga kontemporer, disempurnakan dengan perspektif feminisme, atau dalam tradisi Islam disebut dengan “المساواة و العدالة بين الناس, يعني بين الرجال و النساء و غيرهما”, yang berperan penting dalam mengidentifikasi dan menganalisis kemaslahatan dan keadilan dalam realitas, sekaligus menggerus rebak konservatisme sempit yang meluas di tengah masyarakat.

Sama halnya dengan Imam Haramain (w. 1085M) dan Imam Ghazali (w.1111M) menyempurnakan tradisi ushul fikihnya Imam Syafi’i 820M). begitu juga Imam Syatibi (w.1388M) yang menyempurnakan pemikirannya Imam Al-Ghazali dan gurunya (imam Haramain). kemudian disempurnakan lagi rumusan epistemologinya Imam Syatibi itu oleh Muhammad Tahir bin Asyur (w. 1973M). dan begitu seterusnya, di level ini mereka tidak mengenal lagi mujtahid mutlaq., karena wilayah ijtihad adalah wilayah intelektual/ahli di mana saat ini dilakukan secara jamai (kelompok).

Konsep mengenai adanya hirakri mujtahid sendiri, merupakan konsep dan kesadaran utopis dan hanya berada di tataran normatif. Normativitas konsep hirarki mujtahid ini tidak berlaku bagi ahli/pakar hukum yang telah memiliki kapasitas, kapabilitas, dan integritas untuk merekonstruksi produk-produk ijtihad yang sudah tersedia. Setiap produk baru dari ijtihad itu tidak berarti “mengangkangi” produk ijtihad sebelumnya, justru sebagai keharusan untuk memenuhi kebutuhan hukum baru karena tidak relevannya produk hukum lama.

الحكم يدور مع علته وجودًا وعدمًا

“Hukum itu berputar bersama illatnya, untuk mewujudkan adanya dan/atau tidaknya hukum”,

Di level para ahli ushul, hukum itu senantiasa mengalami perubahan, namun di level pengguna atau pembaca fikih mazhab, maka pemahamannya hanya berhenti sebagai muqallid (pengikut) mazhab. Situasi ini yang menyebabkan kemunduran dunia Islam yang dikritik Rifa’ah Rafi At-Tahtawi dan Muhammad Abduh dari Mesir yang frustasi menghadapi kekacauan sosial yang menyebabkan kemunduran ekonomi, dan banyaknya perempuan miskin dan anak-anak terlantar yang diakibatkan konservatisme sempit para pengikut mazhab yang melegalkan poligami dan perkawinan usia anak. Di sini kebutuhan maqashid li an-nisa mendesak untuk dirumuskan.

Relasi gender yang sangat timpang dan Perkawinan yang tidak tercatat menghadirkan keluarga-keluarga sangat rentan hidup dalam kemiskinan. Banyak laki-laki yang kemudian tidak bertanggung jawab terhadap keluarganya, di saat yang sama perempuan dan anak-anak memiliki kelemahan di mata hukum karena tidak dapat mengklaim nafkah, harta waris, dan hak pendidikan bagi anak, karena tidak memiliki dokumen-dokumen legal.

Berhadapan dengan situasi seperti itu, produk fikih lama kemudian kehilangan konteks dan relevansinya. Karena dalam fikih klasik, rukun nikah itu hanya lima, yaitu calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan, wali, kedua saksi, dan ijab qabul, sementara dalam fikih klasik tidak menyertakan intervensi negara dalam kelembagaan keluarga.

Jelas, hukum fikih harus berubah, karena bila sebuah hukum telah kehilangan konteksnya, dan telah kehilangan tujuannya (مقاصد) untuk kemaslahatan maka harus ada revisi atas hukum itu, implikasinya harus ada ijtihad baru.

ان الاحكام الشرعية تدور وجودا وعدما مع علتها لا مع حكمها

“Sesungguhnya Hukum-Hukum Syariat itu berputar, ada atau tidaknya hukum itu didasarkan pada illat hukum bukan pada kebijaksanaan luhurnya.

دين الإسلام دينٌ عالمي صالحٌ لكل زمان ومكان؛ فهو يعالج مشكلات كل عصر من العصور بما يناسبه

“Agama Islam itu merupakan agama universal, relevan di setiap waktu dan tempat, karenanya dia mengatasi berbagai permasalahan di setiap zaman dengan ciri khasnya”.

Karena itu para ulama di Indonesia di tahun 1970-an menyetujui pencatatan nikah oleh negara dengan terbitnya UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, kemudian direvisi di tahun 2019, dengan terbitnya UU No. 16 Tahun 2019. 

Bila memaksakan hukum lama, meskipun diproduksi oleh ulama empat mazhab, maka itu berlawanan dengan syariat, karena produk hukum lama tidak lagi memenuhi kemaslahatan saat ini. 

Begitu juga kasus-kasus perkawinan usia anak, perkawinan paksa, dan larangan perempuan bekerja yang didasari argumentasi eklektik membuat agama terlihat usang, dan pemaksaan berlakunya hukum lama itu kezaliman murokkab (berlapis-lapis), dan mengkhianati syariat.

Karena itu kebutuhan atas rekonstruksi hukum memerlukan metode baru agar ijtihadnya memenuhi standar kemaslahatan manusia modern. Tentu saja Maqasid Syariah yang telah disempurnakan sebagai metode istinbat hukum. Dan pelaksanaan ijtihadnya dilakukan secara jamâi (kelompok).

REKOMENDASI

Macam-Macam Zakat yang Harus Kita Bayar Ketika Memenuhi Syarat

Harakah.id - Macam-macam zakat ini wajib kita bayar jika telah memenuhi syarat. Secara garis besar, ada dua macam zakat, yaitu zakat...

Kiai Ridwan Menggambar Lambang NU, Muncul dalam Mimpi dan Disetujui Kiai Hasyim

Harakah.id - Kiai Ridwan menggambar lambang NU berdasarkan mimpi dari salat istikharah yang dilakukannya. Lambang yang kemudian disetujui Kiai Hasyim Asy'ari...

“Kunikahi Engkau dengan Mahar Hafalan Surat Ar-Rahman”; Romantis Sih, Tapi Apa Boleh?

Harakah.id - Mahar hafalan surat-surat dalam al-Quran kian trend. Pasangan laki-laki yang menikahi seorang perempuan, akan semakin tampak romantis dan islami...

Muhaddis Garis Lucu, Historisitas Argumen Keabsahan Hadis dan Hal-Hal yang Tak Selesai

Harakah.id - Muhaddis Garis Lucu menampilkan satu kondisi dan situasi periwayatan di masa lalu. Bahwa tradisi periwayatan yang kemudian menjadi bahan...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...