Beranda Keislaman Tafsir Pentingnya Mengedepankan Nilai-Nilai Etis dalam Beragama Menurut Fazlur Rahman

Pentingnya Mengedepankan Nilai-Nilai Etis dalam Beragama Menurut Fazlur Rahman

Harakah.idFazlur Rahman menawarkan teologi Islam yang diperluas diskursus-diskursusnya sehingga dapat menumbuhkan moralitas atau sistem nilai etis untuk membimbing dan menanamkan dalam diri manusia agar memiliki tanggung jawab moral dan memiliki kegunaan dalam agama.

Nilai Etis dalam Beragama Menurut Fazlur Rahman. Islam merupakan sebuah agama yang memberikan perhatian serius terhadap peranan akal, hal ini dapat kita buktikan dari sumber Islam baik Al-qur’an maupun al-Hadits yang secara tegas memberikan porsi terhadap kinerja akal sebagai instrumen untuk memahami wahyu. Pemposisian teks wahyu- keagamaan sebagai sumber primer disatu pihak dan akal menjadi sumber sekunder di pihak lain, yang harus dipahami bukan dalam pengertian yang bisa saling meniadakan, tetapi keduanya harus berada pada pola fungsinya masing-masing, yang mana dengan hal itu dapat memberikan implikasi signifikan atas tata kerja intelektual para teolog muslim secara metodologis.

Hal inilah yang mengilhami perkembangan khazanah keilmuan dalam Islam sehingga muncul ahli teolog, filsafat dan tasawwuf. Kajian teologi dalam Islam tumbuh berkembang dengan pesat dan mencapai titik kulminasinya yang secara internal merupakan pengaruh perhatian dan kebijakan para pemimpin terhadap ilmu pengetahuan dan secara eksternal merupakan konsekuensi logis dari luasnya wilayah kekuasaan Islam sehingga terjadi proses akulturasi yang sangat berpengaruh terhadap proses perkembangan teologi dalam Islam.

Di era modern, kajian sebuah teologi tidak lagi berkutat pada ranah bayani, tetapi sudah masuk pada wilayah burhani. Oleh karena itu dalam perkembangannya kajian sebuah teologi telah direformulasi dengan sebuah metodologi. Para teolog di era modern mencoba meformulasikan metodologi dalam kajian teologi, salah satunya adalah Fazlur Rahman. Lewat metode kritis dengan menggunakan pendekatan kritik sejarah pemikiran dan penafsiran al-Qur’an secara sistematis yakni dengan double movement Fazlur Rahman menawarkan rekontruksi wilayah sub-sub doktrin ajaran Islam, khususnya wilayah teologi.

Profil Singkat

Fazlur Rahman dilahirkan pada tanggal 21 September 1919 di Hazara (anak benua India) yang sekarang terletak disebelah barat laut Pakistan. Fazlur Rahman dilahirkan dalam suatu keluarga Muslim yang taat beragama. Dengan latar belakang kehidupan keagamaan yang demikian, maka menjadi wajar ketika berumur sepuluh tahun ia sudah dapat menghafal Al-Qur’an dengan baik. Hidup ditengah keluarga bermadzhab Hanafi, Fazlur Rahman telah berhasil membuka cakrawala intelektualitasnya dan sekat-sekat yang membatasi perkembangan.

Pada tahun 1933, Fazlur Rahman melanjutkan pendidikannya di sebuah sekolah modern di Lahore. Selain menempuh pendidikan formal, Fazlur Rahman juga sempat mengenyam pengajaran tradisional dalam kajian-kajian keIslaman dari Maulana Sahab al-Din, ayahnya sendiri. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, Fazlur Rahman kemudian melanjutkan pendidikannya di Punjab University, Lahore dengan mengambil konsentrasi studi bahasa Arab, dan pada tahun 1940 ia berhasil mendapatkan gelar Bachelor of Art. Lalu pada tahun 1942, dia berhasil menyelesaikan studi S2-nya dan mendapatkan gelar Master dalam bidang yang sama. Pada tahun 1946, Fazlur Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studi di Oxford University. Di bawah bimbingan Profesor Simon Van den Berg dan H.A.R Gibb, tahun 1949 Fazlur Rahman berhasil menyelesaikan studinya tersebut dan memperoleh gelar Ph.D dengan disertasi tentang Ibnu Sina. Setelah menyelesaikan studinya di Oxford University, Fazlur Rahman tidak langsung kembali ke Pakistan, tetapi ia memutuskan untuk tinggal beberapa saat dulu di sana. Ketika tinggal di Inggris ini, Fazlur Rahman sempat mengajar di Durham University. Kemudian ia pindah mengajar ke Institute of Islamic Studies, McGill University Kanada, dan menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy sampai awal tahun 1960.

Baru sekitar tiga tahun Fazlur Rahman mengajar di McGill University, akhirnya pada awal tahun 1960, ia harus pulang ke Pakistan atas permintaan Presiden Ayyub Khan untuk bersama-sama membangun negeri asalnya, Pakistan. Permintaan Ayyub Khan kepada Fazlur Rahman bertujuan untuk merumuskan ideologi Islam bagi Negara Pakistan. Selanjutnya, pada tahun 1962, Fazlur Rahman diminta oleh Ayyub Khan untuk memimpin Lembaga Riset Islam (Islamic Research Institute) dan menjadi anggota Dewan Penasihat Ideologi Islam (The Advisory Council of Islamic Ideology. Lembaga Riset Islam bertujuan untuk menafsirkan Islam dalam term-term rasional dan ilmiah dalam rangka menjawab tantangan kebutuhan-kebutuhan masyarakat modern yang progresif. Sedangkan Dewan Penasihat Ideologi Islam bertugas meninjau seluruh hukum baik yang sudah maupun yang belum ditetapkan, dengan tujuan menyelaraskan dengan Al-Quran dan sunnah.  Dalam masa jabatannya sebagai dewan penasihat ideology islam, pemikiran Fazlur Rahman banyak menuai kontroversi yang berlalu kurang lebih selama satu tahun, yang pada akhirnya membawa gelombang demonstrasi masa dan mogok total di beberapa daerah di wilayah Pakistan pada September 1968. Hingga akhirya pada 5 September 1968, Fazlur Rahman meminta untuk mengundurkan diri dari pimpinan Lembaga Riset Islam tersebut, yang kemudian permintaan tersebut dikabulkan oleh Presiden.

Akhirnya, pada akhir tahun 1969 Fazlur Rahaman meninggalkan Pakistan untuk memenuhi tawaran Universitas California, Los Angeles. Di sana ia langsung diangkat menjadi Guru Besar Pemikiran Islam. Salah satu alasan yang menjadikan Fazlur Rahman memutuskan untuk menetap dan mengajar di Barat disebabkan oleh keyakinan bahwa gagasan-gagasan yang ditawarkannya tidak akan bisa diterima dan berkembang di Pakistan. Selain itu, Fazlur Rahman menginginkan adanya keterbukaan atas berbagai gagasan dan suasana perdebatan yang sehat, dimana hal tersebut tidak bisa ditemukan di Pakistan.

Pada pertengahan dekade 80-an, tokoh utama neo-modernisme Islam ini mengalami gangguan kesehatan, di antaranya kencing manis dan serangan jantung. Yang pada akhirnya pada 26 Juli 1988 profesor pemikiran Islam di Univesitas Chicago itu pun tutup usia pada usia 69 tahun.

Pemikiran Hukum Islam dan Teori Hukum

Pemikiran Fazlur Rahman tentang perlunya metodologi baru dalam memahami produk teologi dimulai dengan penelitian historisnya mengenai evolusi perkembangan empat prinsip dasar hukum islam (al-Qur’an, Sunnah, Ijtihad dan Ijma’) yang tertuang dalam bukunya yang berjudul Islamic Methodology In History. Pandangan Fazlur Rahman ini dilatarbelakangi oleh pergulatannya dalam pembaruan pemikiran Islam di Pakistan, yang kemudian mengantarkannya pada agenda yang lebih penting lagi: perumusan kembali penafsiran al-Qur’an yang merupakan titik pusat ijtihad-nya.

Sebagai tokoh pembaharu pemikiran Islam, Fazlur Rahman memberikan tawaran konsep ijtihad yang khas beserta metodenya. Adapun pengertian ijtihad menurut Fazlr Rahman adalah “upaya memahami makna suatu teks atau preseden di masa lampau yang mengandung sutau aturan dan mengubah aturan tersebut dengan cara memperluas, membatasi ataupun memodifikasinya dengan cara-cara yang lain sedemikian rupa sehingga suatu situasi baru dapat dicakup ke dalamnya”. Dari pengertian tersebut, secara metodologi kegiatan ijtihad mencakup tiga kegiatan yaitu: (1) Pemahaman teks dalam keutuhan konteksnya dimasa lampau yang dapat dilakukan dengan pendekatan historis, (2) Pemahaman situasi baru yang terjadi saat ini yang dilakukan melalui pendekatan sosiologis, (3) Perubahan aturan hukum yang terkandung di dalam teks yag dapat dianlisis dengan pendekatan kontekstual. Adapun secara fungsional semua kegiatan ijtihad diatas difungsikan sebagai upaya pembaharuan hukum Islam.

Adapun contoh aplikasi ijtihad Fazlur Rahman adalah salah satunya dalam hal poligami. Ayat yang berkaitan dengan poligami adalah QS. Al-Nisa ayat 3, dalam ayat tersebut memang menganjurkan poligami dengan disertai syarat bahwa para suami mampu berbuat adil dengan diiringi penekanan “jika engkau khawatir tidak mampu berbuat adil, cukuplah hanya dengan seorang sitri”. Sedangkan QS. Al-Nisa ayat 129 juga menegaskan “kamu sekali-kali tidak akan mempu berbuat adil kepada istri-isterimu walaupun sesungguhnya kamu sangat menghendaki untuk berbuat demikian (jika engkau tidak mampu berbuat adil sepenuhnya) maka setidak-tidaknya janganlah kamu cenderung sepenuhnya kepada salah satunya sehingga yang lian terkatung-katung.” Dalam mencapai pemahaman dan menggali nilai yang terkandung dalam ayat ini, Fazlur Rahman menggunaka pendekatan sosio-historis dan kultural pada saat ayat itu diturunkan. Rahman tidak sependapat bahwa frasa “berlaku adil” dalam ayat 3 hanya terbatas pada perlakuan lahiriah. Jika frase tersebut hanya bermakna demikian maka tidak akan mungkin ada penegesan dalam ayat 129, frase tersebut hanya tepat jika ditafsirkan dalam aspek psikis, cinta kasih. Rahman berpendapat bahwa ayat-ayat poligami sudah menjadi endemic dalam struktur sosial arab pada masa itu, maka alquran secara bijaksana menerima status tersebut dengan disertai langkah-langkah perbaikan melalui sejumlah rancangan hukum. Tetapi bersamaan dengan itu Al Quran juga mengemukakan rancangan moral dimana masyarakat secara gradual dianjurkan menuju ke arah tersebut, yaitu monogamy. Ini adalah bagian dari Nilai Etis dalam Beragama Menurut Fazlur Rahman

Pandangan reviewer

Pemikiran Fazlur Rahman dalam kajian pemikiran Islam kontemporer memiliki arti penting, di antaranya:

Menawarkan metodologi baru dalam pengembangan keilmuan Islam yakni metode kritis dengan pendekatan kritik sejarah pemikiran dan hermeneutik al-Qur’an. Dalam Hermeneutik Fazlur Rahman memadukan akar tradisional Islam dengan hermeneutik Barat modern. Dinamakan hermeneutik al-Qur’an karena hermeneutik ini difungsikan sebagai alat untuk menafsirkan kitab suci al- Qur’an.

Fazlur Rahman berupaya mereformulasi hakikat teologi Islam yang memperluas diskursus-diskursusnya yang dapat menumbuhkan moralitas atau sistem nilai etika untuk membimbing dan menanamkan dalam diri manusia agar memiliki tanggung jawab moral dan memiliki kegunaan dalam agama. Inilah Nilai Etis dalam Beragama Menurut Fazlur Rahman.

Artikel kiriman Maziyah, Mahasantri International Institute for Hadith Sciences Darus Sunnah, Jakarta

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...