Beranda Keislaman Hadis Pentingnya Perbandingan Riwayat dan Apa Saja yang Harus Dianalisis dalam Proses Takhrij...

Pentingnya Perbandingan Riwayat dan Apa Saja yang Harus Dianalisis dalam Proses Takhrij Hadis

Harakah.idDalam kajian takhrij hadis, sangat penting mengetahui keragaman jalur periwayatan. Fungsi utamanya adalah untuk mengetahui ada tidak jalur periwayatan yang menguatkan jalur riwayat yang sedang dikaji.

Dalam kajian takhrij hadis, sangat penting mengetahui keragaman jalur periwayatan. Fungsi utamanya adalah untuk mengetahui ada tidak jalur periwayatan yang menguatkan jalur riwayat yang sedang dikaji.

Jika status riwayat yang dikaji tersebut tergolong lemah, maka jalur alternatif dapat meningkatkan derajat riwayat yang sedang dikaji dari lemah menjadi hasan atau shahih. Jika ternyata berkualitas shahih, maka banyaknya jalur periwayatan dapat berguna dalam membantu memberikan pemahaman yang lebih komprehensif.

Dengan demikian, pencarian riwayat yang banyak, dapat menjadi perbandingan antara satu jalur riwayat dengan jalur riwayat lainnya. Bahkan, sejatinya, para ahli hadis terkemuka selalu melakukan perbandingan riwayat. Baik dari segi matan maupun sanadnya.

Menemukan Variasi teks

Takhrij hadis yang meniscayakan proses perbandingan riwayat akan menghantarkan kita kepada penemuan keragaman dan varisasi teks hadis, variasi asbabul wurud, dan variasi sanad. Variasi teks hadis (baca: matan hadis) dapat memberi informasi kepada kita apakah sebuah redaksi muncul pada era Nabi SAW atau sebenarnya ia pada mulanya berbentuk pengertian tertentu yang diterjemahkan oleh seorang sahabat dengan bahasa yang sesuai dengan zamannya. Sederhananya, apakah sebuah redaksi dalam matan hadis adalah riwayat bil lafzhi atau riwayat bil ma’na.

Riwayat bil ma’na yang beraneka macam dapat membantu kita menjelaskan riwayat lain yang kurang begitu dimengerti pada suatu masa tertentu yang kurang mengenal bahasa yang digunakan. Ada sebuah kaidah yang menyatakan al-hadits yufassiru ba’dhuhu ba’dhan (hadis menafsirkan satu sama lain).

Variasi asbabul wurud akan memberi kita informasi bahwa suatu hadis dihadirkan dalam beberapa momentum. Baik pada zaman Nabi SAW maupun pada zaman setelah wafatnya Nabi SAW. Para sahabat tidak sedikit yang menghadirkan sebuah hadis untuk menjawab atau merespon suatu persoalan tertentu. Konteks semacam ini seringkali turut diriwayatkan dalam matan hadis. Hal ini dapat membantu kita memahami maksud tertentu dari suatu pengutipan hadis.

Menemukan Variasi Sanad dan Jaringan Periwayat Hadis

Selain mendapatkan variasi teks-matan hadis, perbandingan riwayat juga akan menghadirkan variasi sanad. Sebuah sanad hadis mencerminkan jaringan periwayat hadis yang kompleks; zaman, generasi, tempat domisili, jalur penyebaran riwayat, dan lain sebagainya. Dengan mendapatkan variasi sanad, kita dapat menggambarkan peta penyebaran sebuah hadis melalui pembuatan skema sanad (haikal al-asanid atau syajarah al-sanad).

Seperti disebut sebelumnya, semakin banyak sanad hadis, semakin kuat pengakuan akan eksistensi sebuah hadis. Dengan demikian, penemuan variasi sanad adalah sesuatu yang niscaya dalam proses takhrij hadis.

Nama sahabat yang menjadi sumber hadis

Perbandingan riwayat juga menghadirkan keragaman sumber hadis. Hadis-hadis Nabi SAW ada yang hadir dengan disaksikan oleh sejumlah orang sahabat Nabi SAW. Ada pula hadis yang disaksikan satu atau dua orang sahabat, lalu disampaikan kepada sahabat yang lain. Ada pula sebuah hadis yang hanya diketahui oleh satu orang sahabat. Semakin banyak sahabat yang meriwayatkannya, semakin kuat kemungkinan ia sudah eksis sejak zaman Nabi SAW. Ini sangat terkait dengan teori mutawatir dimana tingkat keterpercayaan sebuah informasi relatif lebih tinggi dibanding informasi yang hanya diriwayatkan satu atau dua orang.

Seorang sahabat yang meriwayatkan hadis, sedikit banyak, akan meresepsi kandungan hadis dan menjadikan kandungan hadis tersebut sebagai dasar sikap yang diambilnya. Seorang sahabat memiliki posisi politik dan sikap-sikap sosial-religius yang beraneka macam, tempat tinggal yang menyebar di beberapa titik yang dalam sejarah mewakili suatu aliran politik tertentu.

Kitab apa saja yang memuat hadis tersebut

Perbandingan riwayat meniscayakan pengetahuan tentang kitab-kitab yang memuat sebuah hadis. Apakah ia tergolong kitab hadis atau bukan. Mencantumkan sebuah sanad atau tidak. Apakah kitab yang memuat hadis tersebut tergolong kitab induk dalam periwayatan hadis atau bukan. Hal ini akan membantu kita mendapatkan pemahaman yang lengkap tentang eksistensi sebuah hadis; ia benar-benar eksis secara tertulis pada abad berapa. Apakah kitab tersebut termasuk kitab hadis yang memuat hadis-hadis yang kredibel atau justru disusun untuk tujuan mengkompilasi hadis-hadis daif.

Siapa penulisnya

Perbandingan riwayat juga menghantarkan kita pada pengenalan penulis sebuah kitab hadis atau beberapa kitab hadis. Dimana seorang penulis kitab hadis mulai belajar hadis (mendapatkan riwayat), dimana saja ia berguru, dan kepada siapa saja. Bagaimana kredibilitas penulis kitab hadis tersebut di kalangan para sarjana hadis.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...