Pentingnya Sifat Qana’ah untuk Mewujudkan Keluarga Harmonis

0
416

Harakah.idQana’ah merupakan salah satu solusi yang telah ditawarkan Al-Qur’an dalam mengatasi konflik yang ada dalam rumah tangga. Qana’ah sendiri memiliki makna cukup. Secara istilah, merasa cukup atas apa yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kita sehingga mampu menjauhkan diri dari sifat tamak.

Merebaknya kasus-kasus pemberitaan baik dalam media cetak, maupun media online mengenai keretakan rumah tangga, perselingkuhan akibat orang ketiga dalam rumah tangga, bahkan perceraian kian menjamur dan meresahkan masyarakat. Pemberitaan tersebut diakibatkan disharmoni (kehampaan hidup dalam keluarga). Sehingga kondisi ini tampak sebagai paradoks dengan janji pernikahan “sehidup semati” yang terikat dalam sebuah pernikahan.

Sebuah keluarga yang harmonis ditandai dengan seluruh anggota keluarga merasa aman, bahagia yang ditandai dengan berkurangnya ketegangan, kekecewaan lahir dan batin. Membina keluarga agar selalu harmonis menjadi dambaan setiap insan. Namun, berbagai permasalahan kerap menjadi sebuah alasan keluarga menjadi berantakan, salah satunya ekonomi yang menjadi faktor utamanya. Maka, diperlukannya sebuah langkah-langkah praktis yang telah disinergikan dalam Al-Quran salah satunya sifat Qana’ah.  

Qana’ah merupakan salah satu solusi yang telah ditawarkan Al-Qur’an dalam mengatasi konflik yang ada dalam rumah tangga. Qana’ah sendiri memiliki makna cukup. Secara istilah, merasa cukup atas apa yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kita sehingga mampu menjauhkan diri dari sifat tamak/serakah. Sebagaimana Allah telah menjelaskan konsep Qana’ah dalam QS. Al-Baqarah[2]: 216

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui

Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini bersifat umum dalam segala hal. Bisa saja seseorang menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu tidak baik untuknya ataupun sebaliknya. Ayat ini mengisyaratkan agar selalu bersabar dengan cobaan. Hal ini sejalan dengan sifat Qana’ah yaitu menerima ketetapan Allah dengan sabar. Qana’ah diibaratkan sebagai energi bagi seseorang agar senantiasa bersemangat dalam mengais rezeki yang halal dan menggapai ridha Allah.

Konflik rumah tangga akibat ketidakharmonisan merupakan sebuah problem yang harus dibenahi agar tidak menjelma menjadi krisis yang berkepanjangan. Berbagai kasus rumah tangga yang dapat kita jumpai sekarang berantakan akibat ekonomi yang serba kekurangan. Melihat kondisi inilah diperlukannya strategi sifat qana’ah dalam mewujudkan keluarga yang harmonis.

Menurut (Hamka: 1998: 219), Qana’ah mengandung 5 perkara: 1. Menerima dengan rela akan apa yang ada, 2. Memohonkan kepada Tuhan tambahan yang pantas dan berusaha, 3.Menerima dengan sabar akan ketentuan Tuhan, 4.Bertawakal kepada Tuhan, 5.Tidak tertarik oleh tipu daya dunia.

Adapun langkah praktis yang dilakukan dalam pembiasaan Qana’ah dalam keluarga adalah:

  1. Membenahi niat demi mencapai tujuan pernikahan
  2. Rela menerima segala pemberian Allah diwujudkan dalam kesabaran
  3. Selalu memohon tambahan rezeki kepada Allah disertai dengan usaha optimal
  4. Menanamkan sifat zuhud dalam kehidupan sehari-hari
  5. Mengedepankan kepentingan keluarga daripada individu
  6. Membangun komunikasi yang baik antara suami dan istri

Mengingat saat ini kebutuhan ekonomi dalam rumah tangga meningkat, maka tidak salah jika istri bahkan anak melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan sumber ekonomi keluarga. Menumbuhkan rasa Qana’ah akan menentramkan keluarga, menjadikan keterbukaan dan penerimaan satu sama lainnya. Maka dari itu, sifat Qana’ah (merasa cukup) terhadap semua yang telah didapatkan merupakan perwujudan syukur terbaik agar terhindar dari segala konflik rumah tangga. 

Keharmonisan dalam keluarga sangat berkaitan dengan kebahagiaan dan keserasian. Al-Qur’an menjadi pedoman bagi umat Islam, sudah sepatutnya segala perselisihan dikembalikan pada Al-Qur’an.

Oleh karena itu, sifat qana’ah (merasa cukup) terhadap semua yang telah didapatkan oleh anggota keluarga itulah sikap perwujudan bentuk syukur yang terbaik. Karena selain dapat meningkatkan daya pikir yang positif dalam persoalan rumah tangga, juga diimbangi dengan suasana jiwa yang tenang dan damai. Demikian cara mewujudkan keluarga harmonis menurut Al-Quran. Yaitu dengan mengembangkan sikap Qana’ah.