Peradaban Islam Era Dinasti Umayyah dan Kebijakan Umar bin Abdul Azis (1)

0
104

Harakah.id Bani Umayyah merupakan kekhalifahan pertama setelah masa Khulafa Ar-rasyidin yang memerintah dari tahun 661-750 M di Jazirah Arab dan sekitarnya serta dari 756-1031 M di Cordova, Spanyol.

Setelah pemerintahan Khulafaur Rasyidin telah berakhir, maka telah lahir sebuah pemerintahan baru dalam Islam yang disebut dengan bani Umayyah. Dalam Islam, nama bani Umayyah berasal dari bahasa Arab yang artinya anak turun Umayyah, yaitu Umayyah bin Abdul Syams. Umayyah bin Abdul Syams adalah salah satu pemimpin dalam suku Quraisy, yang juga saudara dari Hasyim sama-sama keturunan Abdul Manaf.

Selain itu bani Umayyah lahir ketika berakhirnya kekuasaan khalifah Ali ibn Abi Thalib, dimana khalifah Ali ibn Abi Thalib merupakan khalifah terakhir dari pemerintahan Khulafaur Rasyidin, maka lahirlah kekuasaan dinasti Umayyah. Pada masa periode Ali dan khalifah sebelumnya, pola kepemimpinan masih mengikuti keteladanan Nabi. Para khalifah dipilih melalui proses musyawarah. Selain itu pola kepemimpinan melalui proses musyawarah diambil juga pada saat khalifah Ali bin Abi Thalib mengalami kesulitan-kesulitan, mereka mengambil kebijakan langsung melalui musyawarah dengan para pembesar lainnya.

Bani Umayyah merupakan kekhalifahan pertama setelah masa Khulafa Ar-rasyidin yang memerintah dari tahun 661-750 M di Jazirah Arab dan sekitarnya serta dari 756-1031 M di Cordova, Spanyol. Sejak berdirinya dinasti Bani Umayyah, pengelolaan harta kaum muslimin tidak lepas dari pengaruh politik yang terjadi.

Selama pemerintahan Khulafaur Rasyidin, khalifah dipilih oleh para pemuka dan tokoh di Madinah, kemudian dilanjutkan dengan bai’at (sumpah setia) oleh seluruh pemuka Arab. Tradisi ini diubah oleh pemerintahan dinasti Umayyah. Sejak Muawiyah mengambil alih kekuasaan dari Ali, khalifah-khalifah Umayyah mengestafetkan kekuasaannya dengan cara menunjukk penggantinya dan para pemuka agama diperintahkan menyatakan sumpah setia dihadapan khalifah.

Pembentukan Dinasti Bani Umayyah

Sepeninggal Ali Bin Abi Thalib, Gubernur Syam tampil sebagai penguasa Islam yang kuat. Masa kekuasaannya merupakan awal kedaulatan Bani Umayyah. Muawiyah ibn Abu Sufyan ibn Harb adalah pendiri dinasti Umayyah yang sekaligus menjadi khalifah pertama dari dinasti Umayyah tersebut.

Dinasti Umayyah mulai terbentuk sejak terjadinya peristiwa tahkim pada perang Siffin. Perang yang dimaksudkan adalah perang untuk menuntut balas atas kematian khalifah Utsman bin Affan yang semula akan dimenangkan oleh pihak Ali, tetapi akibat melihat adanya tanda-tanda kekalahan, Muawiyah segera mengajukan usul kepada pihak Ali untuk kembali kepada hukum Allah.

Muawiyah ibn Abu Sufyan ibn Harb merupakan pendiri dari dinasti Umayyah dan beliau juga sekaligus khalifah pertama dari dinasti Umayah tersebut. Dinasti Umayyah sendiri mulai terbentuk ketika terjadi peristiwa tahkim pada perang Siffin. Dalam peristiwa tahkim itu, Ali telah terpedaya oleh taktik dan siasat Muawiyah yang pada akhirnya Ali mengalami kekalahan secara politis. Sementara, sejak saat itu Muawiyah mendapat kesempatan untuk mengangkat dirinya sebagai khalifah juga sekaligus raja.

Dan akhirnya pada saat itu Ali mengalami kekalahan karena Ali terpengaruh siasat yang dibuat oleh Muawiyyah, dan ternyata pada saat itu Muawiyah mempunyai kesempatan emas untuk mengangkat dirinya sendiri sebagai khalifah sekaligus menjadi raja. Atas peristiwa “tahkim” yang terjadi di antara Muawiyah ibn Abu Sufyan dan pihak Ali yang dimenangkan oleh pihak Muawiyah maka terbentuklah dinasti Umayyah. Kekalahan yang dialami oleh pihak Ali bermula dari unsur politis, dimana pihak Ali terpedaya oleh taktik dan siasat dari pihak Muawiyah. Sejak saat itu Muawiyah ibn Abu Sufyan mulai mengangkat dirinya menjadi khalifah pertama dari dinasti Umayyah.

Sejak berdirinya pemerintahan Bani Umayyah pada tahun 661 M dimulai pula tradisi baru dalam sistem pemerintahan Islam. Sistem pemilihan secara demokratis yang dikembangkan selama masa kekhalifahan Arrasyidin tidak dikenal lagi dalam proses pemilihan khalifah. Proses pergantian khalifah pada masa dinasti Umayyah ini dilakukan secara turun temurun. Dalam Islam sistem tersebut dikenal sebagai “Daulah Islamiyah” yang berarti kekuasaan Islam yang bercirikan kedinastian. Pada masa pemerintahan Umayyah sudah tidak ada lagi sistem demokratis, yang sudah lama dikembangkan oleh pemerintahan Arrasyidin.

Proses pergantian khalifah hanya dilakukan secara turun temurun dari khilafah tersebut. Proses pergantian khilafah inipun dikenal dengan kekuasaan Islam yang bercirikan kedinastian. Dengan kata lain, pada masa khalifah Muawiyah ibn Abu Sufyan pola kepemimpinan yang diterapkan dalam pemerintahannya dari sistem musyawarah berubah menjadi sistem monarki atau disebut dengan sistem kerajaan.

Kepemimpinan dalam Dinasti Umayyah yang dilakukan secara turun-temurun mengalami kesuksesan ketika diawali dengan kebijakan Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid. Khalifah Muawiyah ibn Abu Sofyan mempunyai maksud untuk mencontoh sistem monarki yang dilakukan di Persia dan Bizantium.

Dalam buku-buku sejarah lain, telah menyebutkan bahwa ide awal dari pola kepemimpinan monarki atau pewarisan kekhalifahan berasal dari Al-Mughirah ibn Syu’bah yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur Kufah di masa Muawiyah. Al-Mughirah ibn Syu’bah inilah yang memberi saran kepada Muawiyah untuk mengangkat anaknya Yazid menjadi khalifah.

Muawiyah sebagai khalifah pertama Dinasti Umayyah dipandang berhasil menciptakan budaya baru dalam sistem pemerintahan negara dan kehidupan beragama. Budaya baru yang diperkenalkan dalam pemerintahan Muawiyah antara lain: membangun dinas pos termasuk penyediaan kuda dan perlengkapannya; mengangkat qadi atau hakim sebagai profesi; memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk mengangkat senjata-tembok bila mereka berada dihadapannya; membuat anjung di dalam masjid tempatnya sembahyang, untuk menjaga keamanan dirinya dari serangan musuh-musuhnya ketika ia sedang sembahyang.

Selama Muawiyah berkuasa, ia berusaha memulihkan kembali kesatuan wilayah Islam. Untuk itu ia memindahkan ibukota dari Kufah (Irak) ke Damaskus (Syiria). Sumber terjadinya kekacauan adalah konflik antara kelompok Khawarij, Himyariyah, dan Mudariyah, maka menjadi prioritas utama kebijaksanaanMuawiyah untuk mengembalikan stabilitas hubungan antara ketiga kelompok tersebut. Muawiyah akhirnya berhasil memulihkan kembali kesatuan umat Islam dan melindungi keutuhan imperium Islam.

Setelah berhasil mengamankan situasi dalam negeri, Muawiyah segera mengerahkan pasukan untuk memperluas wilayah. Penaklukan Afrika Utara merupakan peristiwa penting dan bersejarah selama masa kekuasannya. Amr Ibn Ash adalah gubernur di Mesir yang sering diganggu oleh kekuasaan Romawi di Afrika Utara. Oleh karena itu, Amr Ibn Ash mengerahkan pasukannya di bawah pimpinan Jendral Uqbah untuk menaklukan wilayah Afrika Utara.

Langkah ini dilanjutkan oleh putra Abdul Malik, Walid (705-715 M). Ia membangun panti-panti asuhan untuk orang-orang cacat; pekerjaan untuk pembangunan rumah-rumah dibayar sebagai pegawai; membangun infrastruktur, berupa jalan-jalan raya yang menghubungkan antarwilayah.

Pada masa pemerintahan Walid ini, dilakukan ekspansi militer tentara Muslim dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 Masehi. Setelah Al-Jazair dan Marokko dapat ditundukkan. Dinasti Bani Umayyah berlangsung kurang lebih 90 tahun, Ibu kota Negara dipindahkan oleh Muawiyah dari Madinah ke Damaskus, dimana itu tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya.