Peran Para Habaib Keturunan Nabi Muhammad dalam Dakwah Islam di Nusantara

0
117

Harakah.id Buku “Para Habib Terkemuka Indonesia: Amalan dan Kebiasaan-kebiasaannya” yang ditulis oleh Nur Solikhin, akan mengenalkan kita pada sosok cucu-cucu Nabi saw yang menapakkan kakinya di tanah Nusantara. Mereka bahkan tak hanya sekadar menapakkan kaki di tanah Nusantara, namun ikut mewarnai dakwah Islam di Nusantara.

Habib, orang yang menyandang predikat sebagai cucu Nabi Muhammad saw melalui jalur keturunan Fatimah az-Zahra r.ha dan Ali bin Abi Thalib ra. Kiai Uzairon Thoifur Abdillah dalam ceramahnya mengatakan kalau habaib punya potensi besar (dalam dakwah Islam), karena mereka punya label sebagai cucu Nabi.

Potensi habaib dalam dakwah Islam terlihat jelas dalam lintasan sejarah Islam Nusantara. Ini pun diakui oleh Buya Hamka yang berkomentar perihal kehadiran para habib di Nusantara: …sejak zama kebesaran Aceh, keturunan Hasan dan Husein sudah banyak yang datang ke Tanah Air. Mereka memiliki banyak jasa dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Mereka datang di negeri ini menjadi ulama, menyebarkan agama Islam, kebaikan, dan ketaatan kepada Allah SWT.

Habib adalah gelar untuk keturunan Nabi Muhammad saw khusus laki-laki. Sementara, perempuan dikenal dengan gelar syarifah. Entah itu habib maupun syarifah, yang jelas sebagai muslim yang mengaku umat Nabi Muhammad saw, kita sepatutnya menghormati mereka. Sebab mereka adalah cucu-cucu Nabi saw.

Buku “Para Habib Terkemuka Indonesia: Amalan dan Kebiasaan-kebiasaannya” yang ditulis oleh Nur Solikhin, akan mengenalkan kita pada sosok cucu-cucu Nabi saw yang menapakkan kakinya di tanah Nusantara. Mereka bahkan tak hanya sekadar menapakkan kaki di tanah Nusantara, namun ikut mewarnai dakwah Islam di Nusantara.

Terdapat 36 biografi habaib yang ditulis oleh Nur Solikhin dalam bukunya ini. Ah, tentu akan sangat panjang kalau, dalam review ini, mau dibahas semuanya, bukan? Sehingga saya hanya akan membahas beberapa tokoh habaib saja. 

Buku ini tak membahas biografi ke-36 tokoh habaib secara mendetail. Namun, penjelasan singkat yang ditulis oleh Nur Solikhin cukup untuk sekadar membawa pembaca mengenal habaib terkemuka Nusantara. Mengenal semangat belajar mereka. Semangat dakwah mereka. Semangat membela tanah air mereka. Sampai akhlak-akhlak mereka dalam ber-Islam.

Para habib yang ditulis Nur Solikhin dalam bukunya ini, merupakan manusia-manusia yang punya semangat belajar yang tinggi. Misalnya, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih. Habib yang lahir pada 1896 di Tarim, Hadramaut ini punya gelora api semangat belajar Islam sejak masih kecil. Sejak kecil  dia sudah hafal al-Qur’an. Dan pada tahun 1912 M, dia sudah medapatkan ijazah yang jadi bukti kalau dia berhak memberi fatwa dalam bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial.

Tahun 1912, artinya, usia Habib Abdul Qadir waktu itu baru sekitar 16 tahun, namun dia sudah punya kapasitas keilmuan yang mumpuni sebagai seorang ulama. Ini menjadi tanda/bukti kalau Habib Abdul Qadir punya gelora api semangat belajar Islam yang tinggi sejak dari kecil.

Tak hanya punya semangat belajar yang tinggi, para habib juga punya semangat dakwah Islam yang tinggi. Ini sangat jelas terlihat dalam lintasan sejarah Islam Nusantara. Misalnya, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih yang giat berdakwah dengan mengadakan ta’lim di beberapa daerah seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam, Tegal, Jawa Tengah.

Habib Idrus bin Salim al-Jufri merupakan sosok habib yang memancarkan sinar Islam di wilayah Indonesia Tengah. Masyarakat muslim Nusantara wilayah Indonesia Tengah mengenalnya dengan sebutan “Guru Tua”. Selain punya semangat belajar yang tinggi, Habib Idrus juga punya semangat dakwah Islam yang tinggi. Banyak daerah di Nusantara yang pernah disinggahinya, di antaranya Pekalongan, Solo, Jombang, Palu dan lainnya.

Dakwah Habib Idrus fokus lewat gerakan pendidikan Islam. Yang paling terkenal sebagai peninggalan usaha dakwah Islam Guru Tua (Habib Idrus) adalah Pondok Pesantren Al-Khairaat yang merupakan pondok pesantren besar di wilayah Indonesia Tengah.

Tak hanya menjadi pelita dalam dakwah Islam Nusantara. Tapak kaki para habib juga mewarnai perjuangan membela tanah Nusantara dari para penjajah. Misalnya, Habib Abdurrahman azh-Zhahir yang ikut membantu dalam Perang Aceh melawan Belanda. 

Nur Solikhin menjelaskan, “Nama yang disebut oleh Snouck Hugronje antara lain adalah Habib Tengku Teupin Wan. Nama-nama lain keturunan Arab yang disebut adalah Habib Long, Habib Samalanga, dan lain sebagainya. Tetapi, yang paling terkenal menurut Snouck adalah pemimpin Perang Aceh adalah Habib Abdurrahman azh-Zhahir….”

Selain itu, Habib Ali bin Husein al-Attas juga adalah habib yang ikut berjuang melawan penjajah. Nur Solikhin menjelaskan, “Ketakwaan yang dimiliki Habib Ali kepada Allah SWT sangatlah tinggi. Ia selalu mengobarkan semangat anti-penjajah dengan membawakan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw….”

Penjelasan singkat itu memberi gambaran, kalau para habib juga ikut serta dalam perjuangan membebaskan Nusantara dari para penjajah. Seperti inilah di antara peran para habaib keturunan Nabi Muhammad. Ini menambah bukti, kalau kehadiran habaib di Nusantara membawa berkah tersendiri.

Tak hanya punya semangat belajar dan dakwah yang tinggi, serta semangat membela tanah Nusantara dari penjajah. Para habib juga memiliki akhlak yang baik. Sebagaimana Nur Solikhin menjelaskan tentang Habib Abdul Qadir as-Segaf, “Habib Abdul Qadir mendatangi berbagai kota untuk berdakwah dan menanyakan keadaan Alawiyin. Jika ada penduduk yang sakit, ia pasti menjenguknya. Ia menyantuni yang fakir dan mendamaikan yang berselisih.”

Demikian, jejak tapak kaki para cucu Nabi Muhammad saw di tanah Nusantara membawa berkah tersendiri. Ada pesan singkat dari seorang cucu Nabi Muhammad saw yang ditulis Nur Solikhin dalam bukunya “Para Habib Terkemuka Indonesia”, pesan singkat dari Habib Idrus bin Salim al-Jufri untuk semua umat muslim: “Hendaklah selalu takwah lahir dan batin. Ketika kamu mengalami sesuatu kesulitan, ingatlah Allah SWT.”

Judul buku    : Para Habib Terkemuka Indonesia: Amalan dan Kebiasaan-kebiasaannya

Penulis        : Nur Solikhin

Penerbit     : Saufa

Cetakan    : I, September 2014

Jumlah hlm.    : 264 hlm.ISBN        : 978-602-296-020-1