Beranda Headline Peran Para Pedagang Muslim dan Persentuhan Islam dengan Bolaang Mongondow

Peran Para Pedagang Muslim dan Persentuhan Islam dengan Bolaang Mongondow

Harakah.idPersentuhan Islam dengan Bolaang Mongondow dipengaruhi, salah satunya,oleh peran dan keberadaan para pedagang Muslim yang singgah atau menetap di Bolaang Mongondow.

Dalam proses penyebaran Islam di Nusantara diyakini kalau jalur perdagangan, khususnya rute laut, memainkan peran yang penting. Para pedagang muslim dipercaya selain menjual barang untuk kebutuhan ekonomi juga membawa pengaruh Islam sebagai agama yang dianutnya. Begitu juga dengan kasus Islam dan Bolaang Mongondow.

Atau, sebaliknya, sebagaimana yang dijelaskan Prof. M. Abdul Karim dalam bukunya: Islam Nusantara, bahwa penyebaran Islam di Perlak dan pesisir utara Jawa melalui proses mission sacree (misi suci) dibawa oleh para muballigh yang merangkap pedagang. 

Jadi para pembawa Islam bisa saja kaum pedagang muslim yang tujuan utamanya berdagang sekalian nyambi berdakwah. Atau, para muballigh yang misi utamanya adalah berdakwah dan untuk mengasapi dapur mereka berdagang.

Teori jalur perdagangan menghasilkan pandangan bahwa dalam sejarah penyebaran Islam ada hubungan erat antara kemajuan ekonomi dengan perkembangan Islam. Ketika pasar di suatu daerah mulai bagus, para pedagang muslim pendatang pun mulai menempati wilayah itu, untuk kemudian terjadi interaksi, sehingga memunculkan koloni-koloni muslim di wilayah tersebut.

Pandangan Islam dibawa oleh para pedagang telah mendapat kritik dari beberapa sarjana. Sebab, mereka memandang bahwa tidak mungkin Islamisasi besar-besaran di Nusantara hanya dilakukan oleh kaum pedagang. Dan, memang, jika menelik sejarah upaya Islamisasi Nusantara tidak hanya dilakukan oleh para pedagang, melainkan juga mendapat banyak sentuhan dari jaringan ulama bahkan para penguasa setempat. M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern menyebutkan kalau muslim Indonesia sendiri memainkan peran penting dalam proses Islamisasi Nusantara.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa jalur-jalur perdagangan membuka akses persentuhan Islam dengan berbagai wilayah di Nusantara. Dan, kehadiran koloni dagang muslim juga memberi persentuhan awal Islam dengan penduduk setempat. 

Persentuhan Islam di Bolaang Mongondow–daerah mayoritas muslim di Prov. Sulawesi Utara–juga diwarnai dengan kehadiran dari pedagang muslim pendatang. Sebagaimana dijelaskan oleh Seven Kosel dalam: The History of Islam in Bolaang Mongondow, bahwa di abad 19 M kehadiran para pedagang muslim Arab dan Bugis di Bolaang Mongondow semakin meningkat, khususnya di area pesisir, sehingga melihat adanya muslim Arab dan Bugis waktu itu sudah menjadi hal yang lumrah. 

Para pedagang muslim ini ada yang menetap bahkan sampai menikah dengan penduduk setempat. Tidak heran kalau kemudian di Bolaang Mongondow Raya saat ini banyak dijumpai keturunan berdarah Arab dan Bugis.

Arus kedatangan pedagang muslim Arab dan Bugis, serta juga Gorontalo, masih terus berlangsung hingga di akhir abad 20 M. Ketika itu, jalur-jalur darat untuk akses Bolaang Mongondow dengan Gorontalo masih sulit. 

Di pesisir selatan Bolaang Mongondow, mereka datang melalui Teluk Gorontalo dari jalur pelabuhan di Muara Sungai Bone, yang merupakan pintu selatan ke luar masuk Kota Gorontalo. Dengan tujuan turun di antaranya Desa Dudepo, Salongo, Molibagu, Pinolosian, Lungkap, Deaga, dan Motandoi. Diketahui salah satu kapal yang berlayar di jalur ini pada pertengahan hingga akhir abad 20 M adalah Kapal Karya Arapah milik pedagang muslim dari Kampung Bugis di Gorontalo

Namun sebab di abad 20 M Islam sudah masif di Bolaang Mongondow, dan masyarakat juga mayoritas telah beragama Islam, sehingga kehadiran mereka tidak lain hanya untuk tujuan ekonomi saja.

Pada awal abad 19 M, ketika masyarakat Bolaang Mongodow masih memeluk agama tradisional dan Katolik, telah terjadi interaksi antara para pedagang muslim dengan masyarakat setempat. Bahkan ada yang sampai mencoba menjalin hubungan dengan keluarga kerajaan.

Pada 1832 M, di masa Raja Ismael Cornelis Manoppo (1829-1833), saat itu Islam masih sebagai agama asing di Bolaang Mongondow, tercatat ada seorang muslim Arab bernama Syarif Aluwi yang coba melamar seorang perempuan dari keluarga kerajaan, yaitu Putri Sarah atau nama lainnya Bua’ Nuru Bala (bua’ merupakan sebutan untuk anak Raja Bolaang Mongondow). Putri Sarah adalah anak dari Raja Cornelis Manoppo, itu artinya beliau merupakan saudari dari Raja Ismael Cornelis Manoppo.

Namun pernikahan ini tidak terjadi, sebab dijelaskan kalau Syarif Aluwi tidak mampu memenuhi maskawin untuk menikahi perempuan bangsawan Bolaang Mongondow. Meski demikian, Putri Sarah yang waktu itu sudah masuk Islam (sebelumnya beragama Katolik) tetap memegang teguh agama barunya.

Ariel C. Lopez dalam: Conversion and Colonialism: Islam and Christianity in North Sulawesi c. 1700-1900, berdasarkan catatan Belanda, menyebutkan sejumlah maskawin yang harus dipenuhi oleh Syarif Aluwi, yaitu untuk diberi pada raja dan keluarganya: 4000 piring tembikar, 30 lusin piring porselin, 10 lusin piring besar, 2 peti kain pakaian, 2 peti kapas biru, 12 budak atau pembantu, 4 meriam, 5 pikul besi–standar berat pikul sesuai kemampuan pikul manusia di daerah itu, 12 gong, 12 set kulintang, 6 buah senapan, ½ kodi patola sutra. Dan, khusus untuk Putri Sarah: sekeping emas jewelry dan sepasang anting berlian.

Sebab Syarif Aluwi tidak mampu memenuhi maskawin, dan malah pergi meninggalkan Bolaang Mongondow, maka bisa dipastikan kalau sebenarnya Putri Sarah tidak menikah dengan Syarif Aluwi. Pernikahan yang disebutkan dalam beberapa tulisan sebenarnya baru di tahap prosesi lamaran, dan tidak sampai pada akad pernikahan, atau dalam term lokal baru pada tahap moguman (peminangan atau lamaran) tidak sampai di ponika’an atau dudu pu’ade (resepsi pernikahan setelah akad nikah).

Sebenarnya kedatangan pedagang muslim Arab, Bugis, dan Gorontalo di Bolaang Mongondow sudah terjadi sebelum 19 M. Diceritakan pada pertengahan abad 18 M ada seorang pedagang Bugis yang menjadi bagian dari keluarga kerajaan, sebab menikah dengan putri raja kala itu. Diketahui pedagang tersebut bernama Andi Latai.

Andi Latai melamar Bua’ Hontinimbang–putri dari Raja Eugenius Manoppo yang menjabat sekitar 1767-1770 M. Dijelaskan bahwa pernikahan itu terjadi sebab Andi Latai mampu memenuhi maskawin yang dibebankan kepadanya.

Bua’ Hontinimbang pun masuk Islam mengikuti agama suaminya itu. Dan, meski raja saat itu beragama Katolik, namun Andi Latai dan Bua’ Hontinimbang tetap diberi kebebasan untuk mengamalkan ajaran Islam. Sehingga, saat itu Islam sudah masuk di istana Kerajaan Bolaang Mongondow, meski hanya terbatas pada lingkungan anak-cucu Andi Latai dan Bua’ Hontinimbang. Di kemudian hari, salah satu cucu mereka, Abraham Sugeha, menjadi ulama dan Raja Bolaang Mongondow yang ikut berjasa terhadap masifnya Islamisasi di Bolaang Mongondow.

Kehadiran para pedagang muslim di Bolaang Mongondow saat itu telah menyebabkan terjadinya persentuhan antara Islam dengan masyarakat Bolaang Mongondow. Namun, menurut Ariel C. Lopez bahwa tidak mungkin para pedagang bisa melakukan Islamisasi massal pada masyarakat Bolaang Mongondow. Salah satu alasannya, partisipasi masyarakat dalam pasar ekonomi di waktu itu masih sangat minim, dan belum adanya tempat pasar permanen di mana memungkinkan terjadinya interaksi kondusif antara muslim traders and most of the native population (pedagang muslim dan sebagian besar penduduk setempat).

Memang benar bahwa perubahan agama secara besar-besaran di Bolaang Mongondow pada kurun pertengahan hingga akhir abad 19 M, bukan semata sebab peran para pedagang muslim, melainkan juga dari jaringan ulama dan elite Bolaang Mongondow yang saat itu telah memeluk Islam. Namun, hal ini tidak lantas menghapuskan fakta bahwa kehadiran pedagang muslim turut menyumbangkan pengaruh terhadap persentuhan Islam dengan Bolaang Mongondow.

REKOMENDASI

Muslim Tapi Musyrik, Kerancuan Stigma dan Pemikiran Kaum Salafi Terkait Konsep Kafir dan Syirik

Harakah.id - Muslim tapi Musyrik adalah stigma dan status yang tampaknya baru lahir belakangan ini. Penyebabnya adalah, ada sebagian kelompok yang...

Kalau Hidup Anda Terasa Sempit Dan Sesak, Coba Amalkan dan Baca Shalawat Fatih Pelapang...

Harakah.id – Shalawat Fatih ini cocok dibaca ketika anda merasa hidup sesak dan sempit. Di satu situasi, kita seringkali merasa hidup...

Kita Sering Diceritakan, Bahwa Di Awal Penciptaan, Seluruh Malaikat Bersujud Kepada Nabi Adam. Benarkah...

Harakah.id - Malaikat bersujud kepada Nabi Adam adalah hal atau peristiwa yang seringkali dikisahkan dalam kisah-kisah permulaan Adam diciptakan oleh Allah....

Syukur Bisa Diungkapkan Dengan Banyak Cara, Salah Satunya Dengan Sujud. Ini Doa Ketika Sujud...

Harakah.id - Sujud Syukur adalah salah satu bentuk ungkapan yang terima kasih dan bersyukur. Syekh Nawawi dalam Nihayah al-Zain, mengutarakan ada...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...