Peran Perempuan dan Para Ibu Dalam Mencegah Ekstrimisme Dari “Dapur”

0
26
Peran Perempuan dan Para Ibu Dalam Mencegah Ekstrimisme Dari

Harakah.idPeran perempuan dalam mencegah ekstrimisme, dalam beberapa kasus, terbukti efektif. Para ibu punya kedekatan dan menjadi peran sentral dalam mengontrol emosi atau segala hal yang terjadi dari dalam rumah.

Tahun 2018 lalu, puluhan orang penganut Ahmadiyah terusir dari tempat tinggalnya setelah sekelompok orang melakukan perusakan terhadap kediaman mereka di Desa Gereng, Kabupaten Lombok, Nusa Tenggara Barat. Serangan dilakukan sebanyak tiga kali, Serangan pertama terjadi pada Sabtu, sekitar pukul 13.00 WITA, lalu disusul serangan berikutnya kira-kira pukul 21.00 WITA, serta Minggu pagi sekitar pukul 06.30 WITA. 

Serangan terjadi disebabkan karena sikap kebencian dan intoleransi pada paham keagamaan yang berbeda. Basis-basis Ahmadiyah marak menjadi sasaran, termasuk rumah pribadi, tempat ibadah dan bahkan banyak pula Ahmadi yang mendapat serangan fisik.

Bagaimana nasib korban ekstremisme kekerasan tersebut? Tentunya merasa trauma yang sangat mendalam, ketakutan, merasa tidak aman dan bahkan mengisolasi diri dari lingkungan. Bukan hanya itu, salah satu teman saya terancam cita-citanya terhambat akibat luka di fisiknya karena pengeboman yang dilakukan oleh sekelompok ekstrem. Mengerikan bukan?

Apalagi bagi perempuan dapat menimbulkan dampak berkepanjangan. Kenapa demikian? Sebab perempuan memiliki kerentanan khusus dari pada laki-laki. Hal tersebut juga dikatakan oleh Komisi Nasional Anti kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Kerentanan perempuan di antaranya: 

Pertama, perempuan mengalami kekerasan fisik, psikis, dan seksual. Di antaranya pemaksaan perceraian, terjebak dalam perkawinan gantung karena beda keyakinan, ancaman perkosaan, stigma, dan pelabelan sebagai perempuan tidak baik saat antar anak ke sekolah. 

Kedua, perempuan kehilangan rasa aman dan nyaman, ketakutan gagal melindungi anak-anaknya dan kekhawatiran akan pendidikan serta masa depan anak-anaknya.

Ketiga, terganggunya relasi sosial baik dalam konteks keluarga maupun tetangga sebagai ruang sosial perempuan. Kemudian, perempuan mengalami gangguan kesehatan utamanya kesehatan reproduksi.

Jelas sekali isu ekstremisme ini sangat menyangkut keberlangsungan hidup manusia, apalagi perempuan, yang secara pengalaman biologis memiliki kerentanan tersendiri. Kita harus mengikis ekstrimisme kekerasan ini dari akar-akarnya. Bagaimana caranya? 

Peran perempuan sebagai ibu yang mempunyai tanggung jawab sama halnya seperti ayah yaitu untuk merawat, mengasuh dan mendidik anak tentu bisa menjadi strategi untuk pencegahan ekstremisme kekerasan. Karena proses pendidikan anak adalah proses pembentukan karakter anak. Lalu dari mana ibu harus memulainya?

Pak Wawan Gunawan seorang Pegiat Lintas Iman mengatakan bahwa alur terjadinya Ekstremisme kekerasan adalah: bermula dari intoleransi, kemudian diskriminasi, kemudian radikal dan berujung pada ekstremisme kekerasan. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa akar mula dari ekstremisme kekerasan adalah intoleransi, jika kita ingin menghentikan ekstremisme kekerasan maka harus berangkat dari penghancuran akarnya, yaitu intoleransi.

Mari kita mulai dengan mengajarkan anak tentang nilai nilai toleransi pertama-tama kita harus mengajari anak soal perbedaan, buat perbedaan menjadi hal biasa bagi anak, ajari anak untuk tidak memberikan nilai pada perbedaan. Karena perbedaan adalah realitas dunia kita, dengan mengajari anak mengenai perbedaan, kita tidak secara langsung melengkapi anak untuk bertahan hidup di dunia yang beragam ini.

Saya jadi teringat pada Chimamanda Ngozi Adichie dalam bukunya “A Feminist Manifesto” dia juga menjelaskan beberapa pemahaman mengenai cara mengajarkan anak tentang nilai-nilai toleransi.

Menurut Chimamanda anak harus tahu dan memahami bahwa orang menempuh jalan yang berbeda dan selama jalan itu tidak membahayakan orang lain, maka jalan itu sah dan harus dihormati.  Ajari anak bahwa kita tidak mengetahui segala sesuatu tentang kehidupan. Baik agama ataupun sains memiliki ruang-ruang untuk hal-hal yang tidak kita ketahui, dan kita harus berdamai dengan hal itu.

Selain itu, kita harus ajari anak untuk tidak menguniversalkan standar atau pengalamannya sendiri. Ajari anak bahwa standarnya hanya untuk dirinya sendiri, dan bukan untuk orang lain. Ini adalah satu-satunya bentuk kerendahan hati yang diperlukan, kesadaran bahwa perbedaan adalah hal yang normal. 

Jadi, mengajari anak tentang nilai-nilai toleransi artinya kita sudah mencegah anak dari pelaku ekstremisme kekerasan. Karena ekstremisme kekerasan berangkat dari ketidaksiapan seseorang atau kelompok untuk menerima perbedaan. Perbedaan adalah hal yang wajar, mari hidup damai di tengah perbedaan tersebut. Saling menghormati dan saling menebarkan kasih sayang sesama manusia.

Jadi demikianlah peran perempuan, khususnya para ibu, yang tampaknya krusial dalam pembentukan karakter anak dalam rumah tangga. Ini adalah langkah paling dini dari upaya pencegahan nilai-nilai ekstrimisme dan radikalisme.