Beranda Sajian Utama Perang Al-Abwa', Perang Pertama Nabi Muhammad SAW yang Jarang Diceritakan

Perang Al-Abwa’, Perang Pertama Nabi Muhammad SAW yang Jarang Diceritakan

Harakah.idDalam proses perjuangan mendakwahkan Islam, Rasulullah mengalami banyak sekali peristiwa peperangan. Perang Al-Abwa’ adalah satu perang pertama yang dilakukan Rasulullah

Perjuangan Nabi Muhammad Saw beserta para sahabat dalam menyebarkan syiar Islam tidak luput dari peperangan. Namun, bukan berarti Islam menganjurkan perang. Sejarah mencatat, setidaknya ada 27 peperangan yang pernah diikuti oleh Nabi Muhammad Saw dengan hasil 9 di antaranya terjadi pertempuran dan sisanya berakhir dengan damai. Tidak hanya itu, ternyata sejumlah peperangan tersebut bukan serta merta karena ingin perang lho. Rupanya, setiap peperangan memiliki sebab-musababnya sendiri. Termasuk Perang al-Abwa’.

Berdasarkan riwayat al-Imâm al-Bukhârî dalam Shaḥîḥ al-Bukhârî, perang pertama yang dilakukan oleh Rasulullah Saw adalah Perang al-Abwa’ atau sering disebut pula Perang Waddân. Al-Abwa’ adalah nama sebuah daerah yang secara geografis terletak di sebelah tenggara Kota Madinah. Perang ini juga disebut Waddân karena kedua daerah tersebut berdekatan.

Dalam al-Sîrah al-Nabawiyyah ‘Ardh Waqâi’ wa Taḥlîl Aḥdâts, ‘Alî Muḥammad Muḥammad al-Shalâbî menyebut bahwa jarak antara keduanya hanya berkisar 6-8 mil. Mengutip Ibnu Isḥâq, Ibnu HIsyâm dalam Sîrah al-Nabawiyyah menceritakan bahwa Perang al-Abwâ’ terjadi kira-kira dua belas bulan sejak kedatangan Rasulullah Saw ke Madinah. Suatu hari di bulan Shafar, beliau pergi dari Madinah hendak mencegat kafilah dagang Quraisy. Pencegatan ini dilakukan karena kaum kafir Quraisy telah merampas harta benda sahabat muhajirin yang mereka tinggalkan di Mekkah ketika hijrah.

Baca Juga: Fragmen Sejarah Perang Uhud

Sepeninggal Nabi, kepemimpinan kaum muslim di Madinah diserahkan kepada Sa’ad ibn ‘Ubâdah. Jumlah pasukan muslimin yang dibawa oleh Nabi Saw saat itu adalah 200 orang yang terdiri dari pasukan infanteri dan pasukan berkuda. Semua pasukan tersebut berasal dari kalangan muhajirin. Ibn Katsîr mengutip perkataan al-Wâqidî, ia berkata bahwa Rasulullah Saw mengangkat pamannya, Hamzah ibn ‘Abd al-Muthallib, sebagai panglima pasukan. Liwâ’ atau panji Rasulullah Saw ketika itu berwarna putih dan dibawa oleh Abû Mirtsad.

Ibn Ḥajar al-‘Asqalânî dalam Fatḥ al-Bârî mengutip riwayat Ibn ‘Abbâs, ia berkata bahwa ketika sampai di al-Abwâ’, Rasulullah Saw mengutus ‘Ubaidah ibn al-Ḥârits bersama 60 orang. Mereka kemudian bertemu dengan sekelompok orang Quraisy. Mereka lantas saling memanah. Sa’ad ibn Abî Waqqâsh adalah orang yang pertama kali melesatkan anak panahnya. Oleh karenanya, ia dianggap sebagai orang yang pertama kali melepaskan anak panah di sabîlillâh.

Sesampainya di Waddân, Rasulullah Saw tidak mendapati orang Quraisy. Beliau hanya bertemu dengan Bani Dhamrah ibn Bakr ibn ‘Abd Manâh ibn Kanah. Bani Dhamrah kemudian mengajak berdamai. Mereka mengutus Makhsyi ibn ‘Amr al-Dhamrî yang merupakan pemimpin mereka pada saat itu untuk bernegoisasi dengan Nabi Saw.

Baca Juga: Ramadan Bukan Hanya Soal Ibadah, Tapi Juga Berdakwah di Medan Perang

Negoisasi tersebut menghasilkan tiga kesepakatan, yaitu: (1) perjanjian untuk tidak saling menyerang, (2) jika masing-masing mendapat serangan dari luar maka salah satunya wajib membela dan menolong dengan kekuatan penuh, dan (3) Bani Dhamrah dilarang membantu musuh-musuh kaum muslimin dalam bentuk apapun.

Setelah melakukan negoisasi, Rasulullah Saw kembali ke Madinah dan tidak melakukan peperangan. Beliau bermukim di Madinah selama sisa bulan Shafar sampai permulaan Rabiul Awal.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...