Beranda Keislaman Muamalah Perang Tafsir dalam “Bipang Presiden Jokowi” dan “Gus Miftah Ceramah di Gereja”

Perang Tafsir dalam “Bipang Presiden Jokowi” dan “Gus Miftah Ceramah di Gereja”

Harakah.id“Bipang Presiden Jokowi” dan “Gus Miftah Ceramah di Gereja” telah menjadi dua topik perdebatan dan polarisasi masyarakat Indonesia. Fenomena ini dapat dimaknai secara positif, yaitu bahwa pengguna internet di Indonesia adalah tergolong audiense active. Hal ini merupakan modal penting dalam demokrasi dan peran agama di dalamnya.

Terbentuknya identitas keindonesia, yang dimulai dari fase kebangkitan nasional dan dipuncaki dengan kemerdekaan Indonesia pada 1945, tidak dapat dilepaskan dari peran mesin cetak yang mempersatukan semangat kebangsaan rakyat pra-Indonesia. Mesin cetak menghadirkan media cetak seperti bulletin, majalah, buku, kitab dan selebaran-selebaran. Ini adalah ruang publik ‘pertama’ yang menjadi tempat eksponen pemikir-elemen bangsa menuangkan gagasan-gagasan kebangsaannya.

Karena ruang publik itulah, narasi dan cerita tentang bangsa Indonesia terbentuk, lalu mengkristal menjadi Indonesia merdeka. Ruang publik tersebut meniscayakan keterlibatan masyarakat dalam penyusunan pandangan kebangsaan, aktif menafsirkan pesan, dan memahami, menolak maupun menerima tawaran ide-ide untuk kepentingan bersama. Artinya, sejak awal pendirian bangsa ini, bangsa ini telah dibentuk oleh ide-ide yang dibentuk secara aktif, diinisiasi oleh rakyat, dan disuarakan melalui saluran-saluran komunikasi yang tersedia.

Dari pemerintahan ke pemerintahan selanjutnya, rakyat Indonesia semakin banyak memiliki saluran komunikasi. Mereka mengembangkan secara aktif berbagai saluran tersebut, mengisinya dengan berbagai gagasan-gagasan kepublikan. Ada fase yang dianggap sangat terbuka, tetapi, ada pula fase yang dianggap sangat tertutup, satu arah, dari atas ke bawah, tetapi, bukan berarti rakyat benar-benar tidak dapat menyuarakan gagasan dan kepentingannya. Era keterbukaan kembali setelah hampir tiga puluh tahun rakyat dibatasi. Pasca reformasi inilah beragam saluran komunikasi tumbuh, dari yang konvensional hingga yang digital. Cetak, radio, televise hingga internet.

Namun, di antara beragam pilihan saluran komunikasi, internet telah menjadi pilihan utama rakyat. Saat ini, hampir 70 % masyarakat Indonesia memiliki saluran komunikasi publiknya sendiri; melalui tumbuh pesatnya media sosial. Mereka memiliki perangkatnya, hardware hingga shoftware, smartphone, paket data internet, aplikasi dengan beragam jenisnya.

Rakyat memiliki kuasa atas suaranya. Sekalipun perangkat-perangkat itu tumbuh atas izin dan prakarsa pemerintah, tetapi pemerintah hampir-hampir tidak memiliki kemampuan kontrol yang memadai terhadap penggunaan media-media sosial; saluran rakyat untuk berbicara tentang kepentingan dan pandangannya.

Di sini, kita bisa menebak bagaimana ketika rakyat dengan leluasa berkomentar tentang apa saja, dalam perspektif mereka yang beragam. Polarisasi antara yang setuju dengan yang tidak setuju terhadap suatu isu yang berkembang. Sebagai contoh, selama bulan Ramadhan 2021 ini, kita diramaikan dengan isu “Bipang Presiden Jokowi” dan “Gus Miftah Ceramah di Gereja.” Masyarakat terpolarisasi antara yang bisa memaklumi dan menerima pesan yang diterima dengan mereka yang menganggap ganjil serta menolak kedua isu tersebut.

Polarisasi ini menunjukkan bahwa rakyat Indonesia, sejatinya adalah apa yang dalam studi komunikasi disebut sebagai audiens yang aktif (active audiense). Terutama dalam isu publik yang menyangkut politik dan agama. Mereka bukan penerima pesan yang pasif, menelan mentah-mentah apa yang mereka dapatkan di media sosial. Mereka berfikir, memilah dan memilih, menentukan sikap, dan terkadang mengekspresikannya dalam bentuk komentar, unggahan, dan berbagai model respon lainnya.

Jutaan pesan yang diproduksi di media sosial dalam setiap detiknya; dipilih oleh jutaan rakyat pengguna media sosial; politik, ekonomi, hiburan, pendidikan, budaya dan agama. Mereka memiliki aplikasi dan sumber daya yang membuat mereka mampu mengakses konten-konten yang beragam tersebut. Mereka mencari, bukan hanya menerima begitu saja.

Audience active berakar pada pemikiran komunikasi budaya Stuart Hall, seorang teoritikus dalam kajian cultural studies dari Inggris keturunan Karibia. Teorinya disebut reception theory (teori penerimaan pesan). Teori ini mengatakan bahwa seorang penerima pesan, user informasi, pada dasarnya tidak bersikap pasif. Ia memiliki kebutuhan dan kesadaran yang ditentukan oleh latar belakang pendidikan, pergaulan, komunitas, dan terutama kelas sosial. Orang akan mencari apa yang dia inginkan. Ia akan mencari, memilih dan menggunakan informasi yang sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan kelas sosialnya. Inilah yang disebut trend pembaca, trend pengguna internet, dan dengan sendirinya menjadi trend budaya.

Dalam menyikapi pesan Presiden Jokowi tentang cinta produk dalam negeri, salah satunya adalah Bipang, pengguna internet di Indonesia terbelah. Ada di antara mereka yang menggunakan referensi budaya dan agama untuk merespon pesan tersebut. Dalam budaya yang dominan, Muslim-Jawa, Bipang adalah kuliner yang asing; karena ia tidak begitu dikenal dalam konteks nasional. Istilah ini kemudian ternyata menimbulkan penafsiran yang beragam, dan sangat memungkinkan ditafsirkan secara kontra-produktif dengan yang diharapkan Presiden Jokowi atau tim penulis naskahnya sendiri.

Misalnya, ada sebagian pihak yang menafsirkan Bipang sebagai “babi panggang”, dimana dalam budaya Muslim ia tergolong panganan yang dilarang. Kelompok yang sejak awal kontra dengan kepemimpinan Presiden Jokowi menggunakannya sebagai celah untuk ‘menyerang’. Sekalipun cukup mudah untuk memahami pernyataan Presiden Jokowi dalam konteksnya untuk masyarakat lokal tertentu yang memang mengkonsumsinya. Kelompok masyarakat tertentu terkadang melihat bahwa trendingnya Bipang hanya sebagai upaya pengalihan atas isu yang lebih krusial-strategis seperti pelemahan KPK melalui tes wawasan kebangsaan yang tidak masuk akal. 

Kasus Gus Miftah ceramah di Gereja merupakan bukti lain bahwa polarisasi di masyarakat adalah bentuk komunikasi aktif masyarakat dalam menyikapi persoalan publik. Isu Gus Miftah ini menjadi perdebatan antara kelompok yang ingin mencitrakan diri sebagai kelompok mempromosikan kehidupan bermasyarakat yang lebih terbuka dengan mereka yang ingin mencitrakan diri dan mencoba bersikap ketat terhadap ajaran agama.

Agama, dalam dua konteks perseteruan publik di atas, menempati posisi sebagai referensi kebudayaan yang diakses untuk menentukan sikap terhadap pesan yang diterima. Baik sikap menerima maupun menolak sebuah isu.

“Bipang Presiden Jokowi” dan “Gus Miftah Ceramah di Gereja” telah membetuk kluster-kluster komunikan; dimana keduanya bersikap aktif dalam merespon dengan asumsi yang dimiliki sebelumnya. Sejauh ini, polemik tentang kedua isu tersebut masih dalam batas-batas komunikasi yang wajar. Dan menunjukkan bahwa pengguna internet kita sebenarnya adalah pengguna yang aktif dan berkesadaran sejauh menyangkut isu-isu publik. Karenanya, sebenarnya kita tak perlu terlalu khawatir dengan perkembangan tersebut.  

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...