Beranda Keislaman Tafsir Perbedaan Ibadah dan Ketaatan dalam Al-Quran, Hubungan Spesial Manusia dengan Tuhan

Perbedaan Ibadah dan Ketaatan dalam Al-Quran, Hubungan Spesial Manusia dengan Tuhan

Harakah.idManusia berhubungan dengan Tuhan melalui ritual ibadah. Ibadah di sini berbeda dengan konsep ketaatan hamba pada tuan-nya.

Agama-agama di dunia memiliki gambaran masing-masing tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Ada yang menyebut manusia sebagai keturunan dewa-dewa. Ada yang menempatkan manusia sebagai ciptaan belaka. Ada yang menempatkannya sebagai seolah kekasih. Ada yang menempatkannya sebagai seolah seorang ayah. Ada pula yang menggambarkan hubungan keduanya sebagai tuan dan hamba sahaya yang karakter utamanya adalah hamba harus taat dan senantiasa memberikan pelayanan.

Al-Quran, sebagai kitab suci yang dipedomani umat Islam, memiliki sejumlah konsep yang menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan. Salah satu konsep itu adalah ibadah. Manusia berhubungan dengan Tuhan melalui ritual ibadah. Ibadah di sini berbeda dengan konsep ketaatan hamba pada tuan-nya.

Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56)} [الذاريات: 56]

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Ayat ini menjelaskan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah bertujuan agar mereka beribadah kepada Tuhan. Ibadah diambil dari kata ‘abada-ya’budu-‘ibadah yang berarti mentaati dan melayani. Kata ini seakar dengan kata abdun yang berarti budak atau hamba sahaya. Seorang hamba sahaya pada zaman dahulu, adalah orang yang dimiliki oleh orang lain; hamba harus taat dan senantiasa melayani tuannya. Sekalipun kata ibadah mengandung arti ketaatan dan pelayanan, tetapi kata ibadah lebih dari itu. Imam Al-Maturidi (w. 333 H.) mengatakan,

ثم في العبادة خصوصية معنى، ليس ذلك في الطاعة والخدمة، وغير ذلك من الأفعال؛ كقوله تعالى: (مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ)؛ حيث لم يجز العبادة لغيره، وأجاز الطاعة والخدمة، والتعظيم، وغير ذلك من الأفعال؛ كقوله: (مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ)، دل أن في العبادة معنى ليس ذلك المعنى في غيره؛ لذلك وقعت الخصوصية له

Kemudian, dalam konsep ibadah terdapat pengertian khusus yang tidak terdapat dalam kata taat dan khidmat (pelayanan), dan lainnya dari berbagai nama perbuatan sebagaimana digunakan dalam firman Allah, “Barang siapa mentaati rasul, maka ia telah mentaati Allah”, dimana Allah tidak membolehkan ibadah kepada selain Allah, dan membolehkan taat, Khidmah dan pengagungan dan tindakan lain kepada makhluk, sebagaimana disebut dalam firman Allah, “Barang siapa mentaati rasul, maka ia telah mentaati Allah, ia menunjukkan bahwa ibadah punya pengertian yang tidak terdapat dalam pengertian kata lain. Karena itulah, kata ibadah punya kekhususan sendiri (Tafsir Al-Maturidi, jilid 9, hlm. 295).

Perbedaan prinsipil antara ibadah dan ketaatan-pelayanan adalah, ibadah hanya boleh dilakukan kepada Allah SWT. Sedangkan ketaatan dan pelayanan boleh dilakukan kepada sesama manusia. Sebagaimana disebut dalam ayat yang memerintahkan kita agar taat pada rasul-Nya. Ketaatan kepada rasul tidak disebut ibadah. Dengan demikian, ibadah adalah hubungan khusus antara manusia dengan Allah SWT.  Inilah perbedaan antara ibadah dengan ketaatan dalam Al-Quran. Ibadah digunakan hanya untuk Allah SWT. Sedangkan ketaatan bisa digunakan kepada Allah atau sesama manusia.

Sekalipun manusia mungkin taat kepada manusia lain, tetapi ketataan itu tidak seharusnya bertentangan dengan ketaatan kepada Allah SWT. Tidak boleh bertentangan dengan perintah atau larangan Allah SWT. Dalam sebuah riwayat disebutkan, la tha’ata li makhluqin fi ma’shiyatil khaliq, yang berarti tidak ada kewajiban taat kepada makhluk dalam perkara yang termasuk kedurhakaan kepada Sang Pencipta.

Demikian ulasan singkat tentang perbedaan ibadah dan ketaatan dalam Al-Quran. Semoga “Perbedaan Ibadah dan Ketaatan dalam Al-Quran, Hubungan Spesial Manusia dengan Tuhan” ini dapat menambah wawasan kita bersama.

REKOMENDASI

Muslim Tapi Musyrik, Kerancuan Stigma dan Pemikiran Kaum Salafi Terkait Konsep Kafir dan Syirik

Harakah.id - Muslim tapi Musyrik adalah stigma dan status yang tampaknya baru lahir belakangan ini. Penyebabnya adalah, ada sebagian kelompok yang...

Kalau Hidup Anda Terasa Sempit Dan Sesak, Coba Amalkan dan Baca Shalawat Fatih Pelapang...

Harakah.id – Shalawat Fatih ini cocok dibaca ketika anda merasa hidup sesak dan sempit. Di satu situasi, kita seringkali merasa hidup...

Kita Sering Diceritakan, Bahwa Di Awal Penciptaan, Seluruh Malaikat Bersujud Kepada Nabi Adam. Benarkah...

Harakah.id - Malaikat bersujud kepada Nabi Adam adalah hal atau peristiwa yang seringkali dikisahkan dalam kisah-kisah permulaan Adam diciptakan oleh Allah....

Syukur Bisa Diungkapkan Dengan Banyak Cara, Salah Satunya Dengan Sujud. Ini Doa Ketika Sujud...

Harakah.id - Sujud Syukur adalah salah satu bentuk ungkapan yang terima kasih dan bersyukur. Syekh Nawawi dalam Nihayah al-Zain, mengutarakan ada...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...