fbpx
Beranda Gerakan Perdebatan Teologis Dan Politisasi Agama Yang Tidak Perlu Dalam Merespons Masalah Corona

Perdebatan Teologis Dan Politisasi Agama Yang Tidak Perlu Dalam Merespons Masalah Corona

Harakah.id – Virus Corona tidak hanya melahirkan efek patogenik dalam tubuh manusia. Ia juga melahirkan efek patogenik teologis berupa fenomena politisasi konsep azab dan takdir, sekaligus politisasi ketakutan masyarakat terhadap Corona.

Dalam sebuah potongan video yang viral beberapa waktu yang lalu, terdapatlah seorang tokoh agama yang ceramah di atas mimbar tentang Corona. Kalau boleh saya simpulkan, kata si penceramah, Corona adalah konspirasi buatan Yahudi, agar umat Islam tak lagi pergi ke masjid dan membangun solidaritas lewat tradisi salaman. Ada pihak-pihak yang menginginkan masjid-masjid kosong dan solidaritas umat Islam hancur lebur. Dengan menyajikan data, yang menurut dia fakta sebagaimana yang terjadi di Cina, justru orang-orang yang datang ke masjid akan terlindungi dari Virus Corona. Menariknya, dia memberikan analogi kalau physical distancing yang mencegah umat datang ke masjid sama halnya dengan orang yang berusaha menghindari ular tapi dengan cara mendatangi ular itu sendiri, ya justru dicaplok. Harusnya, berlindung ke masjid! Marakkan salat berjamaah! Ayo tetap bersalaman! Itu kata dia.

Jauh sebelum video tersebut viral, netizen Indonesia yang terlampau soleh-solehah ini sudah pada berisik ketika Majelis Ulama dan beberapa Lembaga Fatwa Ormas Islam mendukung keputusan pemerintah untuk melarang kegiatan berkerumun dengan mengeluarkan himbauan peliburan pelaksanaan salat Jumat di area-area zona merah dan “melarang” umat Muslim melaksanakan salat berjamaah dan mengadakan selametan-tahlilan. Responsnya pun mengerikan. Teriakan-teriakan “takdir kita di tangan Tuhan, kalau mati ya mati, kalau masih dikasih hidup, ya Corona gak akan mempan” dan “takut tuh sama Allah, bukan sama Corona!” muncul dari orang yang mayoritas memang sedang mengalami kondisi pubertas keagamaan.

Hal ini mungkin bisa dimaklumi, mengingat populisme agama memang sedang marak-maraknya dan ngetrend di Indonesia. Saya berpikir, gerakan yang selalu beriringan dengan agenda politik ini akan berakhir setelah selesainya pemilihan presiden. Faktanya, mereka terus bergerak, mencoba menghimpun kekuatan dan memobilisir massa di pengajian-pengajian untuk menjadi oposisi tulen bagi apapun dan siapapun kecuali diri mereka sendiri. Jadi kondisi ekstase spiritualitas macam ini memang harus dimaklumi, karena selain memang ngotot, mereka juga tidak mau menerima masukan orang lain.

Sejak saat itu, problem apapun akan selalu ditarik dari sudut pandang teologi yang sangat sempit, termasuk ketika Corona masuk ke Indonesia. Tanpa harus melakukan prediksi yang aneh-aneh, sudah bisa diterka perdebatan dan keriuhan semacam apa yang akan muncul di kalangan netizen yang puber ini, tidak jauh-jauh dari perdebatan soal takdir dan politisasi konsep adzab. Para jamaah mulai ditakut-takuti oleh ustadznya masing-masing dan diceramahi materi-materi konspirasi yang pada akhirnya tidak lagi meletakkan kasus Corona dalam konteks medis dan fisiologisnya.

nucare-qurban

Seketika, semua orang jadi Jabariyah (aliran teologi yang meyakini perbuatan manusia sepenuhnya ditentukan oleh qadha’ dan qadar Allah). Mereka seolah-olah tidak memiliki daya dan upaya. Semuanya ditentukan dan telah dipastikan oleh Allah Swt. Keteguhan teologis ini juga yang membuat sebagian orang merasa bodo amat dengan protokol keamanan kesehatan yang dikeluarkan pemerintah. Ajaran “manusia diciptakan oleh Allah untuk menyembah dan beribadah” dalam bayangan mereka sungguh mengakar dalam bentuknya yang paling mentah. Lanjutlah mereka salat Jamaah tanpa protokol, berkerumunan, berkumpul di majelis taklim dan sebagainya.

Kalau kita tengok sejarah, kemunculan aliran teologi Jabariyah juga tidak lepas dari kepentingan politik. Ada rezim yang mau kekuasaannya langgeng. Bikinlah satu konsep teologis yang membuat orang tidak bisa berpikir kritis dan mentah ketika mengritik pemerintah yang korup. Konsep teologis ini juga berfungsi untuk menyucikan seluruh tabiat dan perbuatan kotor warga istana dengan menyerahkannya kepada Takdir Allah. Manusia gak bisa ngapa-ngapain kecuali tawakal. Kalaupun kami korupsi, itu juga digerakkan dan sudah ditakdirkan oleh Allah. Begitu kira-kira.

Dan yang patut diingat, konsep teologi Jabariyah juga sudah usang dan tidak lagi menemukan bibit tumbuh selama beratus tahun sampai hari ini. Kalaupun masih dibicarakan, mungkin hanya oleh segelintir mahasiswa fakultas Ushuluddin demi kebutuhan nulis makalah di matakuliah Ilmu Kalam. Selebihnya, ya biasa-biasa aja.

Lalu pertanyaannya, apakah dorongan untuk menjadi Jabariyah yang diyakini dan dikampanyekan oleh sekelompok orang di masa Corona hari ini merupakan turunan dari agenda besar kepentingan politik tertentu? Entahlah, tanpa dijelaskan sepertinya jawaban mengenai itu sudah terang benderang.

Format keyakinan teologis semacam ini bukan hanya berbahaya bagi cara kita memahami agama dan meletakkan takdir Tuhan. Dalam aspek yang paling praksis, gerakan mengajak umat untuk melawan protokol penanganan penyebaran virus Corona berdasarkan argumentasi teologis juga berpotensi menciptakan gelombang besar kekacauan. Bayangkan! Mereka akan tetap berkerumun, melakukan kontak langsung dan tidak memperdulikan penyebaran virus yang terjadi sangat cepat. Yang jadi korban bukan hanya mereka sendiri, tapi seluruh orang dekat, kerabat dan masyarakat tak bersalah yang tanpa disadari telah melakukan kontak langsung dengan penderita. Dan parahnya, mereka gak mau disalahkan karena yang mereka lakukan mereka anggap perjuangan memegang teguh Akidah Islamiyah. Kan repot?!

Jadi jangan kira persoalan teologis, yang muncul secara spesifik dari pola gerakan keberagamaan yang terbentuk di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir ini tidak berbahaya. Beberapa ulama sudah menjelaskan panjang lebar bahwa ada proses ikhtiar sebelum tawakkal. Pemahaman mentah terhadap konsep takdir Allah tampaknya memang dipegang oleh mereka yang gak pernah ngaji atau pas ngaji dia main tiktok.

Selain itu, ada juga yang teriak kalau “Corona adalah adzab yang Allah turunkan kepada mereka yang kafir”, “Corona adalah simbol kemenangan umat Islam”, “Corona adalah adzab karena manusia suka maksiat” dan “Corona adalah adzab yang Allah turunkan karena penganiayaan Muslim Uyghur”. Keragaman variabel-variabel teologis yang digunakan dalam menyikapi Corona semacam ini sebenarnya menggambarkan kalau mereka juga kebingungan dalam menyikapi fenomena Corona dari sudut pandang agama. Hal ini juga menunjukkan kedangkalan, upaya cocokologi, usaha menghibur diri dan membenarkan keyakinannya sendiri.

Jadi pertanyaan, sebenarnya Corona datang buat siapa nih? Orang maksiat? Buktinya orang soleh banyak juga yang kena. Orang kafir? Buktinya pasien dan korbannya juga banyak yang Muslim. Simbol kemenangan Umat Islam? Umat Islam kena juga lho! Penganiaya Muslim Uyghur? Mereka yang di Fiji, bahkan konon katanya warga suku terpencil di hutan Brazil ada yang positif Corona, emang tau soal Uyghur? Ikut bentrok di Cina? Kan enggak juga. Jadi memang argumentasinya gampang dipatahkan. Tapi, sekali lagi, mereka bersikap bodo amat.

Sekuel yang paling lucu dan menggelikan dari seluruh parodi ekstase teologis di masa Corona ini adalah pernyataan bahwa Corona disebarkan oleh Zionis Yahudi, Freemason dan sekte-sekte sesat lainnya untuk menghancurkan umat Islam. Herannya, model ceramah seperti ini banyak peminatnya. Bukannya cari cara agar terhindari dari virus, menjaga imun tubuh dan usaha-usaha lainnya, segelintir orang ini justru sibuk menganalisa konspirasi-konspirasi dunia dalam simbol-simbol segitiga, jajar genjang, balok segi lima dan seterusnya…

Memang repot berurusan sama orang Indonesia. Tapi mungkin, pelajaran dari negara Kuba bisa membangkitkan kesadaran kita semua bahwa masa wabah bisa jadi momentum peralihan sebuah bangsa untuk lebih maju di periode selanjutnya.

Per hari ini, Kuba tercatat telah mengirimkan beberapa dokter dan alat kesehatan medis ke beberapa negara yang terpapar Virus Corona, salah satunya Italia yang memiliki presentase paparan paling parah di dunia. Di Cina, hampir 2000 orang tercatat pulih dari paparan virus berkat obat bernama “Interferon Alfa-2B” yang dikembangkan oleh para bioteknologis Kuba. Sungguh mengherankan pastinya, sebuah negara kecil yang lantang beroposisi dengan negara-negara adidaya sampai diblokade dari akses terhadap peradaban dunia, bisa mengembangkan produk genetika bioteknologi canggih yang efektif melawan beberapa virus ganas, termasuk Corona dan HIV.

Bukan tanpa proses dan perjuangan Kuba bisa seperti itu. Semuanya dimulai dari epidemi demam berdarah yang menjangkiti 334.000 warga Kuba di tahun 1981 dan memakan korban 180 orang. Di tahun yang sama, pasca meredanya epidemi, Kuba membentuk Front Biologis yang ditugasi untuk mengembangkan vaksin dan obat-obatan. Agenda ini terus berlangsung sampai akhirnya tahun 1986 Kuba menggelontorkan investasi negara yang cukup besar untuk membuka Pusat Rekayasan genetika dan Bioteknologi.

Lembaga Bioteknologi Kuba kembali mendapatkan tantangan kala Kuba diserang wabah Meningitis B yang sudah menggejala sejak tahun 1984. Selama enam tahun bekerja, tim dokter dan bioteknologis Kuba berhasil menemukan vaksin meningitis B untuk pertama kalinya di dunia. Selama rentang 1989-1990 Kuba berhasil melakukan vaksinasi kepada hampir 600 ribu warganya. Dengan tingkat keberhasilan vaksin di angka 97%, Kuba dianugerahi Medali Emas PBB untuk kategori inovasi global.

Wabah bagi Kuba, meskipun memakan korban, mampu menjadi berkah bagi laju perkembangan bioteknologi dan rekayasa genetika. Kuba juga belajar bagaimana cara mengantisipasi penyebaran virus kala wabah datang. Ketika Corona muncul, dengan segudang pengalaman dan kekuatannya di sektor bioteknologi, Kuba memiliki persiapan dan kepercayaan diri lebih untuk menghadapi wabah. Sampai hari, tercatat hanya 6 kasus kematian dari total 233 kasus Corona yang ada di Kuba.

Ada yang protes, Kuba kan ateis, negara komunis-sosialis? Memang virus bisa mendeteksi agama seseorang dan pilih-pilih mau menjangkiti siapa? Mari sudahi perdebatan dan upaya politisasi agama untuk merespons masalah seserius Corona. Sudah saatnya bangsa Indonesia menatap kemajuan dengan belajar dari pengalaman hari ini. Dan semuanya dimulai dari sedikit demi sedikit meninggalkan pola pikir ala abad pertengahan yang selama ini menjangkiti kita semua.

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...