Perempuan yang Menikah Beberapa Kali, Dengan Suami Ke Berapa Ia Akan Dikumpulkan di Surga Nanti?

0
26987
Perempuan yang Menikah Beberapa Kali, Dengan Suami Ke Berapa Ia Akan Dikumpulkan di Surga Nanti?

Harakah.idNanti di surga, orang-orang Mukmin akan dikumpulkan bersama pasangannya selama di dunia. Bagaimana dengan perempuan yang menikah beberapa kali, dengan suami ke berapa ia akan dikumpulkan kelak di surga?

Masalah yang terjadi di akhirat sejatinya adalah misteri. Pengetahuan manusia tidak mampu mencapai penalaran yang maksimal untuk menggambarkan kejadian dan peristiwa-peristiwa di akhirat. Kalaupun ada, biasanya penggambaran semacam itu didasarkan kepada riwayat, baik al-Quran maupun hadis, yang hal itu tak jarang juga masih memungkinkan munculnya perdebatan.

Salah satu misteri yang menjadi banyak lahan perdebatan adalah soal perempuan yang memiliki dua suami atau lebih. Pertanyannya, dengan suami ke berapa ia kelak akan dikumpulkan di surga? Setidaknya ada tiga versi jawaban yang sudah coba ditawarkan para ulama.

Pertama, perempuan akan bersama suami yang paling soleh dan baik ahlaknya. Pendapat ini didasarkan pada sebuah hadis:

قال حدثنا جعفر بن محمد بن شاكر حدثنا عبيد بن إسحاق العطار حدثنا سنان بن هارون عن حميد عن أنس أن أم حبيبة زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت يا رسول الله المرأة يكون لها الزوجان في الدنيا ثم يموتون ويجتمعون في الجنة لأيهما تكون؟ للأول أو للآخرقال لأحسنهما خلقا كان معها يا أم حبيبة ذهب حسن الخلق بخير الدنيا والآخرة

Dalam hadis tersebut diceritakan, suatu hari Ummu Habibah, istri Rasulullah bertanya, “Wahai Rasul, ketika ada seorang perempuan menikahi dua suami di dunia, dengan yang mana ia akan berkumpul nanti di surga? yang pertama atau yang terakhir?” Rasulullah menjawab, “dia akan berkumpul bersama suami yang paling baik ahlaknya.

Namun riwayat ini dinilai daif, karena adanya dua orang perawi yang banyak diragukan kredibilitasnya; Ubayd bin Ishaq al-Athar dan Sinan bin Harun. Tapi sebagai sebuah informasi, hadis ini bisa dijadikan perbandingan untuk menjawab persoalan di atas.

Kedua, seorang perempuan akan berkumpul dengan suaminya yang paling terakhir kelak di surga. Pendapat ini juga dirujuk ke sebuah riwayat:

حدثنا أحمد بن إسحاق الجوهري قال ثنا إسماعيل بن زرارة قال ثنا أبو المليح الرقي عن ميمون بن مهران عن أم الدرداء عن أبي الدرداء أن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن المرأة لآخرأزواجها

Hadis di atas adalah riwayat al-Asbihani. Ada juga riwayat serupa yang disampaikan oleh al-Baghdadi:

سمرة بن حجر أبو حجر الخراساني نزل الأنبار وحدث بها عن حمزة بن أبي حمزة النصيبي وعمار بن عطاء الخراساني والربيع بن بدر روى عنه إسحاق بن بهلول التنوخي أخبرنا علي بن أبي علي حدثنا أبو غانم محمد بن يوسف الأزرق حدثنا أبي قال حدثنا جدي حدثنا سمرة بن حجر أبو حجر الخراساني عن حمزة النصيبي عن بن أبي مليكة عن عائشة عن النبي صلى الله عليه وسلم  قال المرأة لآخرأزواجها

Dua riwayat tersebut, secara tidak langsung berisi informasi kalau perempuan kelak akan berkumpul dengan suaminya yang paling terakhir. Sebenarnya masih ada imam lain yang meriwayatkan hadis tersebut, seperti al-Thabrani dan al-Bayhaqi.

Namun yang penting dicatat, seluruh hadis Ummu Darda’ yang berkenaan dengan informasi kalau perempuan akan berkumpul dengan suaminya yang terakhir, sebagian besar adalah hadis daif. Seperti dua hadis di atas. Hadis riwayat al-Asbihani, yang notabene riwayat paling “bersih” terkait masalah ini dibanding riwayat lain, masih diragukan karena ada perawi bernama Ahmad bin Ishaq al-Jauhari yang majhul.

Sedangkan riwayat al-Baghdadi daif dikarenakan seorang rawi bernama Hamzah an-Nasibi. Menurut kritikus hadis, beliau adalah rawi yang daif jiddan, matruk dan matruhul hadis (hadisnya ditinggalkan karena daif).

Ketiga, seorang perempuan akan disuruh memilih dengan suami yang mana ia mau dikumpulkan. Namun riwayat ini, sebagaimana pendapat al-Qurtubi dalam “al-Tadzkirah”, sama sekali tidak memiliki landasan riwayat.

Jadi kesimpulannya, dari ketiga versi jawaban yang ada, berdasarkan kualitas riwayat yang menjadi sandaran jawabannya, pendapat bahwa perempuan akan dikumpulkan dengan suami yang terakhir adalah yang paling unggul.

Meskipun lagi-lagi, riwayat yang ada masih belum berstatus sahih dan kenyataan bahwa peristiwa yang akan terjadi di akhirat murni berada dalam lingkup pengetahuan Allah SWT semata. Karena itu, tidak bisa dipastikan juga bahwa seorang perempuan yang memiliki lebih dari satu suami, akan dikumpulkan dengan suaminya yang paling terakhir.