Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Thaif, Kota Indah Dekat Mekah

0
238

Harakah.idThaif, salah satu tempat bersejarah dalam perkembangan dalam Islam, karena tempat inilah Nabi Muhammad SAW pernah berhijrah. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW, terjadi pada bulan Syawal tahun kesepuluh kenabian.

Ta’if dalam bahasa Arab,  yang berarti translit. Thaif  berada di lembah antara Pegunungan Asir , dan Pegunungan Al-Hada,yang dapat ditempuh 1 jam 45 menit. Thaif,  merupakan kota di Provinsi Mekah, Arab Saudi pada ketinggian 1700 meter dari permukaan laut, tepatnya di lereng Pegunungan Gharwan

Bani Tsaqif, adalah penduduk asli kota Thaif. Bangsa Tsaqif, disebut sebagai keturunan dari Qasiyy bin Munabbih bin Bakr bin Hawazin. Ia  salah satu keturunan dari Bani Hawazin,  yang menjadi seorang pemimpin Wadi Wajj. Sejak itu, mendapat julukan Tsaqif (artinya cerdas dan mudah paham).

Thaif, salah satu tempat bersejarah dalam perkembangan dalam Islam, karena tempat inilah Rasullah SAW pernah berhijrah. Peristiwa hijrah Rasullah SAW, terjadi pada bulan Syawal tahun kesepuluh kenabian. Tak lama setelah Khadijah dan Abu Thalib wafat. Sepeninggal kedua orang yang dicintainya,  Rosullah SAW berhijrah.

Sebelum hijrah ke Thaif, Rasullah mengalami siksaan dari.Quraish yang menjadi-jadi hingga jiwa Rasullah dalam bahaya. Keadaan seperti ini terpaksa mengambil sebuah keputusan sulit, yaitu: pergi ke Thaif. Ia tidak ingin syiar Islam berhenti akibat ulah kaum Quraish.

Semangat Rasullah begitu luarbiasa hijrah ke Thaif yang berjarak 60 mil dari Mekah bersama Zaid bin Haritsah. Mereka berjalan kaki tanpa menunggangi unta bertujuan Quraish tidak mencurigainya perjalanan yang membutuhkan waktu 4 hari itu.

Saat tiba di Thaif peluh membasahi tubuh Rasulullah. Di Thaif Ia mengunjungi sejumlah pasar dan tempat pertemuan. Hijrah yang dilakukan Rasullah SAW ke Thaif berharap memperoleh dukungan penduduk setempat dan menyambut baik ajakan Nabi Muhammad SAW untuk memeluk  agama Islam. Selain itu, untuk mencari lahan dakwah baru di Thaif, dengan meminta bantuan Tsaqif.

Bani Tsaqif, adalah kabilah terbesar di Thaif, yang mempunyai kekuatan fisik dan ekonomi cukup memadai. Ketika itu, Nabi Muhammad SAW menyampaikan maksud kedatangannya, mengajak mereka memeluk Islam dan tidak menyembah selain Allah

 Namun, apa yang terjadi saat Nabi Muhammad SAW dan Haritsah akan  meninggalkan Thaif dihadang sekelompok penduduk kota Thaif yang tidak ramah. Bahkan di antara kelompok itu ada beberapa anak kecil, dan beberapa saat kemudian ada perintah dari seseorang dari sekelompok penduduk  memerintahkan anak-anak di wilayah itu untuk melemparinya bebatuan hingga kakinya terluka. 

Sikap penduduk Tsaqif yang brutal  dengan mencemooh, melempari batu,  hingga pengusiran dari Thaif. Sikap brutal penduduk Thaif membuat sahabat Rasul, Zaid bin Haritsah rela turun tangan membela, dan melindunginya, sampai kepalanya  juga terluka akibat lemparan batu. 

Dalam perjalanan pulang ke Mekah dan setelah gagal berdakwah di Thaif, Nabi Muhammad SAW dan Zaid bin Haritsah berlindung di kebun milik Utbah bin Rabiah dan Syaibah bin Rabiah, dua tokoh kafir Quraish di Mekah. 

Lokasinya ini tak jauh dari Masjid Qantara yang dibangun sekitar 162 tahun lalu oleh khilafah Turki Utsmani. Keadaan keduanya memprihatinkan dan luka-luka, karena diikuti dan diserang terus dengan batu oleh sebagian penduduk Thaif.

Dua tokoh Quraish, karena merasa kasihan menyuruh budaknya yang beragama Nasrani, Addas memberikan setandan anggur. Nabi dan Zaid menerimanya, dan membaca Bismilah sebelum memakannya. Mendengar itu, Addas mengatakan,” Kata-kata itu tidak pernah diucapkan penduduk negeri ini”.

Mendengar perkataan Addas lantas Nabi SAW bertanya tentang asal dan agama Addas. Ia menjawab beragama Nasrani dan berasal dari Nineveh. Nabi kemudian menyebut nama Yunus bin.Matta yang dianggapnya sebagai saudara dan mengatakan kalau dirinya juga Nabi. 

Mendengar perkataan Nabi membuat Addas kaget seketika mencium tangan dan kakinya yang  selanjutnya Addas menyatakan memeluk Islam. Peristiwa pertemuannya dengan 2 orang Quraish, dan Addas membuat Nabi terhibur. Perjalanan panjang yang melelahkan ke sejauh 90 kilometer, menginap 10 hari tidak ada seorang menyambut ajakan, dan dakwahnya Nabi. Tetapi markas tokoh Quraish yang gencar memusuhi Islam memeluk Islam.

 Setelah mengalami masa-masa sulit itu, yakni hijrah ke Thaif. Allah SWT menghibur Rasullah SAW dengan peristiwa Isra’ Mikraj, yaitu: perjalanan di malam hari dari Masjid Masjidil Haram ke Masjid  Aqsa, kemudian dilanjutkan perjalanan menghadap Sang Khalik di Sidratul Muntaha.