Peristiwa Pembantaian di Kota Karbala oleh Kaum Wahabi 1801 M

0
7962

Harakah.idKaum Wahabi menyerang kota karbala pada 1801 M. Selain membantai penduduknya, kaum Wahabi juga merusak dan menjarah kota tempat peziarahan tersebut. Inilah peristiwa pembantaian di kota Karbala oleh kaum Wahabi 1801 M.

Tahun 1744 menjadi peristiwa penting bagi terbentuknya Arab Saudi, karena di Wadi Hanifah dipilih sebagai lokasi perjanjian antara Muhammad bin Sa’ud dengan Muhammad Ibn Abdul Wahab. Dalam perjanjian tersebut tercapai kesepakatan Negara Saudi pertama, atau disebut Saudi-Wahabi. Tidak lama setelah perjanjian tersebut mereka yang terdiri dari sebagian besar kaum Wahabi melakukan pelbagai kegiatan

Wahabi adalah sebutan bagi orang yang mengikuti paham Muhammad Ibn Abdul Wahab, yang hidup pada Abad ke-18. Mereka dalam perjalanan sejarahnya tidak menyebut Wahabi, meski demikian kelompok ini menggunakan istilah tersebut, dengan alasan untuk mudah memahami bagi mereka yang terpengaruh dakwah dibawa oleh Muhammad Ibn Abdul Wahab.

Gerakan Wahabi terus mengalami perkembangan yang pesat. Pada tahun 1792 M., Muhammad ibnu Abdul Wahab meninggal dunia, kedudukan dan perjuangannya selanjutnya oleh Muhammad ibn Su’ud. Pembaharuan Islam yang dilakukan secara politik dan agama merupakan kolaborasi antara Dinasti Saudi dengan gerakan Wahab. Tidak lama kemudian Muhammad bin Su’ud meninggal dunia dan perjuangannya diteruskan oleh puteranya bernama Saud bin Abdul Aziz.

Di bawah kepemimpinan Saud bin Abdul Aziz gerakan wahabi terus berkembang, dan muncul kekuatan baru sesuai konsep pemikiran Muhammad ibnu Abdul Wahab. Kekuatan negara Wahabi yang baru terletak pada militer yang revolusioner. Tidak hanya kekuatan militer yang besar, dipilihnya hakim Wahabi yang jujur, dan keamanan terkendali, dan dari keadaan inilah Ia mulai dengan gerakan militer.

Peristiwa Karbala 1801

Peristiwa Karbala dimulai tahun 1801 M yang disebut pembantaian terbesar Dinasti Saudi-Wahabi. Karbala atau Karbala Al-Mu’alla, sebuah kota ziarah kaum Syiah di Irak, jaraknya 100 kilometer sebelah Barat daya Bagdad dan kota ini dikenal tempat pemakaman cucu Nabi Muhammad SAW Husein bin Ali.

Karbala menjadi tempat strategis  bagi Kaum Wahabi mempraktekan ajaran-ajaran gerakan Wahabi yang dianggapnya menyimpang dari ajaran Islam. Tidak diketahui secara pasti awal mula kaum Wahabi menyerbu tahun 1802 M kawasan Karbala, yang jelas penyerangan dipimpin oleh Saud bin Abdul Aziz tiba-tiba dan terencana dilakukan secara keras dan radikal.

Pasukan Wahabi yang dipimpin Saud bin Abdul Aziz dengan agresifnya menyerang Karbala tempat Husein bin Ali dikubur. Di tempat ini mereka merusak bangunan makam Husein dan menjarah aset-aset berharga di Karbala. Alasan makam Husein bin Ali dirusak, karena makam  itu disebut dijadikan penyembahan berhala yang penuh tahayul.

Sikap kaum Wahabi memang radikal, tidak hanya merusak makam dan aset-aset berharga. Mereka juga membantai penduduk kota dan peziarah secara sadis yang dilakukan dari pagi hingga siang hari. Serangan tersebut berlangsung kilat begitu dramatis dan mengerikan sampai-sampai tentara Ustmani yang sedang berada di Karbala ketakutan menyelamatkan diri.

Luar biasa kejamnya kaum Wahabi, ketika berada di Karbala merampas, menjarah, hingga memperlakukan penduduk setempat tidak manusiawi. Tidak tanggung-tanggung hanya berlangsung dari pagi- siang hari menurut Tamim Ansari dalam bukunya Dari Puncak Bagdad, 2009 disebut mampu membunuh sekitar dua ribu penduduk. Oleh karena itu, Said bin Abdul Aziz, kemudian dijuluki Penjagal Karbala.

Pasukan tentara milik Saud bin Abdul Aziz berasal dari beberapa suku nomaden di Najd, Hijaz, Tihama yang terlatih. Tidak heran gerak-geraknya begitu lincah saat memasuki kota. Mereka agresif naiki tembok memasuki kota secara paksa dan membunuh mayoritas penduduk kota di pasar-pasar dan rumah-rumah mereka. Setelah puas membunuh penduduk setempat, selanjutnya menghancurkan  bangunan makam Husein bin Ali, termasuk kubah di atas makam, mengambil apapun yang ada di dalam kubah dan pagar-pagar teralis disekeliling  kubah. 

Kubah yang di atas makam Husein bin Ali dihiasi batu zamrud, batu permata hingga batu ruby yang menawan. Namun, hiasan kubah makam juga tak luput dari sasaran kaum Wahabi. Mereka menjarah apapun yang ada di kota itu mulai dari senjata, pakaian, karbet sampai salinan Al-Quran yang indah. Turki Utsmani yang tidak bisa berbuat banyak saat tragedi Karbala terjadi membuat suasana makin mencengkam.

Pasca pembantaian Karbala, Turki Utsmani memecat gubernur Bagdad. Sementara pemimpin kaum Wahabi di Karbala, Saud bin Abdul Aziz  justru dengan semangatnya  memperluas wilayah ke Mekah dengan menyebarkan doktrin-doktrin ajaran Wahabi. Ia memaksa ulama-ulama di kota mengikuti ajarannya . Tidak lama kemudian Saud bin Abdul Aziz meninggal dunia,  diduga dibunuh oleh orang yang disebut menuntut balas atas peristiwa Karbala. Perjuangan Saud bin Abdul Aziz dilanjutkan oleh anaknya Abdullah bin Saud.