Beranda Headline Periuk Nasi Nyai Siti Saudatun dan Profil Aksi Perempuan Dalam Penyelamatan Naskah...

Periuk Nasi Nyai Siti Saudatun dan Profil Aksi Perempuan Dalam Penyelamatan Naskah Soekarno dari Rampasan Kolonial Belanda

Harakah.idNyai Siti Saudatun, Ibunda Kiai Saifuddin Zuhri, adalah satu contoh dari sekian banyak perempuan yang memiliki peran besar dalam suksesnya kemerdekaan bangsa Indonesia.

Siapa sangka, seorang perempuan bernama Nyai Siti Saudatun lah yang mampu menyelamatkan naskah Mentjapai Indonesia Merdeka dari rampasan kolonial Belanda.

Patroli dan inspeksi dadakan rajin dilakukan pemerintah kolonial untuk merampas dan membredel segala bentuk ancaman pemberontakan, termasuk buku-buku. Buku dan naskah tulisan Soekarno adalah salah satu sasarannya. Keberadaan buku-buku tersebut mampu membuat pemiliknya dijebloskan ke dalam penjara. Ketakutan terhadap ancaman kolonial muncul beriringan dengan keinginan untuk tetap mempertahankan buku-buku keramat tersebut dan melindunginya dari pembredelan.

Sebagaimana yang dikisahkan Kiai Saifuddin Zuhri dalam otobiografinya, Berangkat Dari Pesantren, salah satu naskah Soekarno yang banyak dibaca komunitas santri dan masyarakat pedesaan waktu itu adalah naskah Mentjapai Indonesia Merdeka. Kiai Saifuddin Zuhri kecil rajin mengikuti kegiatan mengaji naskah tersebut bersama Paman Haji Mahful dan Haji Abdul Basir di rumahnya.

Namun di suatu siang, apa yang ditakutkan selama ini terjadi. Pemerintah kolonial melakukan inspeksi mendadak dan masuk ke rumah-rumah. Paman Haji Mahful dan Haji Abdul Basir kebingungan. Kiai Saifuddin Zuhri mendapati keduanya berada di dapur rumahnya dan berbincang samar dengan sang ibunda, Nyai Siti Saudatun;

Mas Ajeng! Tolonglah sembunyikan buku ini dimana saja,” Paman Haji Mahful menyerahkan sebuah buku ukuran saku yang sudah agak kumal kepada ibu, sementara Paman Abdul Basir menyebarkan sorot matanya ke sekeliling dapur.

Bahasa “kumal” yang digunakan Kiai Saifuddin Zuhri memiliki maksud yang sama dengan bahasa-bahasa lainnya seperti “usang”, “basi” dan “lama”. Bisa saja buku itu kumal karena memang kertasnya yang mulai lapuk atau edisi terbitannya yang memang sudah tua. Namun dalam konteks pertarungan wacana di sini, “kumal” lebih tepat jika dimaknai dengan sesuatu yang berharga, yang selalu dibaca, digenggam dan di bawa ke mana saja untuk dibaca. Istilah “kumal” yang digunakan Kiai Saifuddin Zuhri untuk menyifati sebuah buku, secara tidak langsung menyiratkan bahwa itu bukan buku biasa. Nuansa ketegangan dan kecemasan yang tergambar membawa makna “kumal” kepada sesuatu yang ideologis, mistis dan sangat esensial.

Makna kumal tersebut diperkental secara naratif oleh Kiai Saifuddin Zuhri;

“Apa ini, Dik Mahful?” bertanya ibu seperti tidak paham.

“Sebuah buku penting! Tolonglah Bu, sembunyikan buku ini,” jawab Paman Haji Mahful dan Paman Abdul Basir berbareng. Wajah orang-orang ini seperti dalam ketakutan.

“B..u..u..k..u..u…?” bertanya Ibu dengan wajah bingung.

“Ya buku! Buku penting. Tolonglah Bu sembunyikan dimana saja,” desak Paman Mahful sambil menyerahkan buku dari balik baju piyamanya. Paman Haji Mahful dan Paman Abdul Basir menyebarkan sorot matanya ke segala penjuru dalam dapur yang tidak luas itu. Agaknya sedang mencari tempat di mana paling aman untuk menyembunyikan bukunya yang katanya penting itu.

“Mengapa harus saya? Saya tidak mengerti buku?” tukas Ibu dengan sikap masih tidak memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Begini Mas Ajeng…,” Paman Haji Mahful mendekati Ibu dan berkata seperti berbisik. “Ini buku Ir. Soekarno namanya Mencapai Indonesia Merdeka. Siang ini puluhan polisi melakukan penggeledahan di semua rumah di desa kita. Mereka sedang mencari buku ini. Gubernemen Hindia Belanda melarang buku ini beredar dan dibaca oleh rakyat, karena isinya dipandang sangat berbahaya. Tolonglah Mas Ajeng, sembunyikan di mana saja asal aman!”

Ya, buku kumal itu sangat berbahaya! Secara logika, apa yang dikhawatirkan atau ditakutkan penjajah Belanda dari sebuah benda “kumal”? Sebuah buku yang jelas-jelas sudah tidak up to date dan relevan lagi isinya dengan konteks masa yang tengah berlangsung?! Apa yang membuat Belanda, dengan kekuatan militer dan kuasa hegemoniknya yang begitu luar biasa, ketakutan pada sebuah buku kumal sehingga puluhan polisi harus dikerahkan untuk menggeledah rumah-rumah di satu desa? Tentu, sekali lagi, ini tidak ada hubungannya dengan buku kumal dengan pemahaman biasa-biasanya.

Kegetiran Belanda pada buku kumal Mentjapai Indonesia Merdeka merupakan kondisi yang timbul dari gagalnya penjinakan atas pribumi jajahan. Kita tahu bahwa Belanda dengan politik etis misalnya, tidak lagi membatasi diri pada cara Kolonialisme kuno yang khas dengan kekerasan fisik dan kerja paksa. Penjinakan yang dilakukan Belanda pada subyek pribumi melalui media budaya ternyata dirasa lebih jitu dan taktis. Ada proses yang dinamakan othering, ketika subyek pribumi (khususnya kaum intelektualnya) dipaksa untuk percaya bahwa identitas asli mereka adalah gambaran sebagaimana yang dikonstruksi oleh subyek kolonial. Seperti orang bercermin, si subyek lebih percaya gambaran dalam cermin sebagai identitasnya yang asli dibandingkan eksistensi faktual dirinya.

Namun di suatu waktu, si subyek terjajah terkadang mampu meretakkan cermin tersebut. Retakan itu lalu memunculkan mozaik yang merusak gambaran tunggal di awal. Yang ada saat itu justru ragam pantulan yang berbeda-beda, yang membuat proses peniruan mengalami kegagalan karena yang hendak ditiru menampakkan perwajahan ganda. Kasus intelektual bangsa jajahan yang mampu memecahkan cermin tidak banyak. Hanya segelintir, termasuk Soekarno.

Soekarno dalam tahapan mentalitas Mentjapai Indonesia Merdeka adalah intelektual-aktivis yang mencoba konsisten dengan kesadaran anti-kolonialnya. Melalui Mentjapai Indonesia Merdeka, Soekarno merubah posisinya di hadapan wacana kolonial, dari mode ketundukan (disciplinary gaze) menjadi mode perlawanan (displacing gaze). Layaknya Valak dalam Conjuring 2, subyek yang awalnya terus menjadi bahan tontonan, ditatap dari belakang dan selalu menjadi obyek, tiba-tiba berbalik menatap penontonnya dengan mata melotot. Penonton pun ketakutan, merinding dan terkencing-terkencing. Sama halnya dengan Belanda, tatapan Mentjapai Indonesia Merdeka-nya Soekarno membuat mereka menggigil sampai akhirnya memutuskan untuk melalukan sweeping.

Ketakutan tersebut tentu harus dijaga serta dirawat untuk tetap menyuburkan aksi perlawanan. Dengan kata lain, buku tersebut juga harus dirawat dan disembunyikan! Mentjapai Indonesia Merdeka bukanlah sekedar buku, ia adalah mental perlawanan yang menggetarkan subyek kolonial. Ia tak lagi sekedar buku, ia adalah cita-cita dan nalar revolusi itu sendiri. Nalar yang kemudian akan menggumpal menjadi satu nilai karakter revolusi kebangsaan kita.

Menjaga barang semacam ini, termasuk menyembunyikannya juga tidak mudah. Buktinya Paman Haji Mahful dan Paman Haji Abdul Basir kelimpungan, kebingungan dan mati akal untuk memutuskan di mana buku itu akan disembunyikan. Akhirnya, entah apa yang membuat mereka berpikir, kalau Ibu Kiai Saifuddin Zuhri lah aktor yang bisa menyembunyikannya. Bukan Haji Mahful, Haji Abdul Basir atau laki-laki lainnya.

Ibu menoleh kepadaku sambil menerima buku dengan kedua tangannya. Paman Haji Mahful dan Paman Haji Abdul Basir bergegas mohon diri lalu meninggalkan ibu yang masih berdiri di dekat pintu dapur.

Ibu tampak tenang sekali, tak ada kecemasan pada wajahnya yang bersih. Ibu memang berwajah ayu berkulit kuning langsat, berperawakan sedang dan tidak gemuk. Beliau masih berdiri seperti sedang berpikir, tetapi tidak gugup.

Buku ukuran saku itu dipeluknya erat-erat seperti kebiasaan ibu kalau sedang membawa kitab al-Qur’an. Sejenak pandangan ibu disebar sekeliling dapur. Tiba-tiba ibu menghampiri periuk tempat menanak nasi. Ibu memang tengah menanak nasi buat santapan siang seisi rumah. Nasi itu sudah hampir masak, antara “mandek” dan “tanek” menurut istilah desaku, yaitu apabila air tajinnya sudah hampir mengering larutannya berangsur lenyap menjadi uap.

Ibu menghampiri periuk itu. perlahan-lahan dibukanya tutup periuk. Daun pisang penutup periuk yang sudah menguap itu dibuka selembar demi selembar. Beberapa lembar tersisa yang masih mengepulkan uap panas itu dibiarkan menutupi nasi yang hampir “tanak” dalam periuk. Buku berukuran saku itu dibungkus kain lap putih. Di atas daun pisang yang masih mengepulkan uap penutup periuk itulah ibu meletakkan buku tipis Mencapai Indonesia Merdeka. Ibu mengembalikan daun-daun pisang penutup mulut periuk di atas buku kecil itu rapat-rapat. Hati mulai kurang cemas karena kecerdikan ibu, hati menjadi geli menyaksikan ibu menanak nasi dengan Mencapai Indonesia Merdeka! Ibu mengurangi bara api di bawah periuk.

“Alhamdulillah, tawakkaltu ya Robbi…!!” Ibu berucap syukur dan bertawakkal. Beliau memandang aku dengan senyumnya, aku pun membalasnya dengan senyum dan bangga. Tetapi senyum ibu hanya sejenak. Ibu meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya sambil menatap padaku. Aku paham akan maksud beliau, agar aku merahasiakan peristiwa yang penting itu.

Ketegangan dan kekhawatiran yang dialami Paman Haji Mahful dan Paman Abdul Basir tadi menunjukkan bahwa keduanya bukanlah aktor yang tepat untuk menyimpan semangat revolusi dan merawat nalar anti-kolonial yang menakutkan itu. Aktor yang paling tepat untuk tugas seberat itu hanyalah perempuan. Dan pada detik ini juga saya semakin meyakini perempuan, dengan spesifikasi kemampuannya yang sangat khas, memiliki peran vital dan khusus dalam hal jaga-menjaga, melestarikan, merawat dan mengolah sesuatu yang sensitif seperti buku Mentjapai Indonesia Merdeka ini. Termasuk juga menjaga inti yang sangat halus dalam konstelasi kehidupan sebuah masyarakat seperti tradisi dan ideologi.

Karena tugasnya memang seperti itu, Nyai Siti Saudatun “tampak tenang sekali, tak ada kecemasan pada wajahnya yang bersih”. Ketenangan Ibu Kiai Saifuddin Zuhri dalam menerima amanat yang sangat berat untuk menyembunyikan Mentjapai Indonesia Merdeka itu tak mengurangi perawakan beliau yang memang “berwajah ayu berkulit kuning langsat, berperawakan sedang dan tidak gemuk”. Tragedi yang membuat Paman Haji Mahful dan Paman Abdul Basir cemas bukan main itu beliau sikapi dengan “berdiri seperti sedang berpikir, tetapi tidak gugup”. Hal yang sama juga diyakini oleh Haji Mahful. Buku yang asalnya juga titipan Ustadz Abdul Fattah untuk disembunyikan itu beliau rasa lebih “aman jika yang menyembunyikannya itu seorang perempuan”.

Gambaran perempuan sebagai agen penyemai ideologi dan tradisi bangsa diwakili oleh kehadiran Ibunda Kiai Saifuddin Zuhri, Nyai Siti Saudatun, dalam perannya menyembunyikan buku Mentjapai Indonesia Merdeka. Dengan nalurinya sebagai seorang perempuan dan seorang ibu, beliau dengan taktis, tanpa panjang lebar, setelah memeluknya “erat-erat seperti kebiasaan ibu kalau sedang membawa kitab al-Qur’an”, langsung berpikiran bahwa periuk nasi yang tengah mengepul itu bakal menjadi tempat persembunyian paling aman bagi buku kumal itu. Keputusan itu beliau akhiri dengan sebuah sebuah keterpasrahan “alhamdulillah, tawakkaltu ya Robbi…!!”

Coba perhatikan beberapa kata yang mewakili lokalitas ruang perempuan memainkan perannya dalam kelangsungan hidup sebuah keluarga dan lingkungan masyarakat. Ruang-ruang yang selalu didiami dan diakrabi setiap harinya. Ruang tempat perempuan menemukan warna eksistensialnya dibandingkan ruang-ruang lain yang memang lebih banyak diisi oleh laki-laki. Kita temukan kata-kata seperti “dapur”, “periuk”, “menanak nasi”, “daun pisang”, “bara api” (kompor), “air tajin” dan “tanak”; kata-kata yang kalau disebutkan, benak kita sebagai pendengar akan langsung mengarah pada nuansa-nuansa keperempuanan. Artinya, sebenarnya kita sudah meyakini sebuah fakta, bolehlah revolusi fisik dan gerak perlawanan dilakukan oleh laki-laki di lapangan, tapi penyemaian bibit ideologi anti-kolonial berikut perawatan serta menumbuhkannya menjadi sebuah tradisi yang amali, tetap menjadi tugas perempuan sebagai pemegang tandu. Hal ini yang juga diyakini oleh Paman Haji Mahful dan Paman Abdul Basir. Revolusi mau tidak mau mesti dimulai dari dapur dan pangkuan para ibu!

Bukan hanya dalam kasus penyembunyian Mentjapai Indonesia Merdeka yang diaktori oleh Ibu Kiai Saifuddin Zuhri. Peran vital perempuan sebagai agen perubahan juga bisa kita lihat, misalnya, dalam diri Inggit Ganarsih, atau dalam kasus ibu suri sebagai tumpu teologi tanah dan sistem perwarisan adat Minangkabau. Semuanya memaksimalkan peran perempuan dan menggunakan “dapur” sebagai basis tradisi dan amaliyah jasadi orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Apakah strategi Nyai Siti Saudatun berhasil? Pasti! Tidak perlu diragukan lagi!

Tiba-tiba aku sangat terkejut karena dua orang polisi menghampiri rumahku dari jarak cuma 3 meter.

“Selamat siang,” seru polisi-polisi itu.

“Selamat siang,” jawab ibu sebelum aku sempat menjawab polisi itu. Ibu sudah berdiri di belakangku.

“Mana tuan rumah?” bertanya seorang di antara mereka.

“Ayahnya anak-anak sejak pagi tak ada di rumah,” jawab ibu dengan tenang saja. Ibu mempersilakan polisi-polisi itu duduk di emper rumah. tetapi polisi-polisi itu tidak segera masuk rumah kami, seperti ada keengganan. Seorang polisi lain menggabung mereka, dan ketiganya seperti sedang berembuk, agak lama juga mereka berunding.

“Boleh kami masuk rumah ini untuk mencari tuan rumah?” kata salah seorang di antara mereka. Agaknya dia sang komandan.

“Silakan saja! Tetapi saya sudah katakan bahwa ayahnya anak-anak sejak pagi tak ada di rumah,” jawab ibu dengan menatap wajah-wajah polisi itu. polisi-polisi itu tampak ragu untuk masuk rumahku, lalu berunding sesama mereka.

“Karena tuan rumah tidak ada, baiklah kami minta permisi,” kata komandan mereka sambil mengalihkan pandangannya pada dua polisi bawahannya.

Di tangan ibunda Kiai Saifuddin Zuhri, Naskah Mentjapai Indonesia Merdeka selamat dari inspeksi polisi kolonial. Kisah ini juga menyirat soal posisi perempuan sebagai agen penyemai ideologi kebangsaan, satu tugas yang nyata-nyata tidak mampu diemban laki-laki. Dengan penguasaan dan kedalaman terhadap aspek lokalitasnya, tak butuh waktu lama bagi Ibunda Kiai Saifuddin Zuhri untuk menemukan cara. Hal yang mungkin tidak pernah dipikirkan laki-laki sebelumnya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...