Beranda Keislaman Muamalah Perlindungan Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Al-Dharuriyah Al-Khamsah

Perlindungan Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Al-Dharuriyah Al-Khamsah

Harakah.idHAM dalam Islam berpusat pada lima pokok yang terangkum dalam Al-Dhoruriyat Al-Khomsah.

Hak Asasi Manusia merupakan hal yang sangat mendasar dan sangat melekat pada diri manusia di manapun manusia itu berada. Apabila tidak adanya hak hak manusia, maka berkuranglah harkatnya sebagai manusia yang wajar. Hak asasi manusia juga merupakan suatu tuntutan yang secara moral dapat dipertanggung jawabkan, yaitu suatu hal yang sewajarnya mendapat perlindungan hukum.

Sebelum dunia internasional memperkenalkan apa itu Hak Asasi Manusia, Islam sudah memperkenalkan konsep HAM pada 1.300 tahun sebelumnya. Bahkan Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu sosok revolusioner dan juga sekaligus pejuang penegak hak asasi manusia yang paling gigih. Beliau tidak sekedar membawa serangkaian pernyataan hak asasi manusia yang tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an namun juga memperjuangkan dengan penuh kesungguhan dan pengorbanan. Salah satu kegigihan Nabi Muhammad untuk memperjuangkan hak asasi manusia yaitu dengan meluruskan ajaran atau kebiasaan orang orang Arab yaitu pada masa jahiliyah yang sangat bertentangan dengan konsep HAM.

Sebelum adanya Islam, bangsa Arab berperilaku yang tidak sewajarnya terhadap manusia dan sangat melanggar norma norma kemanusiaan. Ketika pada masa jahiliyah, bangsa arab dari kalangan bangsawan memiliki superioritas dalam memegang hukum dari mereka yang berasal dari golongan orang miskin dan lemah. Dan pada masa jahiliyah, kondisi perempuan pada masa itu diperlakukan diskriminatif, bahkan sudah menjadi tradisi bahwa setiap anak perempuan yang lahir akan dikubur hidup-hidup karena sebagai pembawa sial. Tindakan-tindakan bangsa arab pada masa jahiliyah sangatlah melanggar norma norma kemanusiaan.

HAM dalam Islam berpusat pada lima pokok yang terangkum dalam Al-Dhoruriyat Al-Khomsah, menurut Abdul Hakim Zaidan dalam kitab Al-Wajiz fi Ushulil Fiqh yang dimaksud Dhoruriyat adalah suatu perkara yang dapat membawa kestabilan untuk kehidupan manusia. Apabila dia tidak terwujud maka akan timbul kekacauan dan ke tidak stabilan dalam masyarakat. Dhoruriyat mencangkup perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Kelima pokok ini harus dijaga oleh setiap umat islam agar menghasilkan tatanan yang lebih manusiawi. Lima pokok yang terangkum dalam al-Dhoruriyat al-Khomsah :

Menjaga Agama

Dalam Islam, kebebasan ataupun kemerdekaan adalah bagian dari HAM, dan juga termasuk didalamnhya kebebasan dalam menganut agama sesuai apa yang dipercayainya dan diyakininya. Oleh karena itu, islam melarang kerasas adanya pemaksaan terhadap keyakinan. dan bagi umat muslim wajib menjaga agamanya dengan baik, yakni dengan menjalankan kewajibannya seperti solat, puasa, zakat, dan pergi haji jika mampu. Sebagaimana firman Allah tentang larangan untuk pemaksaan terhadap keyakinan :

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dan jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah maha mendengar lagi maha mengetahui” (QS. Al-Baqoroh ayat 256)

Menjaga Jiwa

Hak hidup adalah hak asasi yang paling penting bagi manusia, yang merupakan karunia yang diberikan dari Allah SWT untuk setiap manusia. Perlindungan atas hak hidup manusia dapat dilihat dari ketentuan Syariah yang melindungi dan menjunjung tinggi darah dan nyawa manusia, melalui larangan membunuh, dan larangan bunuh diri. Membunuh merupakan salah satu perbuatan dosa besar yang diancam dengan balasan neraka. Allah berfirman tentang melarang adanya pembunuhan :

وَمَنْ يَّقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاۤؤُهٗ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيْهَا وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهٗ وَاَعَدَّ لَهٗ عَذَابًا عَظِيْمًا

dan barang siapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja maka balasannya neraka Jahannam, dia kekal didalamnya, dan melaknatNya serta menyediakan azab yang besar baginya” (QS. An Nisa ayat 93).

Menjaga Akal

Manusia merupakan hamba Allah, yang diciptakan menjadi manusia dalam bentuk yang baik dan mampu berakal. Oleh sebab itu manusia harus menjaga akal nya dari hal hal yang dapat merusak akal seperti meminum minuman keras, menggunakan narkoba, dan alangkah baik nya apa yang diberikan oleh Allah kita gunakan dijalan yang baik guna untuk mengharap keridhoan-Nya. Allah berfirman tentang manusia adalah ciptaan yang paling baik :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At-Tin ayat 4).

Agar akal berfungsi maka harus ada pemandunya yaitu Al Qur’an dan Hadis. Tanpa adanya bimbingan Al Qur’an dan Hadis maka akal tidak dapat berfungsi.

Menjaga Keturunan

Islam sangat menjaga keturunan dan nasab. Untuk memelihara nasab, islam menganjurkan nikah sebagai cara yang dipandang sah untuk melangsungkan hidup dan kehidupan. Islam juga mengatur pernikahan dan mengharamkan zina, dan menetapkan siapa siapa yang tidak boleh dikawini sehingga perkawinan itu dianggap sah dan percampuran dua mnusia yang berlainan jenis itu tidak dianggap zina. Sebagaimana Nabi bersabda :

عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ بَيْنَا أَنَا أَمْشِي مَعَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Dari ‘Alqamah berkata; Ketika aku sedang berjalan bersama ‘Abdullah radliallahu ‘anhu, dia berkata: Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketika itu Beliau bersabda: “Barangsiapa yang sudah mampu (menafkahi keluarga), hendaklah dia kawin (menikah) karena menikah itu lebih bisa menundukkan pandangan dan lebih bisa menjaga kemaluan. Barangsiapa yang tidak sanggup (manikah) maka hendaklah dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi benteng baginya”. (Buhkori : nomor 1905, juz 3, hal 26)

Menjaga Harta

Harta merupakan suatu yang sangat dibutuhkan manusia karena untuk keberlangsungan hidup manusia. Islam memandang harta sebagai sesuatu yang tidak haram atau munkar, tetapi bukan sesuatu yang wajib diprioritaskan. Harta juga bisa sebagai alat untuk beribadah kepada Allah bahkan harta juga bisa membawa kebaikan apabila harta itu digunakan dalam kebaikan, dan bisa juga menuju keburukan jika digunakan untuk keburukan.

Artikel kiriman dari Muhammad Fadhlan, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, UIN Jakarta

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...