fbpx
Beranda Gerakan Perubahan Geopolitik Timur Tengah Pasca Normalisasi UEA-Israel

Perubahan Geopolitik Timur Tengah Pasca Normalisasi UEA-Israel

Harakah.idPeta geopolitik Timur Tengah berubah pasca normalisasi hubungan diplomatik antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel. Seperti apa perubahan geopolitik Timur Tengah pasca normalisasi UEA-Israel? Berikut ulasannya.

- Advertisement -

Peta geopolitik Timur Tengah berubah pasca normalisasi hubungan diplomatik antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel. Negara-negara Arab lainnya juga tengah ditawari melakukan normalisasi dengan Israel, yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Situasi ini juga membuat Palestina semakin terpojokkan. Apalagi Israel yang selama ini telah melanggar kesepakatan damai dengan Palestina.

Normalisasi UEA-Israel adalah awal mula perubahan bagi hubungan negara-negara Arab dengan Israel. Sudan, Bahrain, Qatar, dan Arab Saudi juga telah diajak berdialog dengan AS untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Tetapi mereka dengan tegas menolak ajakan tersebut. Selain itu, alasan terbesar mereka yakni atas dasar Prakarsa Damai Arab 2002, dimana dalam kesepakatan tersebut menyatakan bahwa Palestina dan Israel harus melakukan kesepakatan damai dan 22 negara Arab akan menormalisasi hubungan dengan Israel sebagai imbalan atas penarikan Israel dari Yudea dan Samaria.

Meski Bahrain dan Arab Saudi memperbolehkan jalur lalu lintas udaranya dilalui oleh pesawat Israel. Mereka tetap bersepakat untuk memperjuangkan kebebasan dan perdamaian Palestina. Selain itu, Qatar juga bertindak demikian, ia berpegang teguh dalam mendukung Prakarsa Damai Arab 2002. Tidak akan membuka hubungan diplomatik Israel, sebelum Israel menaati kesepakatan damai tersebut.

Dialog Turki-Iran dan Geopolitik Timur Tengah

Menyikapi konstelasi Timur Tengah yang semakin kompleks dan pasca normalisasi UEA-Israel. Turki dan Iran melakukan dialog Dewan Kerja Sama Tingkat Tinggi Turki-Iran. Situasi geopolitik Timur Tengah yang semakin tak menentu membuat kedua negara harus melakukan dialog intens. Memang, normalisasi UEA-Israel telah berdampak besar bagi konstelasi politik di kawasan. 

Turki dan Iran selama pertemuan Dewan membahas semua aspek hubungan bilateral antara Turki dan Iran. Kedua negara tersebut disebut sebagai poros penting di kawasan selain Arab Saudi. Selain itu, keduanya juga membahas langkah-langkah peningkatan kerja sama mengingat kondisi terbaru akibat pandemi covid-19. Pada pertemuan tersebut kedua negara bertukar pandangan tentang hubungan bilateral, serta masalah regional dan internasional.

Seperti yang telah diketahui bahwa koalisi kekuatan poros Turki-Iran menunjukkan dampak besar di kawasan. Kedua negara tersebut juga sangat intens mendukung perdamaian antara Israel dan Palestina. Meski bagi Israel dan pendukungnya, poros Turki-Iran adalah musuh dan ancaman bagi mereka. Untuk itu, Israel melalui bantuan dan dukungan AS melobi negara-negara Arab untuk melakukan normalisasi dengan negara tersebut.

Perebutan kekuasaan dan pengaruh di kawasan antara poros Turki-Iran, poros Arab Saudi, dan poros UEA-Israel, serta negara-negara Arab lainnya mengindikasikan bahwa Timur Tengah sangat rentan dengan kontestasi dan konflik. Stabilitas keamanan, kepentingan politik, dan ekonomi antar negara menjadi prioritas utama dalam menentukan kebijakan dan keputusan penting.

Melalui normalisasi Israel dengan negara-negara Arab, Israel ingin menunjukkan kepada dunia bahwa ia bisa melakukan apapun untuk bekerjasama dan menjalin hubungan dengannya. Lobi AS memegang peran penting dalam suksesnya normalisasi tersebut. Meski hanya UEA yang mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Sementara negara lainnya menolak diajak untuk melakukan normalisasi.

Implikasi normalisasi UEA-Israel berdampak besar bagi Palestina. Bagi Palestina, UEA telah “mengkhianati”-nya dan melakukan upaya yang menyakiti Palestina. Meskipun UEA berdalih bahwa kesepakatan damai dengan Israel juga upaya untuk menghentikan aneksasi Israel atas Tepi Barat. Tetapi, bagi Israel itu berbeda, normalisasi dengan UEA hanyalah momentum untuk memperbaiki hubungan dan kerjasama antar kedua negara, dan pencaplokan atas Tepi Barat tetap akan berjalan.  

Kontestasi Antar Poros 

Pasca normalisasi UEA-Israel semakin jelas bahwa sebenarnya Israel ingin membangun aliansi poros baru di kawasan. Melalui dukungan dan usaha lobi politik AS dalam menawarkan normalisasi dengan negara-negara Arab. Kedepan pertarungan dan kontestasi antar poros akan semakin terlihat. Poros UEA-Israel, poros Arab Saudi, dan poros Turki-Iran, serta negara-negara kawasan lainnya akan saling berebut pengaruh dan kekuasaan.

Ditengah kasus pandemi covid-19 yang terus melonjak. Perseteruan antar poros akan semakin terasa. Apalagi stabilitas keamanan dan ekonomi Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan situasi yang belum stabil. Negara-negara Teluk pun masih sibuk melakukan usaha untuk memperbaiki ekonomi ditengah pandemi covid-19 ini. Harga minyak yang semakin anjlok juga menjadi faktornya.

Negara Lebanon juga tengah melakukan “recovery” pasca ledakan di pelabuhan Marfaa, Beirut, Lebanon. Lebanon juga tengah melakukan reformasi birokrasi. Negara ini berencana mengubah sistem pemerintahan dari sistem sektarian ke sistem sekuler. Setelah mendapatkan Perdana Menteri baru, Mustapha Adib, rakyat Lebanon tengah berharap dan keputusan reformasi politik pemerintahan adalah masa depan bagi Lebanon.

Tidak hanya Lebanon yang melakukan reformasi politik. Sudan juga tengah mereformasi pemerintahannya pasca mundurnya presiden Omar al-Bashir. Sudan bakal menjadi negara sekuler, setelah negara tersebut menerapkan sistem pemerintahan Islam selama tiga dekade. Sementara Tunisia masih disbukkan dengan konflik internal pemerintahan. Meski negara ini telah melangsungkan pemilihan secara demokratis. Tetapi, situasi politik negara tersebut saat ini masih belum stabil.

Melihat kondisi tersebut, ini artinya bahwa negara-negara Arab masih disibukkan dengan reformasi politik negaranya masing-masing. Sementara lainnya tengah membangun aliansi dan kekuatan dalam menghadapi kekuatan lain yang mengancam dan menghalangi kepentingan mereka masing-masing.   

Pertarungan antar poros di kawasan tidak dapat terhindarkan. Masing-masing poros memiliki kepentingannya masing-masing. Perbedaan ideologi, kepentingan politik, kalkulasi ekonomi, dan alasan lainnya menjadi faktor mengapa kontestasi antar poros terjadi. Kita tengah menunggu bagaimana peta geopolitik dan skenario konstelasi Timur Tengah ditengah pelbagai macam kemungkinan dan tantangan.  

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...