Beranda Khazanah Pesan Penting untuk Para Penyerang Acara Kawinan Keluarga Habaib di Solo

Pesan Penting untuk Para Penyerang Acara Kawinan Keluarga Habaib di Solo

Harakah.idSebagai muslim, seharusnya bisa saling menghormati perbedaan paham dalam ber-Islam. Sebagai muslim, kalem dikitlah, bro. Jangan, terlalu bar-bar.

Mungkin, ada benarnya kalau nasab atau garis keturunan tak sepenuhnya bisa dibanggakan. Sebab setiap orang adalah sesuai dengan apa yang dilakukannya. Maksudnya, mulia tidaknya seseorang bergantung pada perilaku dirinya sendiri. 

Ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW dari Abu Hurairah RA yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: Seseorang yang tak bertindak untuk dirinya sendiri, tak dapat terselamatkan oleh kedua orang tuanya.

Imam Birgivi saat menjelaskan masalah ini dalam “At-Thariqah al-Muhammadiyyah”-nya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “The Book of Character: Memandu Anda Membentuk Kepribadian Muslim Secara Autentik”, beliau mengutip sebuah syair:

“Mungkin benar, saat kaumembanggakan leluhurmu, namun sungguh kasihan nasib nenek moyangmu!

Ruh mereka di alam kubur pasti teramat menderita, karena menjadi ayah dari anak buruk sepertimu.

Apakah si Ka’in memperoleh keselamatan, sebagai anak Adam yang memiliki keutamaan?

Apakah Kan’an terselamatkan dari amuk air bah, hanya karena ia merupakan keturunan Nabi Nuh?”

Syair itu menggambarkan kalau kita bisa saja membanggakan nasab kita. Namun, lebih dari itu kita adalah sesuai dengan apa yang kita lakukan. Kalau kita berperilaku baik, maka adalah baik. Kalau berperilaku buruk, maka adalah buruk.

Alangkah tak bagusnya, saat seseorang berasal dari keluarga yang baik malah memiliki perilaku yang buruk. Namun, alangkah bagusnya, kalau orang yang berasal dari keluarga baik memiliki perilaku yang baik juga.

Misalnya habaib yang punya garis keturunan mulia plus punya perilaku yang baik. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Buya Hamka: Sejak zaman kebesaran Aceh, keturunan Hasan dan Husein sudah banyak datang ke Tanah Air.

Mereka memiliki banyak jasa dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Mereka datang di negeri ini menjadi ulama, menyebarkan agama Islam, kebaikan, dan ketaatan kepada Allah SWT (perkataan Buya Hamka ini saya kutip dari bukunya Nur Solikhin berjudul Para Habib Terkemuka Indonesia).

Amat mulianya para sayyid atau habaib yang sudah memiliki garis keturunan mulia dari Nabi Muhammad SAW, juga memiliki perilaku yang baik dan andil besar dalam melakukan penyebaran Islam di Nusantara.

Habib merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Fatimah az-Zahra RA dan Ali bin Abi Thalib RA. Nur Solikhin dalam bukunya “Para Habib Terkemuka Indonesia” menjelaskan, “Habib merupakan gelar keturunan Rasulullah SAW yang dikhususkan bagi orang laki-laki. Sedangkan, untuk perempuan, dikenal julukan syarifah. Habaib sangat dihormati oleh masyarakat muslim, khususnya Indonesia. Mereka dianggap sebagai ‘tali’ pengetahuan yang murni. Hal ini terjadi karena garis keturunan mereka sampai kepada Rasulullah SAW.”

Menghormati habib termasuk bagian dari sikap menghormati Nabi Muhammad SAW. Sebab habaib adalah keturunan Nabi SAW. Sebagaimana Quraish Shihab dalam bukunya “Yang Hilang dari Kita Akhlak” menjelaskan, “Dalam konteks penghormatan dan balas jasa, umat Islam juga diperintahkan agar menghormati dan mencintai keluarga beliau. Firman-Nya dalam QS. Asy-Syura [42]: 23 yang memerintahkan Nabi SAW menyatakan: Aku tidak meminta kepada kamu atas penyampaianku satu upah, tetapi kasih sayang dalam kekeluargaan. 

Terlepas apakah firman-Nya ini dipahami dalam arti perintah mencintai keluarga beliau, namun yang pasti sekian banyak hadis yang menyebutkan perlunya kecintaan kepada keluarga beliau. Bahkan tanpa hadis-hadis pun, ‘yang tahu diri’ pasti akan menghormati dan mencintai mereka, paling tidak demi menyenangkan perasaan beliau sebagai manusia. Bukankah semua kita senang bila anak-cucu dan keluarga kita disenangi orang lain?”

“Yang tahu diri”, yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad SAW pasti akan menghormati keluarga Nabi SAW, baik itu kakeknya, kedua orang tuanya, pamannya, istri-istrinya, anak-anaknya, hingga keluarga keturunannya Nabi SAW. Demikian termasuk sikap penghormatan plus kecintaan pada Nabi Muhammad SAW.

Sehingga termasuk sikap “yang tak tahu diri” adalah mengaku umat Nabi SAW, namun sikapnya tak menghormati, memusuhi, apalagi sampai melakukan perbuatan bar-bar pada para habib, seperti yang dilakukan oleh oknum laskar di Solo pada sabtu, 8 Agustus kemarin, yang menyerbu rumah Habib Segaf membuat 3 orang habaib terluka sampai harus dirujuk ke RS. Jelas itu termasuk menyalahi sikap penghormatan pada Nabi SAW, dan sekali lagi sikap “yang tak tahu diri”. 

Ironisnya, aksi penyerbuan mengatasnamakan agama, lagi-lagi dengan gema teriakan takbir yang salah tempat digunakan.

Apa pun alasannya jelas sikap demikian menyalahi sikap penghormatan dan kecintaan pada Nabi SAW, juga menyalahi prinsip Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam. Kalau memang tak setuju dengan prosesi adat midodareni, tak lantas melakukan perbuatan bar-bar, lebih-lebih membungkusnya atas nama agama. 

Sebagai muslim, seharusnya bisa saling menghormati perbedaan paham dalam ber-Islam. Sebagai muslim, kalem dikitlah, bro. Jangan, terlalu bar-bar. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...