Pesan Untuk Pesulap Merah, Belajar Sulap Juga Haram, Ini Penjelasan Ulama

0
161

Harakah.idSejatinya hukum asal sulap dan sihir adalah sama. Yaitu sama-sama haram. Belajar maupun melakukannya.

Perseteruan antara Pesulap Merah dengan Syamsuddin, orang yang menampilkan diri sebagai ahli agama melalui jubbah dan serbannya namun disebut dukun oleh lawannya, menarik perhatian masyarakat luas. Terlebih setelah keduanya diundang dalam sejumlah program podcast dan televise yang disiarkan secara nasional.

Pesulap Merah, seperti tercermin dalam namanya, berangkat dari seorang yang mempelajari sulap. Pesulap sendiri berarti orang yang memiliki keahlian sulap. Dalam narasi yang sering disampaikan, Pesulap Merah memiliki misi “Melawan Dukun Berkedok Agama”. Belakangan, narasi dukun berkembang menjadi tukang “Sihir”. Dengan demikian, bisa jadi, misi Pesulap Merah adalah melawan dukun sihir berkedok agama.

Perjalanan narasi sulap vs perdukunan/sihir ini seakan mengarah kepada penggiringan opini bahwa sulap boleh dalam agama, sedangkan sihir dilarang secara mutlak tanpa perkecualian sedikit pun. Dalam perspektif hukum Islam (baca: fiqh), sejatinya hukum asal sulap dan sihir adalah sama. Yaitu sama-sama haram. Belajar maupun melakukannya.

Imam An-Nawawi berkata,

ولا يجوز بيع كتب الكفر، وهكذا كتب التنجيم والشعبذة والفلسفة، وغيرها من العلوم الباطلة المحرمة، فبيعها باطل؛ لأنه ليس منها منفعة مباحة

Tidak bole menjual buku yang mengandung kekufuran, begitu pula buku-buku ramalan, sulap dan filsafat, dan ilmu-ilmu sesat lagi haram lainnya. Perjualan buku itu batal secara hukum karena tidak ada manfaat yang dibolehkan di dalamnya. (Majmu’ Syarah Muhadzab).

Imam Abu Zakaria Al-Anshari berkata,

(وَتَحْرُمُ الْكِهَانَةُ)

أَيْ تَعْلِيمُهَا، وَفِعْلُهَا (وَالتَّنْجِيمُ وَالضَّرْبُ بِالرَّمْلِ وَالْحَصَى وَالشَّعِيرِ وَالشَّعْبَذَةُ

Haram hukumnya meramal (mempelajari dan melakukannya), pernujuman, meramal dengan pasir, kerikil, dan gandum, dan sulap (Asnal Mathalib fi Syarhi Raudhah al-Thalib, 4/82)

Imam Zakaria al-Anshari dalam kitab lain berkata,

وَالْأَصَحُّ أَنَّ تَعَلُّمَ السِّحْرِ حَرَامٌ كَالْكِهَانَةِ، وَالتَّنْجِيمِ، وَالضَّرْبِ بِالرَّمَلِ، وَالشَّعِيرِ، وَالْحَصَى، وَالشَّعْبَذَةِ

Pendapat yang ashoh, belajar sihir adalah haram, seperti hukum meramal, ramal dengan bintang, ramal dengan pasir, gandum, dan kerikil, dan sulap (Al-Ghurar al-Bahiyyah Fi Syarh Al-Bahjah Al-Wardiyah, 5/17)

Imam al-Ramli berkata,

وَلَا حَاجَةَ إلَى تَمْيِيزِ السِّحْرِ عَمَّا فِيهِ شِبْهُهُ مِنْ الْعُلُومِ كالسيميا وَالشَّعْبَذَةِ لِمُشَارَكَتِهَا إيَّاهُ فِي وُجُوبِ اجْتِنَابِهَا لِتَحْرِيمِهَا

Tidak perlu dibedakan antara sihir dan ilmu sejenisnya seperti simia dan sulap karena sulap sama dengan sihir dalam kewajiban menjauhinya karena keharamannya. (Fatawa al-Ramli, 4/374).

Sampai di sini, jelas lah bahwa belajar sulap maupun mempraktikannya adalah perkara yang diharamkan dalam agama Islam. Setidaknya menurut para ulama yang sudah disebut namanya di atas. Masyarakat perlu hati-hati dalam mengikuti alur perdebatan antara pesulap merah dan Syamsuddin. Jangan sampai masyarakat terjebak kesalahpahaman, seperti dalam paribahasa “lari dari mulut buaya, masuk ke mulut singa”. Ingin menghindari sihir, malah terjatuh dalam sulap.