Beranda Khazanah Pilih Dzikiran atau Nyangkul? Kata Gus Baha: Sebaik-Baiknya Ibadah Adalah Bekerja!

Pilih Dzikiran atau Nyangkul? Kata Gus Baha: Sebaik-Baiknya Ibadah Adalah Bekerja!

Harakah.idSebaik-baiknya ibadah, dalam benak kita, selama ini selalu mengarah pada banyaknya jumlah ibadah ritual yang kita lakukan. Entah itu puasa, salat, dzikiran dll. Padahal, kata Gus Baha, ada ibadah yang lebih baik dari itu semua. Apa itu?

Dalam salah satu video gus baha’ milik akun @santrigayeng yang diunggah ulang di akun youtube thariqatuna, Gus Baha’ menjelaskan pentingnya kerja dan ternyata sebaik-baiknya ibadah adalah bekerja.

Beliau mengawali penjelasannya tentang bahwa bekerja adalah sebaik-baiknya ibadah dengan kisah pengalaman yang ia alami pada tanggal 2 syawal (saat masih suasana lebaran seperti itu), beliau pagi-pagi pergi ke pasar Kragan bersama dua putrinya, yakni Tasbiha dan Mil’a dan disana gus Baha’ menemui seseorang yang sudah berjualan ayam.

Kemudian gus Baha menangis, “Ya Allah, orang kalau tidak kiai itu tanggal 2 syawal sudah cari uang.”

Baca Juga: Pengajian Gus Baha dan Panggung Kebudayaan yang Berlangsung di Pantat-Pantat Truk

Kemudian gus Baha’ membeli ayam tersebut sebanyak dua ratus ribu rupiah. Lalu putri gus Baha’ bertanya, “mau untuk apa ayam sebanyak itu ?”

“ya.. untuk dijadikan pelajaran. Dijadikan pelajaran bahwa tanggal 2 Syawal orang-orang sudah mencari uang.”

Maka bagi gus Baha’ sebagai kiai, perayaan hari raya itu jangan lama-lama karena banyak menghambat pasar. Oleh karena itu, tradisi di Narukan -tempat tinggal gus Baha, hari raya itu hanya pada hari pertama dan malam hari kedua syawal. Setelah itu bubar.

“Awas. Besok pagi jangan sowan lagi.” Canda gus Baha’.

Jadi setiap hari raya, tetangga semua sowan ke gus Baha’ ketika setelah sholat ‘Id dan malam ke dua syawal. Setelah itu mereka sungkan kecuali bagi mereka yang tinggal di Malaysia.

“Hari raya harus satu hari! Besok yang kerja, kerja. Aneh-aneh! Hari raya kok lama.”

Kalau kiai memang enak. Bagaimana, kalau bukan kiai ?!. Mengganggu rezeki banyak orang. Hal ini didasarkan pengalaman gus Baha’ tadi, yakni sudah ada orang yang jualan ayam pada tanggal 2 syawal.

Menyikapi hal ini, gus Baha’ berpendapat bahwa seharusnya para kiai berpikir, bukan malah bangga tamunya datang terus menerus selama sebulan. Gus Baha’ yang menurut banyak orang termasuk kiai besar dan tentunya tamu beliau banyak, tapi gus Baha’ merasa tidak nyaman.

Acara-acara tidak penting seperti foto-foto, story kok di dewa-dewakan. Gus Baha’ tidak cocok.

“Ibadah terbaik adalah bekerja,” begitu kata nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Gus Baha, Yaya Toure dan Para Kiai yang Menggandrungi Sepak Bola

Orang biar tetap kerja sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dan, itu ibadah yang paling utama kata nabi. Tidak ada ibadah terbaik adalah menerima tamu. Memang termasuk kebaikan. Tapi, ibadah terbaik tetaplah bekerja. Mencari rezeki halal.

Gus Baha’ mengetahui pengamalan ‘sebaik-sebaik ibadah’ ini dari Mbah Moen. Mbah Maimoen meski begitu besar kekuasaan dan pengaruhnya, ketika makan dirumahnya, yang beliau makan adalah uang hasil jualannya. Gus Baha’ sendiri sering menemani beliau makan. Mbah Moen biasa makan lauk pecel. Pecel yang dijual pada santri-santrinya itu. Betapa sederhananya beliau.

Begitupula dengan bapak gus Baha’, yakni Kiai Ahmad Nur Salim. Meskipun begitu besarnya tokoh Kyai Nur Salim, ketika di rumah makan sebagaimana orang biasa. Tetapi mereka tetap mau kekuasaan untuk menopang jabatan agama.

Di terakhir video pengajiannya, gus Baha’ menjelaskan pentingnya mengakui semua kekuasaan dan kekayaan milik Allah. Bukan malah merasa memiliki dan lalai kepada Sang Pemberi.

Gus Baha pada mulanya mencontohkan kemuliaan dan kebesaran yang ada pada nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman itu jika pergi ke masjid dikawal oleh pasukannya. Pasukan nabi Sulaiman bukan pasukan biasa seperti manusia, tapi juga jin, burung dan makhluk-makhluk lainnya.

Nabi Sulaiman ketika pergi ke masjid, beliau mencari dan duduk bersama orang paling fakir. Lalu nabi Sulaiman berkata, “Kita sama-sama miskin. Mari duduk bersama”. Oleh karena itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa nabi Sulaiman itu kaya karena nabi Sulaiman tahu betul bahwa semuanya milik Allah.

Baca Juga: “Nasab Bukan Untuk Dibangga-Banggakan!”, Nasab Gus Baha dan Bagaimana Seharusnya Seseorang Menyikapi Silsilah Keturunannya

Begitu Pula dengan perumpamaan, misalnya gus Baha’ adalah seorang buruh yang menjaga gudang milik orang China (Tionghoa) atau milik orang kaya. Disitu ada Alphard, beras ber ton-ton, kacang ber ton-ton. Lalu, apakah gus Baha’ pantas merasa kaya? meskipun dikelilingi beras ber ton-ton.

Tentunya tidak kan?

Karena gus Baha’ menyaksikan betul bahwa itu semua bukan miliknya. Begitu pula dengan para nabi. Semua nabi itu menyaksikan betul bahwa semua anugerah itu bukan miliknya, tapi milik Allah SWT. Betapa mereka merasa sebagai seorang hamba.

Bila seorang buruh saja menyaksikan bahwa barang-barang yang ada disekelilingnya bukan miliknya, apalagi dengan kesaksian para nabi yang lebih tinggi ketimbang kesaksian seorang buruh penjaga gudang. Karena nabi semuanya mukasyafah. 

Sekian. Terimakasih. Semoga bermanfaat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...