Beranda Gerakan Politisasi Hadis "Pasukan Panji Hitam" dan Lima Gejala Dari Pemanfaatan Hadis Sebagai...

Politisasi Hadis “Pasukan Panji Hitam” dan Lima Gejala Dari Pemanfaatan Hadis Sebagai Alat Politik [4-Habis]

Harakah.idPolitisasi hadis pasukan panji hitam adalah fakta yang bisa kita temukan dalam sejarah penggunaan hadis tersebut, berikut juga dalam sejarah Islam itu sendiri.

Pembahasan sebelumnya menggambarkan kepada kita tentang fenomena penggunaan hadis-hadis Nabi untuk mendukung suatu praktik politik. Dan pembahasan-pembahasan sebelumnya menguatkan sebuah fakta mengenai politisasi hadis pasukan panji hitam. Politik dalam hal ini berarti upaya memperoleh kekuasaan terlepas dari motif, strategi, dan tujuan yang melatarbelakanginya. Dalam konteks Dinasti Abbasiyyah, hadis-hadis Nabi digunakan untuk membenarkan motif penguasaan keluarga Bani Abbas terhadap umat Islam saat itu.

Untuk memaksimalkan upaya ini, tiga isu digunakan oleh penguasa Bani Abbasiyah.

Baca Juga: Pasukan Taliban, Hadis “Pasukan Panji Hitam” Dan Isu yang Tak Pernah Lekang Oleh Zaman [1]

Pertama, runtuhnya moral masyarakat karena pemerintah Umayyah dianggap menjauhi ajaran agama. Isu ini kemudian digunakan dalam wacana politik Bani Abbas, bahwa mereka mendakwahkan agar umat kembali kepada agama. yaitu kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah.

Kedua, bahwa Bani Abbas adalah gerakan yang berupaya mewujudkan ramalan-ramalan Nabi tentang kepemimpinan akhir zaman yang akan diperoleh oleh keturunan Abbas bin Abdul Muthallib.

Ketiga, kedekatan dengan Nabi melalui hubungan kekerabatan digunakan dengan baik. Dimana gagasan superioritas keluarga Nabi ini diterima oleh orang-orang sunni dan orang-orang Syiah. Gagasan ini ditemukan pula dalam hadis Nabi. Seperti hadis yang menyatakan kemunculan pemimpin akhir zaman yang akan memenuhi dunia dengan keadilan yang disebut sebagai al-Mahdi. Al-Mahdi dalam hadis-hadis tersebut berasal dari keluarga Nabi. Sekalipun masih bisa diperdebatkan, faktanya, isu tersebut cukup efektif mendulang dukungan masyarakat.

Keempat, Bani Abbas menggunakan gelar-gelar yang diadopsi dari hadis-hadis Nabi saw. seperti al-Saffah, al-Manshur, dan al-Mahdi. Kelima, dalam mengonsolidasikan kekuatan militer, keluarga Bani Abbas menggunakan hadis-hadis akhir zaman tentang pasukan panji hitam sebagai materi kampanye dan diadopsi sebagai simbol politik.   

Dari sini dapat diambil gejala umum penggunaan hadis dalam politik, termasuk politisasi hadis pasukan panji hitam;

Baca Juga: Melacak Kualitas Hadis “Pasukan Panji Hitam”, Hadis Populer yang Tak Ada Dalam Kutubus Sittah [2]

Pertama, hadis keutamaan sesuatu digunakan menjustifikasi kepentingan tertentu. Seperti keutamaan keluarga Nabi dan keturunan Abbas bin Abdul Muthallib.

Kedua, hadis-hadis ramalan tentang masa depan dunia ditafsirkan untuk suatu konteks tertentu dan untuk suatu kepentingan tertentu. Di sisi lain, harus diakui absurditas dan ambiguitas maksud dari hadis-hadis ramalan tersebut. Jadi, pada dasarnya praktik ini cukup sewenang-wenang karena tidak ada yang dapat dikonfirmasi akan kebenaran penafsiran tersebut.

Ketiga, orang-orang berupaya mengidentifikasi hubungan mereka dengan otoritas kenabian. Baik itu adalah kekeluargaan maupun keagamaan. Bila dulu orang-orang Bani Abbas menggunakan kekuatan pendukung Ali (Syi’at Ali), lalu mereka mengidentifikasi sebagai keluarga Nabi, lalu mereka memosisikan diri sebagai orang-orang yang punya otoritas dalam agama. Hal ini berarti, upaya-upaya ini dilakukan secara sengaja dengan cara mencari-cari hubungan. Atau menciptakan suatu hubungan tertentu.

Keempat, kandungan-kandungan hadis akhir zaman diwujudkan dalam  bentuk kebijakan-kebijakan. Hal ini seperti dalam penggunaan gelar dan penggunaan atribut bendera dan seragam hitam dalam saya militer Bani Abbas.

Kelima, aktor-aktor politik menafsirkan dan mewujudkan pesan-pesan yang terkandung dalam hadis Nabi. Tafsir-tafsir tersebut kemudian menjadi pegangan bagi pengikut-pengikutnya. Yang menjadi persoalan adalah, kebenaran penafsiran tersebut tidak memiliki standar kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. 

Baca Juga: Sejarah Penggunaan Hadis “Pasukan Panji Hitam”, Hadis yang Populer Dimanfaatkan Untuk Kepentingan Politik [3]

Ulasan dalam artikel ini mengarah kepada kesimpulan bahwa penggunaan hadis untuk suatu upaya politik telah dikenal dalam sejarah Islam. Isu pasukan akhir zaman yang digaungkan NIIS, melalui media internet, yang didasarkan kepada hadis-hadis akhir zaman, al-Mahdi, Khurasan, pasukan panji hitam dan lainnya, bukan hanya dimonopoli oleh kelompok ini. Seribu tahun yang lalu, hadis-hadis tersebut sudah pernah digunakan oleh pemerintah Bani Abbas.

Di sini, kita menemukan fenomena politisasi hadis pasukan panji hitam dan penggunaan hadis-hadis serupa untuk mendukung aksi-aksi radikal. Uniknya, hadis-hadis itu selalu memiliki pengertian yang absurd. Samar. Dan tidak tegas dalalah-nya. Ini tentu mengkhawatirkan karena sulitnya menemukan ukuran kebenaran penafsiran yang ditawarkan oleh para pengguna hadis tersebut. Absurditas ini muncul karena, penafsiran tersebut dikembalikan kepada kenyataan yang sedang dibangun oleh sang penafsir.

Jadi, realitas itu merupakan realitas ciptaan yang coba diwujudkan untuk mewujudkan kandungan hadis itu sendiri. Di sini, argumen untuk mengukuhkan kebenaran bersifat melingkar (tasalsul). Dalam teori argumen klasik, argumen semacam ini dapat tergolong lemah bahkan menyesatkan (al-tasalsul muhal). Namun, kemudian kenyataan ciptaan itu dijadikan standar kebenaran sabda Nabi. Inilah dilema paradigma pemahaman hadis kelompok NIIS.

Sebagai penutup, perlu diketengahkan bahwa apa yang dikampanyekan NIIS hanyalah salah satu model tafsir atas teks-teks keagamaan yang bersifat ambigu. Yang standar kebenarannya menjadi sangat sulit ditentukan. Hal ini, belum lagi bila kita melihat bahwa hadis-hadis yang digunakan dalam konteks ini bernilai lemah. Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Kathir.

Demikian. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

REKOMENDASI

Macam-Macam Zakat yang Harus Kita Bayar Ketika Memenuhi Syarat

Harakah.id - Macam-macam zakat ini wajib kita bayar jika telah memenuhi syarat. Secara garis besar, ada dua macam zakat, yaitu zakat...

Kiai Ridwan Menggambar Lambang NU, Muncul dalam Mimpi dan Disetujui Kiai Hasyim

Harakah.id - Kiai Ridwan menggambar lambang NU berdasarkan mimpi dari salat istikharah yang dilakukannya. Lambang yang kemudian disetujui Kiai Hasyim Asy'ari...

“Kunikahi Engkau dengan Mahar Hafalan Surat Ar-Rahman”; Romantis Sih, Tapi Apa Boleh?

Harakah.id - Mahar hafalan surat-surat dalam al-Quran kian trend. Pasangan laki-laki yang menikahi seorang perempuan, akan semakin tampak romantis dan islami...

Muhaddis Garis Lucu, Historisitas Argumen Keabsahan Hadis dan Hal-Hal yang Tak Selesai

Harakah.id - Muhaddis Garis Lucu menampilkan satu kondisi dan situasi periwayatan di masa lalu. Bahwa tradisi periwayatan yang kemudian menjadi bahan...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...