fbpx
Beranda Headline Posisi Bintang Tsurayya di Langit dan Pengaruhnya Terhadap Corona

Posisi Bintang Tsurayya di Langit dan Pengaruhnya Terhadap Corona

Harakah.id – Posisi Bintang Tsurayya dapat diamati mulai 9 Juni – 2 November 2020 di langit belahan utara, rasi Taurus. Disebut Gugus M45, dikenal juga sebagai Bintang Tujuh.

Wabah virus Corona atau Covid-19 membuat banyak orang di seluruh dunia kesulitan sehingga mereka ingin segera tahu kapan hal ini bisa berakhir. Banyak orang mencoba membuat prediksi, dari permodelan matematis oleh para ilmuwan sampai tafsir berdasarkan teks agama.

Sebenarnya bukan masalah orang-orang mempercayai prediksi yang mana. Yang menjadi masalah adalah mengaitkan antara kepercayaan dan ilmu pengetahuan, baik itu pengetahuan agama maupun pengetahuan alam, dengan cara yang keliru.

Jika hal ini terus dibiarkan, efeknya bukan hanya kegagalan dalam mengantisipasi Corona, melainkan juga rusaknya cara berpikir masyarakat yang tidak dapat memisahkan kepercayaan, yang bersifat ambigu dan subjektif, dari ilmu, yang bersifat metodologis dan objektif.

Baca Juga: Agar Rasulullah Saw Tak Dicitrakan Seperti Tukang Ramal, Berikut Panduan Memahami Hadis Bintang Tsurayya

Contohnya adalah prediksi berakhirnya wabah Corona yang akhir-akhir ini banyak muncul berdasarkan beberapa hadis Nabi Muhammad Saw. Banyak versi riwayat hadis yang berkaitan, tetapi kurang lebih intinya sama dengan hadis berikut.

Dalam Itsaratul Fawa’id 181, redaksinya adalah,

 إِذَا طَلَعَ النَّجْمُ رُفِعَتِ الْعَاهَةُ عَنْ كُلِّ بَلَدٍ

“Apabila terbit bintang, (pasti) diangkatlah penyakit dari setiap negeri.”

Sedangkan dalam Musnad Imam Abu Hanifah menurut riwayat Abu Nuaim 1/137 redaksinya,

 إِذَا طَلَعَتِ الثُّرَيَّا غُدْوَةً ارْتَفَعَتِ الْعَاهَةُ عَنْ كُلِّ بَلَدٍ

“Apabila terbit Bintang Tsurayya, (pasti) terangkatlah penyakit dari setiap negeri.”

Jadi, dalam hal ini, bintang yang dimaksud, النَّجْمُ, adalah الثُّرَيَّا, atau Bintang Tsurayya.

Bintang Tsurayya yang dimaksud sebenarnya adalah sebutan untuk gugus bintang yang kita kenal sebagai Gugus M45, Pleiades, atau Lintang Kartika. Gugus ini juga dikenal sebagai “Bintang Tujuh” karena kenampakan tujuh bintang paling terang yang bisa kita amati, yakni Alcyone, Atlas, Electra, Maia, Merope, Taygeta, dan Pleione.

Baca Juga: Benarkah Wabah Covid-19 Berakhir Ketika Muncul Bintang Tsurayya Seperti dalam Hadis [1]

Meski begitu, gugus bintang ini sebenarnya mengandung lebih dari seribu bintang yang cahayanya lebih redup. Jarak gugus bintang ini adalah sekitar 135 parsec atau 4000 triliun kilometer. Sebagai perbandingan, jarak bumi ke matahari rata-rata adalah 150 juta kilometer.

Jika ingin mencarinya di langit, bintang ini terletak di langit belahan utara, Rasi Taurus. Jika ingin melihat terbitnya Bintang Tsurayya saat malam, sebelum subuh sampai setelah isya (urutannya memang terbalik karena terbitnya bintang selalu terlambat 4 menit setiap harinya), bintang ini dapat diamati mulai tanggal 9 Juni sampai 2 November 2020.

Hubungan Bintang Tsurayya dengan Wabah

Hal yang perlu ditekankan, apakah hadis tersebut berhubungan dengan wabah, khususnya wabah Corona? Banyak yang sudah membahasnya. Di satu sisi, terdapat ulama yang menafsirkan bahwa hadis tersebut menerangkan tentang berakhirnya wabah secara umum, termasuk Corona.

Ada yang berpendapat bahwa hal tersebut diperoleh dari ilmu falak dan ilmu hikmat (As-Sirrul Jalil), sehingga wabah ini akan mulai diangkat oleh Allah Swt mulai pertengahan Juni 2020 waktu subuh di Buruj Sarathan (Rasi Cancer). Ada pula yang menukil pendapat Imam Ibnu Al-Malaqqin bahwa Bintang Tsurayya muncul pada awal Mei sehingga diharapkan wabah berakhir akhir bulan itu juga.

Di sisi lain, terdapat pendapat yang menentang hal tersebut. Pertama, dari sisi kualitas hadis. Hadis-hadis yang redaksinya mirip tidak ada yang shahih karena melalui perawi yang dhaif (lemah).

Kedua, dari isi hadisnya. Kata yang diartikan sebagai wabah adalah الْعَاهَةُ . Padahal, dalam hadis-hadis lain, yang digunakan untuk wabah berbahaya dan menular adalah kata الوباء dan الطاعون . Kata الْعَاهَةُ  berarti penyakit secara umum, baik menular maupun tidak, baik yang menjangkiti tanaman, hewan, maupun manusia.

Ketiga, secara historis hadis ini digunakan untuk menjelaskan jual-beli buah-buahan ketika wabah tanaman menyerang pada abad ke-7 Masehi. Ketika itu, Rasulullah Saw. meminta agar penjualan buah-buahan dilarang sampai hilang wabah tanaman-tanaman yang biasanya berakhir ketika musim panas.

Baca Juga: Asal Kalian Tahu, Bersenggama Di Masa Wabah Corona Makruh dan Tidak Dianjurkan!

Musim panas dan permulaan matangnya buah-buahan biasanya ditandai dengan terbitnya Bintang Tsurayya, sehingga beliau menyebutkannya dalam hadis. Bukan berarti Bintang Tsurayya menyebabkan bumi menjadi panas dan buah menjadi matang, apalagi menghilangkan penyakit. Ini hanyalah pertanda waktu saja, seperti orang Jawa yang memulai bercocok tanam ketika terbit rasi Gubug Penceng atau Rasi Orion. Hampir di semua peradaban, orang-orang zaman dahulu biasa menggunakan benda langit sebagai penanda waktu.

Pengaruh Bintang Tsurayya dengan Kehidupan di Bumi

Selanjutya yang penting dibahas, apakah Bintang Tsurayya mempunyai pengaruh langsung mengenai kehidupan di Bumi? Ditinjau dari interaksi fisiknya, interaksi gravitasi bumi dan Bintang Tsurayya berbanding lurus dengan satu per kuadrat dari jaraknya (inverse square law). Gravitasi disebabkan oleh dua aspek, yaitu massa dan jarak.

Walaupun massa gugus Bintang Tsurayya mencapai 800 kali massa matahari, pengaruh kuadrat dari jaraknya dari bumi yang mencapai 4000 triliun kilometer jelas tidak akan terimbangi. Efek (gaya) yang dihasilkan kira-kira sama dengan dua puluh lima kali dari efek seekor semut yang jatuh dari meja (jika diasumsikan semut mempunyai massa 0,004 gram dan ketinggiannya dari meja 1 m).

Dilihat dari cahaya atau gelombang elektromagnetik yang dipancarkan, Bintang Tsurayya mempunyai magnitudo 1,6. Magnitudo adalah satuan yang menunjukkan tingkat kecerlangan bintang dengan skala logaritmik. Semakin kecil nilainya, semakin terang.

Sebagai pembanding, magnitudo matahari adalah -26,74. Artinya perbandingan kecerlangan antara matahari dan bintang ini adalah 200 milyar kali. Tentu saja tidak ada efek berarti yang diakibatkan secara langsung oleh kedua interaksi fisik yang telah disebutkan dengan kehidupan di bumi, apalagi melakukan sesuatu terhadap virus.

Bahkan untuk interaksi secara langsung tidak mungkin. Hal ini karena zat fisik hanya dapat berinteraksi dengan kecepatan paling cepat adalah kecepatan cahaya. Artinya, semakin jauh jarak antar benda-benda yang berinteraksi, semakin lama waktu yang dibutuhkan agar hal tersebut terjadi.

Baca Juga: Ragam Keberagamaan Muslim Indonesia Di Masa Pandemik Corona

Melihat jauhnya jarak Bintang Tsurayya, yakni 4000 triliun kilometer atau 440 tahun cahaya, maka kalau pun bintang-bintang di sana saat ini meledak, menghasilkan berbagai radiasi dan partikel berbahaya yang mengancam Bumi, kita baru terkena efeknya paling tidak 440 tahun mendatang.

Bahkan beberapa ulama yang mengatakan berakhirnya wabah corona setelah terbitnya bintang ini pun setuju bahwa mereka tidak mempunyai ta’tsir atau pengaruh. Hal ini karena hakikat yang mempunyai pengaruh adalah Sang Muatstsir, yakni Allah Swt.

Jadi, kita boleh-boleh saja meyakini prediksi tersebut benar. Membangun optimisme di tengah krisis ini memang sangat dibutuhkan. Apalagi, tanpa mengurangi rasa hormat pada ulama, prediksi tersebut berasal dari beliau-beliau. Tetapi, secara ilmu pengetahuan, kita wajib menyangkal hubungan antara Bintang Tsurayya dan wabah Corona. Baik itu secara ilmu hadis maupun fisika. Benar-benar menjadi kebiasaan buruk jika kepercayaan dan ilmu pengetahuan dibiarkan tercampur aduk secara tidak benar.

Baca Juga: Tha’un ‘Amwas, Wabah Penyakit Pada Masa Khalifah Umar Ibnu Khatthab

- Advertisment -

REKOMENDASI

Cara dan Waktu Puasa Syawal 6 Hari Harus Urut atau Boleh Terpisah-pisah?

Harakah.id – Cara dan waktu puasa Syawal 6 hari boleh dilakukan secara berturut-turut di waktu awal bulan, maupun secara terpisah-pisah di...

Khutbah ‘Idul Fitri 1441 H.: Ketakwaan Sosial dan Iman yang Melahirkan Kasih Sayang

Khutbah pertama السلام عليكم ورحمة الله وبركاته اللهُ أَكبَر (7 x)  لَا إلهَ إِلا...

Kaidah “al-Khuruj Minal Khilaf Mustahab” dan Logika Pembentukan Komite Hijaz

Harakah.id - Komite Hijaz memiliki perannya sendiri ketika kondisi politik Arab Saudi dikhawatirkan berdampak ke segala lini. Dengan logika kaidah al-Khuruj...

Mengembala dan Berdagang Adalah Dua Camp Pelatihan Para Nabi Sebelum Diterjunkan, Tak Terkecuali Nabi...

Harakah.id – Dunia gembala dan perdagangan secara tidak langsung memberi pelajaran awal kepada Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi. Di sana kejujuran,...

TERPOPULER

Jumlah Takbir Shalat Idul Fitri, 7 di Rakaat Pertama dan 5 di Rakaat Kedua

Harakah.id - Penjelasan singkat mengenai jumlah rakaat dan takbir pada shalat sunnah Idul Fitri. Dua rakaat dengan tujuh takbir di rakaat...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Bacaan Setelah Takbir Zawaid dalam Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

Harakah.id - Pada umumnya, dalam shalat wajib dan sunnah dikenal dua takbir, yaitu takbiratul ihram dan takbir intiqal. Takbiratul ihram adalah takbir...

Tata Cara Niat Zakat Fitrah Sendiri Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

Harakah.id - Ketika kita hendak menyerahkan bahan pokok seperti beras kepada amil zakat, penitia zakat atau penerima zakat secara langsung, kita...