Beranda Khazanah Potensi Konflik Saat Pandemi: Saatnya Menguatkan Pengajaran Agama

Potensi Konflik Saat Pandemi: Saatnya Menguatkan Pengajaran Agama

Harakah.id Pendapat, sikap dan perilaku yang berseberangan secara dimetrikal ini merupakan lahan potensial bagi tumbuh dan berkembangnya konflik di dalam masyarakat.

Masa pandemi belum juga berakhir. Namun kehidupan harus terus berlanjut. Maka sesuai arahan pemerintah, kenormalan baru menjadi pilihan. Sementara itu, berbagai rintangan yang bersumber dari pandemi masih terus bertumbuh dan bertambah.

Potensi Konflik

Dalam masyarakat ada banyak perbedaan pandangan dan perbedaan sikap terhadap pandemi. Perbedaan ini demikian besar rentangnya sehingga bisa disebutkan ada dua titik ekstrim. Pertama adalah mereka yang mempercayai adanya pandemi dan bersikap terlalu protektif baik bagi dirinya sendiri maupun bagi lingkungan terdekatnya. Sikap protektif ini bahkan mencapai tingkat phobia.

Sementara di sisi seberangnya, ada pendapat kedua yang sama sekali tidak mempercayai adanya pandemi. Orang-orang ini menganggap berita tentang pandemi hanyalah isu yang dibesar-besarkan oleh media dengan maksud menakut-nakuti masyarakat.

Pendapat-pendapat yang berbeda ini diwujudkan dalam berbagai sikap dan perilaku. Di antara wujud pendapat ekstrim yang terlalu protektif dalam  melindung dirinya ada sikap dan perilaku yang kadang meresahkan. Ada orang yang berulang kali mencuci tangannya atau menggunakan hand sanitizer, meski belum menyentuh atau memegang apa pun.

Mereka benar-benar menjaga diri dan keluarganya agar tidak kontak dengan orang lain atau orang di luar keluarga intinya. Ada lagi perilaku ekstrim semisal menolak jenazah orang yang meninggal dan terbukti terpapar virus. Penolakan terjadi karena jenazah itu dianggap akan mencemari dengan menularkan penyakit ke lingkungan itu.

Sementara itu di sisi orang yang tidak mempercayai pandemi, perilaku bersih dan sehat tidak diberlakukan sama sekali. Jaga jarak (physical distancing) dan pemakaian masker diabaikan. Jika ada kematian, maka hal dianggap sebagai takdir belaka, meski terbukti bahwa orang tersebut telah menjadi korban virus yang sedang mewabah. Penyebab kematian tersebut lebih diyakini sebagai akibat penyakit bawaan yang telah lama diderita, bukan karena virus yang mewabah.

Pendapat, sikap dan perilaku yang berseberangan secara dimetrikal ini merupakan lahan potensial bagi tumbuh dan berkembangnya konflik di dalam masyarakat.

Saatnya Menguatkan Pengajaran Agama

Islam sebagai agama yang paling banyak penganutnya di Indonesia ini, memegang peranan kunci dalam upaya meredam bahkan menghilangkan potensi konflik dalam masyarakat itu. Salah satu hal yang penting dilakukan adalah memperbesar kemampuan individu dan masyarakat kaum Muslimin dalam mentoleransi pandangan, sikap dan perilaku yang berbeda dengan keyakinannya.

Ajaran Islam tentu saja akan dapat melakukan itu karena lengkapnya ajaran Islam, termasuk juga ajaran tentang dasar-dasar kehidupan bermasyarakat. Diantara dasar-dasar itu adalah:

(1) Kasih sayang kepada sesama

Ajaran berkasih sayang dalam Islam pertama kali harus dikembangkan diantara kaum Muslimin sendiri. Dalam surat Al Fath (48) ayat 29 bagian awal, Allah SWT berfirman yang artinya “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka

Di zaman Rasulullah SAW kasih sayang diantara sesama kaum Muslimin sangatlah kental. Diantara salah satu kisah yang terkenal adalah tatkala Rasulullah SAW mengikatkan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Kentalnya kasih sayang diantara mereka tergambar dari sikap itsar (mendahulukan kepentingan saudaranya).

Sa’ad bin Ar-Rabi al Anshari yang dipersaudarakan dengan Abdurrahman bin Auf, merelakan separuh hartanya diberikan kepada Abdurrahman bin ‘Auf. Sa’ad melakukan itu karena mengetahui betapa Abdurrahman bin ‘Auf, seorang milyarder di Mekkah, hijrah ke Madinah tanpa membawa hartanya. Adapun Abdurrahman bin ‘Auf, tidak hendak menyusahkan saudaranya, sehingga yang beliau minta hanya ditunjukkan jalan ke pasar.

Sikap berkasih sayang yang kental ini kemudian diperluas ke berbagai pihak lainnya. Rasulullah SAW bersabda “Para pengasih dan penyayang, dikasihi dan disayang oleh Ar Rahman (Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang). Rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yang ada di langit”. (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi).

Menurut para ulama, pemahaman “…yang ada di bumi…” bukan saja kepada sesama Muslimin, Bahkan juga bukan terbatas kepada sesama manusia (meski bukan Muslim), melainkan kepada segenap makhluk Allah SWT, termasuk hewan, tumbuhan dan alam sekitar.

(2) Mengenali dan mengakui adanya perbedaan

Dasar lainnya dalam kehidupan bermasyarakat yang perlu dikuatkan adalah mengenali dan mengakui adanya perbedaan-perbedaan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat. Dalam surat Al Hujurat (49) ayat 13 bagian awal, Allah SWT berfirman yang artinya “Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal

Saling mengenali perbedaan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat bertujuan mulia. Mengenali perbedaan dalam masyarakat hendaknya dilanjutkan dengan sikap-sikap terbaik, diantaranya:

  • mentolerir perbedaan yang ada sejauh dimungkinkan ajaran agama,
  • membangun kesefahaman akan perlunya hidup dalam kebersamaan dan
  • membangun kesediaan untuk saling memberi manfaat.

Sikap-sikap terbaik ini diharapkan bisa mengubah potensi konflik menjadi potensi kerjasama dengan saling memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Semoga kita semua bisa ikut serta dalam upaya menguatkan pengajaran agama ini, demi kebaikan kita bersama.

REKOMENDASI

Fatima Mernissi dan Sekelumit Problem Keperempuanan dalam Islam

Harakah.id - Fatima Mernissi adalah salah satu perempuan yang seringkali diacu dan dirujuk kala berbicara tentang peran perempuan dalam Islam. Dia...

Di Balik Keharamannya, Ini Sepuluh Efek Buruk Minum Khamr yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui!

Harakah.id - Minum khamr melahirkan efek mabuk dan ngefly. Bagi sebagian orang, efek ini menjadi kenyamanan tersendiri karena dengan itu mereka...

Download Khutbah Jumat, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at

Harakah.id - Download Khutbah Jumat Juni, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at. Kutbah Pertama إِنّ...

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97: Kehidupan yang Baik dan Imbalan Untuk Orang yang Beriman

Harakah.id - Tafsir Surah an-Nahl ayat 97 menjelaskan perkara soal kehidupan yang baik berikut imbalan untuk orang yang beriman. Berikut penjelasannya...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...