Pribumisasi Islam ala Gus Dur, Islam Madzhab Santai yang Ramah Terhadap Tradisi dan Kebudayaan Masyarakat

0
739
Pribumisasi Islam ala Gus Dur, Islam Madzhab Santai yang Ramah Terhadap Tradisi dan Kebudayaan Masyarakat

Harakah.id – Pribumisasi Islam ala Gus Dur adalah salah satu tawaran tentang model keberislaman yang akrab dan ramah terhadap tradisi. Di tengah maraknya model keberislaman yang justru berlawanan dan hendak menghanguskan budaya masyarakat, Pribumisasi Islam Gus Dur sebaliknya. Ia adalah model Islam santai yang tidak anti budaya dan hidup harmoni dengan tradisi.

Munculnya berbagai gerakan Islam yang cukup menonjol dalam beberapa tahun terakhir – pasca jatuhnya Soeharto menarik untuk dicermati. Pada nyatanya, kita bisa melihat ini dari memuncaknya kepemimpinan kelompok seperti Laskar Jihad (LJ), Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jama’ah Ikhwan al-Muslimin Indonesia (JAMI), dan lainnya. Kelompok-kelompok seperti ini yang menjadi menonjol, terutama karena pemahaman keagamaan yang cenderung literal serta aksi-aksinya yang cenderung radikal.

Baca Juga: Ikhlas Dirinya Dimakzulkan, Gus Dur Tahan Ratusan Ribu Massa yang Hendak Menyerbu Jakarta

Pemahaman tentang Islam, wacana, dan praktik kelompok-kelompok ini, bisa dikategorikan sebagai kelompok Salafi Radikal karena berorientasi pada penegakan dan pengamalan Islam yang murni, sebagaimana yang dipraktikkan Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya. Disebut dengan Salafi Radikal karena kelompok tersebut menempuh pendekatan dan cara-cara keras untuk mencapai tujuan, bukan dengan cara damai dan persuasif. Hal ini tidak terlepas dari pandangan historis dan sosiologis, menonjolnya warga keturunan Arab dalam kepemimpinan kelompok-kelompok ini beranggapan bahwa mereka memiliki tugas suci untuk memurnikan Islam Indonesia dan membawanya menjadi Islam autentik sebagaimana yang dipahami dan dipraktikkan di tanah Arab.

Ada sekelompok orang yang memaknai Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw itu berbudaya Arab dan harus diikuti apa adanya. Selain itu, menurut mereka, budaya yang berbeda dengan apa yang dipraktikkan oleh Nabi Saw bukan bagian dari Islam. Biasanya, kelompok ini lebih memaknai Islam secara tekstual dan bisa disebut sebagai fundamentalis. Ada juga kelompok-kelompok yang memaknai Islam sebagai nilai yang tidak terbatas pada waktu dan tempat sehingga bisa masuk ke dalam seluruh budaya yang ada. Mereka berangggapan bahwa Islam bukan fisik dari sebuah budaya Arab. Islam adalah nilai universal yang tidak lekang oleh waktu. Kelompok ini biasanya disebut sebagai kelompok substantif. Namun, ada juga kelompok yang berusaha untuk berdiri di antara dua kelompok di atas. Di satu sisi, mereka menganggap bahwa pancaran Islam sebagai sebuah doktrinal tekstual yang tidak bisa diubah lagi. Tetapi, di sisi lain, ada hal yang bersifat substantif kontekstual. Sedangkan, kelompok Islam Indonesia dipandang sebagai Islam tidak murni yang telah tercampur kepercayaan dan praktik keagamaan lokal. 

Umat Islam di Indonesia yang menjadi mayoritas memang memiliki posisi yang sangat unik, tidak seperti di negara-negara lainnya—Timur tengah dan Malaysia yang mayoritas penduduknya Muslim juga. Kendati demikian, sejak lama umat Islam di Indonesia hidup bersandingan dengan agama-agama lainnya. Keunikan inilah yang memengaruhi penghayatan umat Islam di Indonesia terhadap pluralitas agama yang tidak dimiliki oleh umat agama mayoritas di negara lainnya. 

Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur merupakan sosok yang melahirkan pemikiran tentang pribumisasi Islam di Indonesia. Pribumisasi Islam ala Gus Dur lahir sebagai sebuah opsi gagasan. Namun, menurutnya, dia bukanlah orang pertama yang memulai gagasan tersebut, karena dia hanya melanjutkan estafet dari langkah strategi yang pernah dijalankan oleh Wali Sanga. Dengan langkah pribumisasi, Gus Dur beranggapan bahwa Wali Sangalah yang telah berhasil mengislamkan tanah Jawa, tanpa harus berhadapan dan mengalami ketegangan dengan local wisdom.

Baca Juga: Semakin Hari Semakin Serius dan Kurang Lucu, Ketawa Gus Dur Sejatinya Adalah Solusi Bangsa Ini!

Abdurrahman Wahid—atau yang dikenal Gus Dur, dilahirkan pada tanggal 4 Agustus 1940 di Denanyar Jombang. Dia merupakan anak pertama dari enam bersaudara dan memiliki nama kecil, yaitu Abdurrahman Addakhil. Sebagai cucu dari tokoh besar—KH. Hasyum Asy’ari, seorang pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dan juga pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama dan juga cucu dari KH. Bisri Syamsuri—Pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang dan Rais ‘Am Syuriah PBNU, Gus Dur secara genetik baik dari garis keturunan Ayah maupun Ibu merupakan sosok yang menempati strata sosial tinggi dari masyarakat Indonesia. Kedua Kakeknya merupakan tokoh ulama terkemuka NU dan tokoh besar di negara ini.

Namun, sejarah kehidupan Gus Dur tidak mencerminkan kehidupan seorang ningrat. Dia berproses dan hidup sebagaimana layaknya masyarakat pada umumnya. Gus Dur kecil belajar di pesantren. Dia diajarkan mengaji oleh Kakeknya—KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng, Jombang. Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin sekali memanfaatkan perpustakaan pribadi Ayahnya. Pada usia belasan tahun, dia telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel, bahkan buku-buku serius. Itulah mengapa, Gus Dur memiliki cara berpikir yang berbeda dari kebanyakan anak seusianya. 

Pribumisasi Islam ala Gus Dur pertama kali terlontar ke permukaan pada tahun 1980-an. Sejak saat itu, Islam pribumi menjadi perdebatan menarik dalam lingkungan para intelektual; baik intelektual senior maupun intelektual muda. Dalam pemikirannya ini tergambar bagaimana Islam – sebagai ajaran normatif yang bersumber dari Allah Swt diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing, sehingga tidak ada lagi pemurnian Islam atau proses menyamakan praktik Islam Indonesia dengan keagamaan masyarakat Muslim di Timur Tengah. 

Pribumisasi Islam ala Gus Dur meniscayakan sebuah model keberagamaan yang tidak menjadikan agama dan budaya berhadapan dan saling mengalahkan. Melainkan, tercipta pola-pola keberagamaan yang sesuai dengan konteks lokalnya dalam wujud “Islam Pribumi” sebagai jawaban dari “Islam Autentik” atau “Islam Purifikatif” yang memiliki tujuan untuk melakukan proyek Arabisme dalam kelompok Islam di selurh penjuru dunia. Islam Pribumi merupakan jawaban dari Islam autentik dengan tiga poin penting di dalamnya.

Baca Juga: Kaum Sarungan Itu Santai, Bukan Pemalas! Memeriksa Stigma “Pemalas” yang Disematkan Kolonial Kepada Pribumi Nusantara

Pertama, Islam Pribumi memiliki sifat kontekstual, yaitu Islam yang dipahami sebagai ajaran yang terkait dengan konteks zaman dan tempat. Dengan demikian, Islam akan mengalami perubahan dan dinamika dalam merespons perubahan zaman. Kedua, Islam Pribumi bersifat progresif, yaitu kemajuan zaman bukan dipahami sebagai ancaman terhadap penyimpangan ajaran dasar Islam itu sendiri. Melainkan, dilihat sebagai pemicu untuk melakukan respons kreatif secara intens. Ketiga, Islam Pribumi memiliki karakter liberatif, yaitu Islam yang menjadi ajaran dan dapat menjawab problematika kemanusiaan secara universal tanpa melihat perbedaan agama dan etnik. 

Pro-kontra mengenai konsepsi pribumisasi Islam ala Gus Dur ini memang tidak bisa dihindarkan. Tetapi, sebagaimana diakui Gus Dur sendiri, dia bukanlah yang pertama memulai pemikiran Pribumisasi Islam ini. Dia adalah generasi pelanjut dari langkah strategis yang dilakukan oleh Wali Sanga. Dengan langkah pribumisasi  Islam, Wali Sanga berhasil mengislamkan tanah Jawa, tanpa harus berhadapan dan mengalami ketegangan dengan budaya setempat.