Prinsip Analisa Sejarah Ibnu Khaldun dan Kritiknya Atas Model Tawaran al-Mas’udy

0
166
Prinsip Analisa Sejarah Ibn Khaldun dan Kritiknya Atas Model Tawaran al-Mas'udy

Harakah.id Prinsip analisa sejarah Ibnu Khaldun punya kontribusi besar dalam model analisa historiografi hari ini. Apa yang ditawarkan Ibn Khaldun juga merupakan kritik atas model analisa sejarah yang ditawarkan al-Mas’udy, yang menurutnya terlalu polos dalam melakukan verifikasi data sejarah.

Waliyuddin Abdurrahman Ibnu Khaldun, lahir di Tunisia pada bulan Ramadhan tahun 732H/1332M. beliau merupakan seorang pemikir besar pada masanya. di abad 14 Masehi, Ibnu Khaldun telah mengalami lonjakan pencerahan yang luar biasa dalam menyikapi berbagai fenomena sosial dengan menggunakan metode-metode ilmiah.

Baca Juga: Jejak Ottoman di Pesantren Nusantara, Ketika Kaum Santri Menguasai Bahasa Turki dan Belajar Ilmu Militer Ottoman

Ibnu Khaldun adalah peletak awal filsafat sejarah, yaitu dengan tidak menyikapi nukilan-nukilan sejarah masa lalu dengan “polos”, melainkan menerapkan perhitungan dan pertimbangan logis. Ibnu Khaldun dalam Tarikh Ibnu Khaldun (1/13) menuliskan:

فهو محتاج إلى مآخذ متعدّدة ومعارف متنوّعة وحسن نظر وتثبّت يفضيان بصاحبهما إلى الحقّ وينكّبان به عن المزلّات والمغالط

Artinya: (penulisan sejarah) itu butuh kepada sumber yang beragam dan basis pengetahuan yang bermacam-macam. Ia juga menuntut proses pertimbangan yang tepat dan tekun, dua karakter ini lah yang akan mengantarkan kita pada wawasan sejarah yang benar dan terhindar dari berbagai kekeliruan.

 لأنّ الأخبار إذا اعتمد فيها على مجرّد النّقل ولم تحكم أصول العادة وقواعد السّياسة وطبيعة العمران والأحوال في الاجتماع الإنسانيّ ولا قيس الغائب منها بالشّاهد والحاضر بالذّاهب فربّما لم يؤمن فيها من العثور ومزلّة القدم والحيد عن جادّة الصّدق 

Penulisan sejarah yang semata-mata berpegang pada nukilan terdahulu, tanpa melalui tahapan-tahapan: pertimbangan adat kebiasaan, prinsip-prinsip politik. Karakteristik suatu peradaban, hal ihwal sosial manusia, pemisahan antara materi-materi yang gaib dan nyata, konteks masa lalu dan masa sekarang. Maka penulisan sejarah tersebut tidak akan pernah memberikan berita-berita yang factual dan kredibel. Penelitian sejarah semacam itu tidak akan lepas dari kesalahan, distorsi dan pergesaran dari kenyataan yang sebenarnya.”

Prinsip analisa sejarah Ibnu Khaldun adalah barang baru dan begitu bersinar pada era beliau. Berbagai penulisan sejarah –khususnya di kalangan umat Islam- saat itu memang sangat banyak, sayangnya semuanya semata-mata mengusung prinsip “penukilan polos” tanpa melakukan verifikasi berdasarkan ukuran filsafat. Akibatnya semua catatan sejarah yang dihasilkan selalu memuat materi-materi yang tidak masuk akal. Catatan sejarah yang muncul masih berupa wujud samar-samar, peralihan antara kisah dongeng dan reportase sejarah.

Baca Juga: Syekh Abdur Rauf Al-Sinkili: Sang Mujaddid Evolusioner dari Aceh

Contoh nyata yang disebutkan oleh Ibnu Khaldun misalnya tulisan Ali Ibn Husain Al-Mas’udy (W. 357 H/957 M), seorang sejarawan Islam yang menulis beberapa judul kitab seperti Murujuz Zahab, Akhbaruz Zaman dan At-Tanbih Wal Isyraf. Contoh yang dikutip oleh Ibnu Khaldun dalam kritikan beliau ini adalah reportase Al-Mas’udy dalam At-Tanbih Wal Isyraf (1/170) tentang jumlah tentara Bani Israil di Padang Tiih saat dihitung oleh Nabi Musa a.s. Al-Mas’udy menyebutkan bahwa setelah nabi Musa mengadakan perhitungan, ternyata ada lebih dari 600 ribu orang yang berusia di atas 20 tahun dan layak memikul senjata untuk berperang (melawan Persia). Laporan serupa juga dikutip oleh banyak sejarawan Muslim yang lain.

Menurut Ibnu Khaldun, apa yang dilakukan Al-Mas’udy adalah salah satu (dari sekian banyak) contoh penukilan yang begitu “polos” dalam catatan sejarah, tanpa melakukan  verifikasi logis sedikit pun. Padahal menurut Ibnu Khaldun, banyak faktor verifikasi yang dapat dilakukan untuk nukilan tersebut.

Pertama, apakah jumlah 600 ribu orang itu logis jika membuat perbandingan terhadap luas mesir dan Syiria kala itu? Apakah jumlah 600 ribu tentara sesuai dengan pertimbangan administratif terhadap luas kawasan yang dikuasai oleh entitas politik tersebut? Apakah luas area lokasi pertempuran memungkinkan terjadinya kontak senjata dan serangan dengan konfrontasi jumlah tentara sejumlah itu? bagaimana bisa jumlah tentara Israil kala itu justru lebih banyak dari tentara Persia? padahal notebene-nya persia menguasai wilayah yang lebih luas, belum lagi jika membandingkan dengan hasil akhir perang tersebut yang dimenangkan oleh Persia.

Berbagai tawaran pertanyaan yang diajukan oleh Ibnu Khaldun adalah langkah verifikasi materi dan nukilan sejarah, yang luput dilakukan oleh banyak pencatat sejarah. Ibnu Khaldun telah melakukan perangkat verifikasi yang bervariasi, mulai dari prinsip geografis, kebijakan administrative, politik dan lain-lain terhadap satu konten nukilan sejarah. Inilah kunci tawaran prinsip analisa sejarah Ibnu Khaldun

Prinsip analisa sejarah Ibnu Khaldun jelas-jelas telah mendahului empat abad dari Leopold Von Ranke (1795-1886), orang yang disebut sebagai bapak sejarah kritis modern. Gagasan Ibnu Khaldun juga masih sangat relevan untuk dikaji oleh umat Islam saat ini. Kritik Ibnu Khaldun masih begitu menusuk jika melihat situasi umat Islam yang kadang begitu terpikat pada romantisme sejarah, namun di sisi lain justru malas melakukan penelitan masa lalu yang menerapkan prinsip-prinsip sejarah.

Baca Juga: Lima Ahli Hadis Perempuan Guru Imam Adz-Dzahabi yang Tidak Menikah

Umat Islam juga secara kontras terlihat enggan membuat pemisahan yang tegas antara kisah-kisah fiktif dan mistis dan catatan sejarah yang kritis. Contoh nyata dari hal ini adalah ketika membahas masa lalu para ulama, dimana kisah-kisah keramat yang sulit diukur dengan prinsip sejarah, justru lebih diminati dibandingkan materi-materi biografi lainnya seperti rihlah ilmiah, setting sosial dan karya-karya mereka. Padahal, poin-poin ini lebih dapat dipertanggungkawabkan secara historis.