Prinsip Empat Pilar Aswaja Untuk Medsos Kita yang Lebih Teduh Nan Bersahaja

0
930
Etika Dialog Di Medsos Menurut Syaikh al-Azhar Muhammad Sayyid Tanthawi, Penting Diketahui!

Harakah.idMedia sosial punya dua mata pedang, kadang menguntungkan, kadang juga menimbulkan perpecahan. Untuk mengantisipasi unsur negatif medsos, tidak ada salahnya empat pilar Aswaja dijadikan prinsip. Apa saja empat pilar Aswaja itu? Bagaimana empat pilar Aswaja tersebut dapat berperan dalam menciptakan iklim positif di internet?

Hoaks, provokasi dan agitasi (hasutan) tersebar bak nyamuk di musim penghujan yang dijembatani oleh eksistensi media sosial atau maya. Dengan mudah, kini nilai-nilai negatif yang dapat mengikis moral anak bangsa, tersebar dan menjadi konsumsi publik secara konstan.

Media maya (dumay) yang idealnya menjadi akses memperoleh data dan info yang menyejukkan, berubah keruh dan menjengahkan hati. Ini sebab ulah-ulah oknum tak bertanggung jawab yang memiliki misi konspiratif terhadap bangsa ini. Dengan cara menyemai hasutan, provokasi hingga hoaks-hoaks yang dikemas secara berdata di jejaring maya, misi itu dilancarkan dengan tanpa hambatan apapun.

Dampak yang timbul dari itu secara besar termarjinalkan pada dekadensi moral. Anak bangsa kehilangan akal sehat, sopan santun, validitas informasi bahkan banyak yang rela kehilangan koneksi sosial sebab implikasi informasi maya. Media begitu hebat berperan dalam generalisasi kemerosotan moral.

Baca Juga: Berbagi Nasihat di Media Sosial Itu Dianjurkan, Tapi Perhatikan Syarat dan Adabnya

Seiring dengan hal itu, pemerintah beserta para tokoh yang dianggap memiliki pengaruh besar terhadap lingkungan kini kurang mendapat perhatian dalam hal patron sosial, dampak dari informasi maya. Tabir dunia telah tersingkap dan sekat antar strata tidak lagi bernilai. Dunia maya telah memutus tali hubung kehormatan antara mereka yang berilmu dan manusia awam (baca: netizen). Dumay membuat perasaan awam sederajat dengan para panutan.

Dengan itu, kebebasan yang berlaku di maya dan perasaan strata yang sederajat, netizen bebas melancarkan kata dalam bentuk apapun. Dari hal itu kemudian timbul alibi di mana cacian dikata kritik. Hoaks dimodif sedemikian berdata, seolah-olah valid. Provokasi, agitasi yang muara genuine-nya perpecahan, dialibikan jihad dan sebagainya.

Menanggapi hal itu, rasanya dunia memang sudah senja. Kondisi zaman yang sedemikian menggerahkan ini telah diprediksi Nabi dalam Hadisnya. Nabi menyebut, bahwa akhir zaman nanti akan bertebaran sikap saling merendahkan satu sama lain yang sulit dikendalikan (tufidu al-Li’am faidhan).

Selain itu, Nabi juga menyinggung tentang bagaimana silaturrahmi di akhir zaman sudah tidak mendapat jatah kehormatan. Putus koneksi sosial (qoti’ah ar-Rahim) sangat marak dan sebabnya beragam. Sekarang kita bisa amati bagaimana banyaknya pengguna media sosial yang putus silaturrahim sebab fanatisme yang berlebih dan misinformasi dari dumay. Satu contoh, pilpres kemaren. Tak perlu diperpanjang, pembaca sudah paham.

Usia senja perlu sikap permanjaan agar angin segar kembali menghidupkan suasana diri. Dekadensi (kemerosotan) moral yang berkeliaran di maya, mungkin dapat diatasi dengan moral sosial yang baik. Kali ini saya coba menawarkan alternatif sebagai upaya akomodasi kasus ini.

Aswaja sebagai ajaran Islam yang paling relevan dengan Islam rahmatan lil alamin Nabi Muhammad Saw. memiliki pijakan etika sosial. Kita yakin dengan sepenuhnya, apabila moral ini dipraktekkan oleh para para pegiat awam daya, dekadensi itu akan segera pulih dengan sendirinya.

Sikap sosial Aswaja yang masyhur, yakni tawassuth (moderat), tawazun (berimbang), ta’adul (adil) dan tasamuh (toleransi) perlu digalakkan sebagai asas etis bermedia sosial. Empat pilar Aswaja. Coba kita ulas sisi poin pentingnya.

Pertama, tawassuth. Pilar Aswaja pertama ini merupakan jalan tengah untuk tidak condong ke kiri dan ke kanan. Arti mudahnya, tidak menjunjung tinggi sikap fanatik yang membabi buta. Islam tidak mengajarkan sikap fanatik kecuali terhadap ajaran Islam ala ahlisunnah wal jamah. Fanatik pada ormas, komunitas dan personalitas tidak menjamin kebenaran mutlak, maka itu terbuka terhadap kritik.

Baca Juga: Hadis Palsu Tentang Keutamaan Shalat Tarawih yang Bertebaran di Media Sosial

Dalam media maya, kekeruhan dipicu oleh saling fanatiknya simpatisan golongan, sehingga satu sama lain saling hujam dan menyalahkan. Membela dengan cacian dan makian. Tidak ada keterbukaan dan intropeksi, yang ada klaim-klaim kebenaran mutlak versi nafsu.

Dalam suasana seperti itu, kita perlu peran orang yang bertawassuth agar menjadi pendamai di antara dua kubu. Dua kubu ditengahkan agar tersemai ke dalam lautan ahlak terpuji.

Moral tawassuth hanya bisa diperoleh dengan menyadari bahwa setiap golongan tidak memuat kebenaran mutlak. Ada celah di mana satu komunitas perlu dikoreksi dan dipuji. Keduanya perlu disemai dengan cara yang santun agar lebih mengena hati.

Dengan demikian, pegiat media akan mulai memahami, bahwa media adalah sarana komunikasi terbaik untuk berbagi dan betrsilaturrahmi.

Kedua, tawazun (berimbang). Berimbang artinya menyeimbangkan antara kepentingan duniawi dan ukhrowi. Dapat dikatakan, suhu dumay amat panas jika dikaitkan dengan temperatur moral. Ini antara lain dilatarbelakangi oleh muara kepentingan masing-masing komunitas.

Media maya sesak dengan kepentingan-kepentingan oknum, kelompok maupun bisnis. Bisnis itu pun bermacam-macam. Ada yang secara terang berbisnis materi, ada juga yang bisnis materi tapi berlabel agama. Bahasa kerennya “komodifikasi agama” yakni memanfaatkan agama sebagai promosi bisnis.

Netizen perlu disadarkan dengan segera bahwa banyak orang yang berkepentingan untuk mencari nafkah dengan menjual label agama di maya. Label agama kaprah dipakai, sebab sentimen ini berada pada nomor wahid yang diminati warga Indonesia.

Mereka tak memperdulikan nasib masyarakat yang saling bertabrakan di maya. Hal intim yang diutamakan adalah banyaknya pengunjung media ber-iklan yang dikelola dan di dalamnya termuat produk bisnis, yang dihadapkan dengan produk lain, kemudian ditonjolkan sesuatu yang lebih unggul dengan balutan agama.

Netizen harusnya memahami dan menyadari tentang hal ini. Informasi atau kabar yang dilaporkan kanal bisnis tidak sepenuhnya dipercaya. Pendeknya: mereka yang berkepentingan duniawi menghalalkan segala cara demi memperbanyak laba bisnis, tak terkecuali dengan menabrakkan sesama anak bangsa.

Satu hal yang perlu saya tekankan di sini adalah media maya bukan tempat beradu bisnis yang tak beretika. Kepentingan duniawi para pebisnis maya harusnya diimbangi dengan unsur-unsur ukhrowi.

Tentu kita yakin sepenuhnya, bahwa seluruh masyarakat nusantara memeluk agama dan kita yakin pula setiap agama mengajarkan kebaikan, termasuk sisi kehidupan pasca dunia.

Sebagai pemeluk agama, sudah selayaknya kita semua memikirkan nasib kehidupan pasca. Kita perlu mencari nafkah dunia, ya, tapi jangan sampai buta dan mehilangkan sisi spiritual. Saya kira dengan menyeimbangkan dua kepentingan itu, keniscayaan untuk timbulnya dunia maya harmonis akan mudah terwujud.

Ketiga, ta’adul (adil). Adil maknanya tidak berat sebelah, sama berat dan tidak memihak. Peribahasa yang terkenal: katakanlah yang benar walau itu pahit. Perlu dicatat bahwa sikap keadilan harus disampaikan dengan etika yang santun. Walau sepahit apapun kebenaran itu ditelan masyarakat, cara penyampaiannya tetap wajib santun.

Fakta maya membuktikan sikap fanatik pegiatnya yang berdalih membela kebenaran masih banyak yang keliru. Kebenaran dibela dengan cacian dan makian. Kata sebagian mereka: harus disampaikan walau itu pahit.

Begini rumus peribahasa di atas yang benar: membela yang benar dan layak. Benar belum tentu layak, dan layak belum tentu benar. Serta perlu sharing sebelum sharing.

Kebenaran belum tentu layak dipublikasikan. Bisa saja kebenaran itu memancing emosi pada kawan maya lain, sehingga kebenaran itu perlu kita simpan demi menjaga hubungan sosial. Bukan karena takut menumpahkan kebenaran di muka umum.

Kita tetap yakin kebenaran itu ada, tapi juga perlu pertimbangan situasi, kondisi, objek dan tempat. Berapa banyak kebenaran yang disuarakan, kemudian berujung konflik? Sudahlah, kita sudahi konflik yang berhamburan yang diatasnamakan kebenaran.

Sesuatu yang baik juga belum tentu benar. Semua perlu disaring sebelum di-sharing. Sharing kabar dari maya, pilih-pilah sisi yang baik dan buruk, kemudian sharing poin yang dapat menimbulkan kesejahteraan umum. Dengan prinsip seperti inilah kita ingin hidup, kan?

Keempat, tasamuh (toleransi). Menghargai perbedaan. Dengan menghargai perbedaan pendapat, akan tercipta kondisi yang sejuk dalam keberagaman.

Sekali lagi, perlu dicanangkan bahwasannya kebenaran persepsi manusia tidak bersifat mutlak, absolut. Kebenaran versi kita bisa saja salah versi orang lain dan sebaliknya. Perbedaan persepsi semacam ini bukan menjadi sumber perpecahan.

Dalam Islam, perpecahan dan perbedaan adalah hal yang tak sama. Perpecahan adalah keinginan setan sedangkan perbedaan adalah keindahan. Bukankah kita lebih senang melihat baju dengan berbagai macam motif daripada hanya satu motif? Indah, bukan?

Berbeda tapi satu tujuan. Kita bisa menuju tempat dengan jalan yang kita tahu, tapi tak lantas menafikan beda jalan yang diketahui orang lain. Media maya adalah tempat aspirasi publik dan aspirasi itu berbeda-beda. Bukan karena satu dengan yang lain bermusuhan tapi lebih pada kepentingan dan latar alasan yang berbeda pula.

Empat pilar Aswaja itu, bila diterapkan pelan-pelan, secara pasti kembali membuka ruang maya sebagai wadah jalinan komunikasi yang baik. Semuanya bisa menetralisir ataupun mengeliminasi secara total kekeruhan di dunia medsos dan secara otomatis amar ma’ruf nahi mungkar dapat teramalkan dengan sendirinya tanpa melibatkan kontak fisik.

Di situlah Aswaja membuktikan bahwa Islam rahmatan lil alamin akan membawa sesuatu yang awalnya keruh menjadi pulih dan jernih kembali. Sekali lagi, semua perubahan itu berawal dari diri sendiri. Kita semua rindu dengan dunia sosial yang penuh kedamaian. Kapan itu terwujud lagi? Wallahu a’lam.