Beranda Kolom Prinsip-Prinsip Serta Spirit Dasar Fikih Siyasah Menurut Al-Ghazali: Mengaji Tibrul Masbuk Fi...

Prinsip-Prinsip Serta Spirit Dasar Fikih Siyasah Menurut Al-Ghazali: Mengaji Tibrul Masbuk Fi Nasihatil Muluk

Harakah.idTibrul Masbuk fi Nasihatil Muluk adalah kitab yang ditulis oleh al-Ghazali. Ia berisi panduan, konsep, prinsip serta spirit dasar dalam fikih siyasah. Berikut ulasannya…

Artikel ini merupakan catatan atas kitab Tibrul Masbuk fi Nasihatil Muluk karya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Selain “Al-Ahkamus Shulthoniyyah” karya al-Mawardi, kitab al-Ghazali tersebut adalah salah satu kitab rujukan bagi konsep fiqih siyasah di Nusantara.

Kitab Tibrul Masbuk fi Nasihatil Muluk awalnya merupakan sebuah risalah yang al-Ghazali tujukan kepada Muhammad bin Malik Syah, salah seorang sultan kerajaan Turki Saljukiyah. Ditulis dalam bahasa Persia dan kemudian dialihkan ke dalam Bahasa Arab oleh salah seorang muridnya Ali Mubarak bin al-Mawhub.

Secara umum, kitab ini berisi persoalan-persoalan terkait kekuasaan dan role model konsep keadilan yang semestinya dimiliki oleh seorang pemimpin. Menurut Gurutta Ahmad Baso, kitab Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk menjadi inspirasi sistem perpolitikan di Nusantara, khususnya dalam hal pendasaran normatif atas tradisi Aswaja, pengakuan cara kerja nalar politik dan persemaian ide-ide keadilan yang menjadi ruh kepemimpinan politik; seluruhnya terangkum dalam aturan main bersama berupa sistem politik-kenegaraan.

Dalam pendahuluan kitab, al-Ghazali menegaskan kepada sultan bahwa secara personal dirinya adalah hamba Allah, dzat yang merupakan sebenar-benarnya penguasa. Maka untuk mengisi inti kepemimpinan seorang sultan, iman dan taat adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat diabaikan dan harus diperhatikan.

Oleh karena itu, ritual dan sikap penghambaan harus senantiasa ditunjukkan oleh seorang pemimpin kepada Tuhannya, minimal sekali seminggu ketika Jum’at tiba. Berpuasa, berdzikir, mendengar dan membaca al-Qur’an, bershalawat kepada Nabi dan bersedekah merupakan beberapa kegiatan yang hendaknya dilakukan seorang pemimpin di hari Jum’at. Hari Jum’at, bagi al-Ghazali, merupakan waktu yang tepat untuk mengisi kembali ruh kehambaan seorang pemimpin sebagai kontrol bagi segenap letupan aroganisme dan hedonisme politis yang biasa menangkup dalam diri seorang pemimpin.

Kita mungkin harus bertanya lagi, mengapa hari Jumat? “Karena ia adalah sayyidul ayyam,” tutur al-Ghazali. Ia adalah hari yang paling tepat bagi sultan untuk menengadahkan tangan dan mentanahkan sujudnya kepada Tuhan. Kondisi penghambaan dan ketertundukan sultan pada Tuhan sebagai pusat transendentalitas adalah titik kekosongan yang memberi ruang baginya untuk memaknai kembali eksistensi berikut seluruh pernak kekuasaan yang tersangku di atas tangannya.

Momentum psiko-mentalitas semacam ini, pada tahap selanjutnya, akan melahirkan kejernihan dalam melihat persoalan sekaligus meningkatkan daya kepekaannya sebagai seorang penguasa. Maka, tepat pada waktu shalat Jum’at, ketika sang pemimpin berada dalam satu ruku’ bersama rakyatnya, dia mampu menyerap seluruh kegelisahan yang terpancar dari gerak tubuh dan raut wajah mereka yang shalat di kanan dan kirinya.

Maka tidak butuh waktu yang lama bagi seorang sultan, dalam kondisi semacam ini, untuk bisa merasakan dan menimbang-nimbang apakah keadilan sudah didistribusikan dan mengejawantah mewujud kesejahteraan bagi tukang becak dan penjual rujak yang menepi di kanan-kirinya? Selain alasan spiritualitas, Hari Jumat secara otomatis juga akan menjadi semacam momen re-orientasi bagi seluruh keputusan dan kebijakan yang akan ditelurkan.

Al-Ghazali lalu membagi dua konsep hirarkis dalam pohon etika politik Islam yang diusungnya; al-aslu dan al-far’u. Sepuluh asal yang menjadi pondasi, sepuluh cabang yang menjadi rangka praksisnya. Kekuatan dahan dan cabang menunjukkan kekuatan akar, sebaliknya, keretakan dahan dan cabang merupakan indikasi rapuhnya akar dan kemampuan untuk menyerap humus.

Sepuluh usul al-Ghazali isi dengan konsep-konsep keimanan kepada Tuhan; ashlul iman, tanzihul khaliq, fil qudrah, fil ‘ilm, fi annahu sami’un wa bashir, fil kalam, fi af’alihi ta’ala, fi dzikril ahirah, fi dzikri rasulillah saw. Bagi al-Ghazali, seorang pemimpin harus meneguhkan kesepuluh tata nilai tersebut sebagai dasar spiritualitas serta menagahnya sebagai lokus kontrol etis bagi segenap potensi letusan yang biasa terjadi dalam diri seorang pemimpin; letusan-letusan yang seringkali menjadi awal kehancuran bagi seluruh bangunan eko-sospol yang dipanggul di atasnya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...