Prioritas dalam Islam: Memahami Perkara yang Afdhal dan Mafdhul

0
24

Harakah.idSebagian umat Islam kurang memahami betul konsep afdhal dan mafdhul. Padahal, memahami dan mendudukkan perkara yang afdhal dan mafdhul adalah sangat penting. Inilah konsep prioritas dalam Islam

Konsep prioritas dalam Islam sebenarnya sangat dikenal dalam ajaran Islam. Sayangnya, banyak yang belum memahaminya secara maksimal. Di sini, agaknya dapat ditemukan alasan mengapa ada banyak umat Islam tidak berfikir efektif. Berikut ini adalah konsep prioritas dalam Islam, sebagaimana diulas oleh Ust. Abdullah Al-Jirani, khususnya dalam kasus hukum fikih. Inilah ulasan beliau:

Asalnya, kita dianjurkan untuk mengamalkan perkara yang afdhal (lebih utama) dari perkara yang mafdhul (kurang utama). Sekali lagi dianjurkan, bukan diwajibkan. Kalau pun seorang mengamalkan perkara yang mafdhul (kurang utama) maka boleh-boleh saja. Karena dia hanya pindah dari yang afdhal ke mafdhul, bukan dari halal ke haram, atau dari sunah ke bid’ah. Namun, ada kalanya dalam situasi dan kondisi tertentu, “perkara yang kurang utama akan menjadi menjadi lebih utama”.

Sebagai contoh masalah liang kubur. Dalam hal itu ada dua pilihan, pertama lahad, yaitu liang yang digali dari atas ke bawah, lalu bagian dasarnya digali serong ke arah kiblat (barat) untuk tempat jenazah. Dan kedua syaq, yaitu liang yang digali dari atas ke bawah saja, lalu jenazah diletakkan di dasarnya. Pada asalnya liang lahad lebih utama dari syaq. Hal ini berdasarkan hadis Nabi ﷺ :

اللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُّ لِغَيْرِنَا

“Liang lahad untuk kami (umat muslim) dan syaq untuk selain kami.”(HR. Abu Dawud)

Namun, kaidah ini tidaklah berlaku mutlak. Di suatu kondisi tertentu, syaq bisa lebih utama dari lahad, seperti ketika tanahnya lembek. Karena jika pakai lahad, dikhawatirkan akan longsor. Hal ini dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i (w.974 H) rahimahullah :

أَمَّا فِي رِخْوَةٍ فَالشَّقُّ أَفْضَلُ خَشْيَةَ الِانْهِيَارِ

“Adapun di tanah yang lembek, maka syaq lebih utama (dari lahad) karena (jika pakai liang lahad) dikhawatirkan longsor.” (Tuhfatul Muhtaj : 3/168).

Contoh yang lainnya masih banyak, di antaranya :

Salat sunah afdhalnya dilakukan di rumah. Tapi jika ada yang melakukannya di masjid, maka boleh saja. Jika ada situasi dan kondisi yang menuntut kepada hal tersebut, maka lebih boleh lagi, bahkan menjadi lebih utama. Misalkan rumahnya agak jauh dari masjid, sementara waktu itu ada kajian di masjid tersebut. Jika pulang dulu untuk salat sunah rawatib, sangat mungkin ketinggalan. Maka dalam kondisi seperti ini, menunaikan salat sunah di masjid menjadi lebih utama daripada di rumah.

Memanjangkan bacaan Al-Qur’an ketika jadi imam, lebih afdhal dari memendekkannya. Membaca surat yang pendek-pendek juga boleh. Tapi jika dirasa akan memberatkan makmum atau akan menimbulkan fitnah, maka lebih afdhal untuk memendekkannya.

Berzikir dengan tangan lebih afdhal dari memakai biji tasbih. Berzikir dengan biji tasbih juga boleh. Namun jika seorang merasa kurang bisa istiqamah bila berzikir dengan tangan, atau sering salah hitungannya, maka memakai biji tasbih menjadi lebih utama.

Salat di masjid yang jauh dari rumah kita dalam kondisi jamaahnya banyak, lebih afdhal dari yang di masjid dekat rumah kita yang jamaahnya sedikit. Tapi jika salat di masjid yang jamaahnya banyak tersebut akan menimbulkan sepinya masjid yang jamaahnya sedikit, maka dalam kondisi seperti ini lebih afdhal untul salat di masjid yang dekat dengan rumah kita walaupun jamaahnya sedikit.

Dan masih ada contoh-contoh yang lainnya yang tidak dapat kami sebutkan semuanya.

Perkara yang afdhal jangan diperlakukan seolah-olah perkara yang wajib. Sehingga ketika ada seorang yang tidak melakukannya, dalam arti ia mengamalkan perkara yang mafdhul (kurang afdhal), disikapi seolah sedang melakukan perkara yang haram. Minimal dianggap tercela. Ini tidak dibenarkan sama sekali. Mengamalkan perkara mafdhul (kurang utama) itu dibolehkan, bahkan bisa menjadi lebih utama dari perkara yang afdhal itu sendiri dalam situasi dan kondisi tertentu. Wallahu a’lam bish shawab.