Proyek Membuka Kembali Pintu Ijtihad Muhammad Abduh

0
21

Harakah.idMuhammad Abduh adalah seorang pemikir pembaharu Islam yang sangat berpengaruh di dalam sejarah pemikiran Islam.

Ijtihad. Saya akan mereview Jurnal “The Contribution of the Modernists to the Secularization of Islamic Law”. Tapi saya ingin memberi konteks terlebih dahulu. Realitas sejarah menunjukan bahwa dunia Islam jatuh ke tangan penjajah pada abad ke-18. Kedatangan mereka ke dunia Islam bukan hanya sekedar menjajah dalam arti fisik, tetapi juga secara kultural. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan mereka jauh lebih berkembang daripada kebudayaan umat Islam ketika itu, sehingga mereka dengan mudah dapat menguasai dunia Islam.

Dengan ketinggalannya umat Islam dengan dunia Barat tersebut, menimbulkan kesadaran dari beberapa tokoh ulama Islam. Mereka mulai mengemukakan pandangan dan ide-idenya. Salah satu tokoh yang gencar dalam mengemukakan ide-idenya adalah Muhammad Abduh. Muhammad Abduh adalah seorang pemikir pembaharu Islam yang sangat berpengaruh di dalam sejarah pemikiran Islam. Pemikirannya membawa dampak yang signifikan dalam berbagai tatanan kehidupan pemikiran masyarakat seperti aspek penafsiran al-Qur`an, pendidikan, sosial masyarakat, politik, peradaban dan lain sebagainya.

Muhammad Abduh mengatakan bahwa pembaruan teologis didasari oleh tiga hal, yaitu kebebasan manusia dalam memilih perbuatan, kepercayaan yang kuat terhadap sunnah Allah, dan fungsi akal yang sangat dominan dalam menggunakan kebebasan. Tulisan ini akan membahas bagaimana ide-ide pemikiran Muhammad Abduh sebagai kaum modernis yang ingin membentuk kembali doktrin Islam sehingga dapat menyesuaikannya dengan tuntutan masyarakat modern.

Syekh Muhammad Abduh, yang memiliki nama lengkap Muhammad bin Abduh bin Hasan Kairullah, lahir di desa Muhallat Nashr, Kabupaten al-Buhairah, Mesir pada tahun 1265 Hijriah atau 1849 Masehi. Ia adalah seorang pemikir, teolog, dan pembaharu dalam Islam di Mesir yang pemikiran-pemikirannya sangat berpengaruh dan banyak dikutip orang hingga saat ini.

Muhammad Abduh berasal dari keluarga petani yang sederhana, namun taat beragama dan cinta akan ilmu. Ayahnya bernama Abdul bin Hasan Khairullah, yang berasal dari Turki dan telah lama tinggal di Mesir. Sedangkan ibunya berasal dari bangsa Arab yang silsilahnya sampai kepada Umar bin Khattab.

Abduh mengawali pendidikannya dengan belajar membaca, menulis, dan membaca al-Qur`an kepada ayahnya di rumah. Dalam jangka waktu dua tahun, Abduh mampu menghafal seluruh ayat al-Qur`an. Kemudian pada usia 14 tahun ia dikirim oleh ayahnya ke Tanta untuk belajar di Masjid al-Ahmadi. Namun setelah dua tahun belajar, ia merasa bosan karena sistem pengajarannya memakai metode hafalan. Abduh pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke Mahallat Nashr.

Pada tahun 1869-1877 Abduh melanjutkan pendidikannya di al-Azhar dan ia mendapat peringkat “alim”. Di sanalah ia bertemu dengan Jamaluddin al-Afghani yang darinya ia belajar logika, filsafat, teologi, dan juga tasawuf. Bersama-sama dengan al-Afghani, ia mulai melakukan advokasi untuk menyadarkan bangsa Mesir dan umat Islam pada umumnya agar tidak tinggal diam ketika haknya dirampas. Hal ini dikarenakan pada masa itu, Islam sedang mengalami kemunduran dan sedang dicabik-cabik oleh penjajah.

Karena hal inilah, Abduh dibuang dari kota Kairo karena dituduh turut berperan dalam gerakan Khadowi Taufik. Namun pada tahun 1880, ia diperbolehkan kembali ke Mesir dan diangkat menjadi redaktur surat kabar resmi pemerintah Mesir. Namun pada akhir tahun 1882, ia lagi-lagi dibuang. Kali ini ia dibuang ke luar negeri karena keterlibatannya dalam revolusi (pemberontakan) Urabi Pasya. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke Beirut.

Pada tahun 1888, sekembalinya ia dari pembuangan, Abduh memulai kembali aktivitasnya. Pada tahun 1899 Abduh diangkat menjadi Mufti Mesir, suatu jabatan resmi penting di Mesir dalam menafsirkan hukum syari`at untuk seluruh Mesir. Di tahun yang sama juga, ia diangkat menjadi anggota Majelis Syura.

Pada tanggal 11 Juli 1905, Muhammad Abduh menghembuskan nafas terakhirnya di usianya yang ke 56 di Ramleh Iskandariah ketika dalam perjalanan mengunjungi negara-negara Islam. Ia pun dimakamkan di Mesir setelah disholatkan di Masjid al-Azhar.

Beberapa karyanya yang terkenal adalah Durus min al-Qur`an, Risalah al-Tauhid, Hasyiyah `Ala Syarh al-Dawani li al-`Aqaid al-Adudiyah, al-Islam wa al-Nasraniyah, Tafsir al-Qur`an al-Karim Juz `Amma, dan Tafsir al-Manar yang kemudian diselesaikan oleh muridnya Syekh Muhammad Rasyid Ridha.

Pemikiran-Pemikiran Muhammad Abduh

Muhammad Abduh adalah seorang pemikir pembaharu Islam yang sangat berpengaruh dalam sejarah pemikiran Islam. Pemikirannya membawa dampak yang signifikan dalam berbagai tatanan kehidupan pemikiran masyarakat seperti aspek penafsiran al-Qur`an, pendidikan, sosial masyarakat, politik, peradaban dan lain sebagainya. Ia berusaha untuk mengadakan pembaharuan dengan mengajak kembali kepada ajaran Islam, mengkajinya dengan jernih dan kemudian menafsirkannya kembali (reinterpretasi) pemahaman agama itu secara kritis.

Tujuan utama Muhammad Abduh adalah untuk membentuk kembali doktrin Islam sehingga dapat menyesuaikannya dengan tuntukan masyarakat modern, sehingga ajaran Islam benar-benar mampu diaktualisasikan dalam perkembangan zaman yang selalu berubah. Karena itulah Muhammad Abduh dianggap sebagai bapak peletak aliran modern dalam Islam.

Di antara pemikiran Muhammad Abduh antara lain :

  • Menyempurnakan Doktrin Takhayyur dan Talfiq

Maksud dari takhayyur adalah memilih pandangan salah satu ulama fikih (termasuk ulama di luar madzhab) seperti pandangan Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dan lainnya.

Sedangkan talfiq adalah mengkombinasikan sejumlah ulama (dua atau lebih) dalam menetapkan suatu masalah.

Muhammad Abduh mengatakan bahwa dalam hal-hal yang berkaitan dengan muamalah (hubungan antara manusia dengan sesamanya) para ulama diminta untuk mempersiapkan kumpulan undang-undang yang kompherensif dan tidak hanya berdasarkan madzhab Hanafi saja tetapi juga berdasarkan madzhab lain yang mungkin diperlukan atau diinginkan secara sosial. Menurutnya, hal semacam ini akan mencapai kesempurnaan, karena perbedaan antar madzhab merupakan anugerah bagi ummat.

Abduh juga mengatakan bahwa pada saat ini adalah bukan waktu yang tepat untuk berfanatik terhadap satu madzhab. Menurutnya, kumpulan hukum yang tertata secara baik dan disajikan dengan jelas dapat membantu individu pribadi yang sulit memahamai seluk-beluk syariat karena adanya kontradiksi.

Ide-ide pembaruan teologis yang disebarkan oleh Muhammad Abduh didasari oleh 3 hal, kebebasan manusia dalam memilih perbuatan kepercayaan yang kuat terhadap sunnah Allah, dan fungsi akal yang sangat dominan dalam menggunakan kebebasan.

  •  Memperluas Cakupan Doktrin Siyasah Syar`iyyah

Siyasah syar`iyyah adalah kebijakan penguasa untuk menerapkan peraturan yang bermanfaat bagi rakyat dan tidak bertentangan dengan syariah. Menurut doktrin tradisional, penguasa dapat membuat peraturan administratif untuk kepentingan umum asalkan tidak ada penghinaan substantif dari syaria. Namun kenyataannya, peraturan semacam ini dapat menyebabkan taqlid, dan kepatuhan yang tak terpisahkan terhadap doktin tersebut.

Kaum modernis sangat memperluas penerapan prinsip ini. Menurut Muhammad Abduh, diantara rekomendasi lain untuk reformasi dalam sistem ini adalah dengan adanya dokumen tertulis. 

  • Positivasi Hukum Agama

Kaum modernis ingin memberikan karakter positif yang mengikat pada ketentuan etis dari sumber-sumber tekstual dan dengan demikian mengubah salah satu kekhasan dasar hukum Islam. Contoh yang paling menonjol adalah penafsiran modernistik dari ayat-ayat poligami Al-Qur’an (Surat 4:3 dan 129). Penafsiran Ortodoks membatasi tugas suami untuk perlakuan yang sama terhadap istrinya pada hal-hal yang mampu diukur secara mekanis, seperti pemeliharaan, yang mencakup tugas-tugas tempat tinggal dan suami-istri, sementara masalah sentimen (mayl al-qalb), tidak mampu melakukan pengukuran semacam itu, diserahkan kepada hati nurani individu dan hanya tunduk pada aturan etika. Kaum modernis ingin melarang poligami dengan ketentuan positif yang mengikat dengan alasan bahwa manusia biasa tidak dapat diharapkan untuk memperlakukan istrinya secara setara dalam hal sentimen.

  • Pembukaan Kembali Pintu Ijtihad

Kaum modernis menuntut agar pintu ijtihad harus dibuka kembali. Hal ini dikarenakan kaum modernis ingin menyingkirkan beban taqlid yang menindas. Beberapa mekanisme ijtihad baru yang diajukan oleh kaum modernis antara lain :

  • Pelembagaan Ijtihad

Para kaum modernis ingin mengadakan lembaga ijtihad. Maksudnya adalah bahwa para ulama, fuqaha, dan terutama mufti harus berpandangan dengan otoritas ilmiah prinadi mereka sendiri dan tidak hanya berdasarkan oleh pemerinyah saja.

  • Pelembahaan Ijma`

Kaum modernis berusaha untuk mengubah ijma` menjadi instrument utama untuk pembarusan hukum agama. Karena menurut mereka adalah mungkin di zaman ini untuk mengumpulkan semua mujtahid yang hidup dari seluruh dunia Muslim di suatu tempat untuk tujuan menerapkan ijma` yang tidak mungkin dilakukan pada zaman para pendiri madzhab.

  • Prinsip Maslahah

Kepentingan umum (maslahah) menjadi sumber hukum tersendiri sejauh tidak bertentangan dengan syara`. Selain itu, mungkin dalam keadaan tertentu (diluar ibadah) maslahah dapat mengesampingkan ketentuan tegas dari sumber-sumber tekstual.

Prinsip maslahah mendasari reformasi Abduh dalam hal perkawinan. Menurutnya, tuntutan untuk melarang poligami dengan argumen akan adanya ketidakadilan lebih disukai daripada akibat yang akan timbul darinya. Selain itu, Abduh juga membenarkan perceraian atas inisiatif istri, dan ia juga berpendapat bahwa syariat tidak menentang kemajuan perempuan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan semakin berkembangnya zaman, semakin terlihat pula perubahan-perubahan yang signifikan. Selain itu, dengan zaman yang semakin modern juga menyebabkan kebutuhan-kebutuhan manusia bertambah, baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan rohani. Banyak peraturan atau hukum-hukum yang harus dibenahi karena sudah tidak relevan dengan zaman sekarang. Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya`qub mengutarakan dalam bukunya Cara Benar Memahami Hadis, bahwa untuk memahami eksistensi dari suatu hadis diperlukan adanya pendekatan-pendekatan tertentu.

Pemikiran Muhammad Abduh yang menginginkan untuk membentuk kembali doktrin Islam sehingga dapat menyesuaikannya dengan tuntukan masyarakat modern, bagi saya tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah juga.

Muhammad Abduh adalah seorang ulama yang sangat mengedepankan akal dan kebebasan. Karena dalam salah satu pendapatnya mengatakan bahwa dalam hal muamalah, seseorang diperkenankan untuk memilih pendapat ulama manapun. Islam memang agama Rahmatan lil `Alamin dan tidak pernah menyusahkan pemeluknya. Namun jika kebebasan semacam ini dibebaskan, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadinya perpecahan di suatu masyarakat tertentu.

Indonesia adalah termasuk negara yang mayoritas muslim. Jika ide dari Abduh diimplementasikan di negeri ini, yaitu dengan positivasi hukum agama, lantas bagaimana dengan nasib orang non-muslim yang ada di Indonesia? Apakah mereka bisa menerima keputusan tersebut? Tentulah hal ini akan menyebabkan konflik yang berkepanjangan dan tidak berkesudahan. Dalam Islam mengenal adanya maslahah. Jika dengan positivasi hukum agama, masyarakat menjadi terpecah, maka lebih baik dengan mengikuti peraturan yang sudah disepakati bersama namun selama peraturan tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Muhammad Abduh memiliki cara yang unik dalam menafsirkan al-Qur`an, yaitu dengan cara mengadakan pembaharuan dengan mengajak kembali kepada ajaran Islam, mengkajinya dengan jernih dan kemudian menafsirkannya kembali (reinterpretasi) pemahaman agama itu secara kritis. Salah satu contohnya adalah penafsiran modernistik dari ayat-ayat poligami Al-Qur’an (Surat 4:3 dan 129).

Ulama lain menafsirkan ayat tersebut bahwa seorang laki-laki diperbolehkan menikahi maksimal empat perempuan namun dengan syarat ia dapat berlaku adil kepada semua istrinya. Berbeda dengan Muhammad Abduh yang melarang adanya poligami. Ia mengatakan bahwa seorang suami hanya dapat bersikap adil dalam hal materi saja tetapi tidak akan bisa bersikap adil dalam hal sentimen. Karena itulah poligami harus dilarang karena mudharat yang ditimbulkan lebih besar daripada maslahat yang ada.

Penulis artikel “Proyek Membuka Kembali Pintu Ijtihad Muhammad Abduh” adalah Dini Nurkhofifah, Mahasiswi Darus Sunnah International Institute for Hadith Sciences, Jakarta.