Beranda Keislaman Hikmah Puasa dan Berpikir Harus Dilakukan Secara Bersamaan untuk Melawan Nafsu Setaniah

Puasa dan Berpikir Harus Dilakukan Secara Bersamaan untuk Melawan Nafsu Setaniah

Harakah.id – Berpuasa dan berpikir adalah dua hal yang harus dilakukan secara beriringan ketika seseorang betul-betul ingin menundukkan hawa nafsu dan kecenderungan setaniahnya.

Ada perbedaan mendasar antara “bodoh” dan “tidak berpikir”. Bodoh merupakan simbol bagi sejenis pengetahuan yang belum terpetakan sesuai dengan skema dan struktur pengetahuan “resmi”, “akademik” dan “ilmiah”; satu bangunan pengetahuan yang memproduksi simbol “pintar” sebagai lawan katanya. “Bodoh” juga lahir dari subyektifitas simbolik yang biasanya sarat stigma. Dengan kata lain, walaupun asing dan tidak diakui secara struktur pengetahuan “pintar” yang baku, “bodoh” adalah sejenis mekanisme berpikir. Atau begini deh, “bodoh” adalah anak haram pengetahuan yang liar, tak terdisiplinkan dan tak diakui.

Ketika ada seseorang disebut bodoh, maka maknanya tidak selalu mengarah pada soal bahwasanya ia tidak berpikir. Tapi lebih kepada penyematan bahwa pengetahuan atau cara berpikirnya tidak terkategorikan dalam satu mekanisme berpikir yang mayor dan dominan diterapkan oleh banyak orang. Penyematan kata “bodoh” oleh seseorang untuk orang lain juga berarti ketidakmampuan seseorang memetakan pengetahuan orang lain dalam satu tatanan yang lebih resmi. Maka kesimpulannya, “bodoh” masih meniscayakan adanya penerapan mode berpikir walaupun random dan tanpa struktur.

Ketika “bodoh” masih memungkinkan terjadinya proses berpikir, maka “tidak berpikir” justru sebaliknya, ia mengandaikan satu proses keterhentian berpikir. Tidak berpikir adalah negasi dari berpikir. Ketidakberpikiran adalah momentum kala seseorang menghentikan dan menonaktifkan fungsi kognitifnya dan menolak untuk mempertimbangkan segala hal. Tidak ada proses kategorisasi, analisis, validasi, verifikasi dan pengujian-pengujian manthiqi-empirik lainnya.

Meskipun dalam bentuk dan karakter yang berbeda, keduanya merupakan pintu masuk dan sumber kebangkitan hasrat setaniah dalam diri manusia. Kriminalitas, kejahatan, keburukan dan seluruh tindak laku yang tergolong perbuatan maksiat bisa lahir dari keduanya. Kalau kita amati, munculnya keburukan, dorongan untuk melakukan jahat dan maksiat dalam diri manusia adalah bukti kekalahan akal dan pikiran manusia dalam mengantisipasi usul karakternya yang paling binatang. Ia lahir dari lumpuhnya pikiran sebagai entitas penimbang dan penilai. “Bodoh” dan “tidak berpikir” melahirkan bentuk kekalahan semacam apa yang terjadi.

Bagi Hannah Arendt, salah seorang filosof Yahudi yang terkenal melalui bukunya The Origins of Totalitarianism, “kebodohan” tidak melahirkan kejahatan dan keburukan sebrutal apa yang dilahirkan oleh “ketidakberpikiran”. Amatannya terhadap gaya berbicara dan raut wajah Adolf Eichmann ketika menjawab beragam gugatan yang dituduhkan kepada dirinya dalam pengadilan tinggi Israel yang diselenggarakan tahun 60-an, menunjukkan adanya ketidakberesan Eichmann dalam berpikir. Ia tidak bodoh, tapi justru “tidak berpikir”.

Sebagai kepala deportasi dan urusan pembasmian Yahudi bagian Eropa Timur, Eichmann hanya mengulang-ngulang jawaban “aku hanya mengikuti perintah”, “aku hanya mengikui komando” ketika merespon gugatan-gugatan yang dilancarkan padanya. Ia juga selalu memposisikan dirinya sebagai orang yang tidak bersalah karena ia memang tidak melanggar apa-apa. Justru, menurut pengakuannya, ia adalah orang yang taat aturan. Tidak ada aturan dan komando perintah yang tidak dia kerjakan. Wajahnya tidak memperlihatkan penyesalan.

Eichmann adalah manusia yang lahir, hidup dan dibentuk dalam dan oleh rantai komando. Hirarki komando inilah yang melumpuhkan daya berpikirnya sebagai seorang manusia dan menyebabkanya tidak mampu untuk mempertimbangkan soal nilai dan norma. Bagi Eichmann, kejahatan sebrutal apapun, ketika ia datang dalam bentuk perintah dan komando, ya kerjakan! Biasa aja… Tidak ada penyesalan di dalamnya.

Bahkan dalam introgasi panjang sesaat setelah Mossad menculiknya di Argentina, Eichmann ditanya apa yang paling dia sesali selama ini. Jawabannya mengagetkan sekaligus menakutkan. Eichmann menjawab bahwa yang paling dia sesalkan sampai saat itu adalah bahwa ia tidak mampu mencapai kedudukan dan jabatan lebih tinggi di SS NAZI. Bahkan dengan raut tanpa dosa, Eichmann memohon kepada Mossad untuk mempertimbangkan kembali prestasi-prestasi militer yang selama ini sudah dilakukannya dan mengangkat jabatan militernya berdasarkan daftar prestasi tersebut. Dalam bukunya Eichmann in Jerusalem, Hannad Arendt menyebut fenomena berpikir semacam ini dengan istilah “The Banality of Evil”.

Keluguan setaniah atau The Banality of Evil adalah fenomena kelumpuhan total proses berpikir seseorang. Keluguan tersebut melahirkan jenis kejahatan tanpa penyesalan. Dengan keluguan tersebut, seseorang akan berbuat buruk, melakukan kejahatan dan mengerjakan kemaksiatan karena memang kekosongan berpikir akan tatanan nilai yang ada. Nalarnya tak mampu memilah dan menyerap norma. Kediriannya hilang dalam rantai komando dan instruksi pimpinan. Kecenderungan setanian semacam ini tak kenal apapun. Seluruhnya aka diterabas demi hal yang hendak dituju. Dia tidak akan mendengarkan apapun, melihat apapun dan menilai apapun. Kejahatan dan keburukan yang dilakukannya berakhir tanpa penyesalan. Kepuasan mentaati hasrat adalah puncak spiritualitas manusia-manusia yang mengidap penyakit “ketidakberpikiran” semacam itu.

Dari spektrum semacam ini, kita pun bisa menyimpulkan bahwa cara utama menundukkan hawa nafsu dan mengendalikan sifat-sifat setaniah serta kebinantangan kita sejatinya adalah memfungsikan nalar dan pikiran secara berimbang. Meskipun selama ini puasa dianggap sebagai cara yang paling ampuh untuk menundukkan hawa nafsu, tapi puasa tok tidak akan mampu mengantisipasi banal dan binalnya sekumpulan binatang yang mendekam dalam diri kita. Maka selain berpuasa di Bulan Ramadan, para ulama dan kiai-kiai kita biasanya mentradisikan mengaji dan menghatamkan kitab kuning.

Dengan kata lain, berpuasa dan belajar adalah dua hal yang harus dilakukan secara beriringan ketika seseorang betul-betul ingin menundukkan hawa nafsu dan kecenderungan setaniahnya. Mengontrol dan mentata pikiran dengan cara belajar dan mengaji secara tidak langsung juga mendorong fungsi pikiran untuk dengan sensitif menimbang segala hal sebelum ia diterjemahkan ke dalam sebuah pekerjaan dan sikap. Proses panjang berpikir dan menimbang norma inilah yang menjadi ruang pertarungan sisi kemanusiaan dan sisi kebinatangan dalam diri seseorang. Fungsi berpikir yang baik akan menjadi senjata untuk melumpuhkan liarnya sifat-sifat kebinatangan yang memang sudah menjadi karakter inti manusia sejak awal diciptakan oleh Allah Swt.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...