Ketika Seseorang Ragu Apakah Dirinya Punya Wudhu Atau Tidak, Ini Rumus Penyelesaiannya…

0
39
Ketika Seseorang Ragu Apakah Dirinya Punya Wudhu Atau Tidak, Ini Rumus Penyelesaiannya...

Harakah.idPunya wudhu atau enggak ya? Tadi kentut apa engga ya? Masih berhadas atau engga ya? Adalah pertanyaan-pertanyaan keraguan yang lumrah dirasakan oleh banyak orang. Dan ini cara menyelesaikannya…

Wudhu merupakan salah satu karakteristik umat beragama Islam. Pasalnya, beberapa ritual keagamaan mensyaratkan bersesuci terlebih dahulu sebelum melaksanakan ibadah. Beberapa kegiatan keagamaan yang tidak dibekali dengannya, pada akhirnya hanya berujung lelah dan letih, karena tidak sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh syari dalam hal ini Allah Swt. sebut saja sebagai contoh salat dan tawaf.

Terlepas dari perdebatan para pakar (ulama), di dalam melakukan wudhu ada beberapa langkah khusus yang ditempuh, di antaranya: membasuh wajah, membasuh ke dua tangan, mengusap kepala, dan terakhir membasuh kaki. Tata cara menghilangkan hadas kecil ini, tercantum dan dijelaskan dalam al-Quran surat al-Maidah ayat 06:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ 

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat maka basuhlah wajahmu, tanganmu sampai siku, sapulah kepalamu, dan (basuhlah) kedua kakimu hingga dua mata kaki, [al-Quran surat al-Maidah ayat 06].

Manusia sebagai al-insaan memiliki watak lupa, salah, bahkan  lengah (‘al-insaanu mahallul khoto’ wan nisyaan’). lupa-ingat sudah menjadi hukum kausalitas bagi umat manusia. Tidak peduli sekuat apa daya ingat yang dimiliki manusia pada akhirnya pernah mengalami lupa. 

Tak terkecuali dalam persoalan memiliki wudhu. Acap kali seseorang ragu-ragu terhadap kesucian dirinya (suci dari hadas kecil). Entah orang tersebut ragu-ragu tentang memiliki wudhu, atau ragu-ragu mengenai keberlangsungan wudhu yang telah dimiliki sebelumnya (apakah wudhu yang dimilikinya batal atau tidak?). 

Hadis atau al-Sunnah setidaknya sudah menjawab hal ini. Nabi saw. telah memberikan solusi jitu dan ampuh dalam memilih tepat bila terjadi keraguan dalam memiliki wudhu. Secara gamblang, Rasulullah saw. menyampaikan, seseorang yang meyakini dirinya suci kemudian bimbang apakah dirinya melakukan hal yang membatalkan, tidak lantas merubah keadaannya. Dengan kata lain, ia tetap suci:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِى بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَىْءٌ أَمْ لاَ؟ فَلاَ يَخْرُجْ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا  

Dari Abi Hurairah berkata, Nabi saw. bersabda: bila kalian merasakan sesuatu pada perut, kemudian membuat kalian bimbang apakah sesuatu telah keluar atau tidak? maka kalian jangan keluar masjid hingga benar-benar tampak suara atau baunya, [al-Sunan al-Kubra Li al-Baihaqy, I:117]

Melalui Hadis di atas Imam Nawawi menyimpulkan, ada kaidah umum yang ditangkap dari penggalan Hadis tersebut, yakni sejatinya sesuatu tetap dihukumi sebagaimana keadaannya hingga ada sesuatu lain yang diyakini telah merubahnya (al-asya’ yuhkam bi baqaihaa alaa usuulihaa hatta yutayaqqana khilaafu dzalik). Atau dalam redaksi berbeda namun serupa, keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan (alyaqiin laa yuzaalu bi alsyak).

Seseorang yang yakin telah memiliki wudhu kemudian ragu terhadap keberlangsungan wudhunya maka yang tepat, ia masih tetap dalam keadaan suci. Kaitannya dengan penerapan kaidah di atas adalah memiliki wudhu merupakan sesuatu yang telah diyakini, sementara ragu antara tetapnya wudhu atau tidak, merupakan perkara yang masih belum jelas (diragukan), alhasil ia tetap memiliki wudhu.

Begitu pula sebaliknya, bila seseorang yakin dengan kondisi hadasnya kemudian bimbang apakah ia pernah berwudhu atau tidak maka yang benar adalah belum melakukannya. Karena tidak suci merupakan kondisi yang diyakini, sementara pernah wudhu atau tidak merupakan sesuatu yang masih dipertanyakan, kesimpulannya ia belum suci dari hadasnya, [Tuhfah alAhwadzi I:208].